An Ordinary Girl with a Million Dreams

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tanganku = Kiamat bagi Gadget



Aneh kan judulnya? Yah, memang aneh. Tapi aku ga tau mau nulis judul apa lagi. Sekian lama ga ngeblog, jadi aku mau curhat aja kenapa aku ga ngepost apapun...

Pertama....

Ga ada passion. Yap, entah kenapa aku lagi ga semangat banget ngelakuin apapun. Jadi passive banget. Tugas kukerjain pas deadline-nya aja. Setiap hari palingan download drama, kalau ga variety shownya MBLAQ (yap, sekarang no more Suju. No more other boyband, just mblaq). Trus nonton kalau ada waktu luang. Atau bahkan main game dan download komik. Bener-bener waktu dipakai ga guna banget deh.

Kedua....

Aku gila-gilaan ngambil organisasi. Aduh biyuuung... ga lagi-lagi deh. Pertama, aku ngambil BEM. Kedua, ngambil DKM. Ketiga, ngambil KPU. Dari masing-masingnya ada proyek-proyek sendiri. Di BEM aku bertanggung jawab urusan Booklet (checklist!), Website (checklist!), dan terakhir Mading (no checklist TT-TT).  Di DKM aku ikutan KIMM (Komunitas Ilmiah Mahasiswa Muslim), trus jadi koor buat acara PEDAS (Pemuda Islam Harus Cerdas), dan menjadi koor pubdok FIF 2012 (FISIP Islamic Fair 2012) dan sekarang menjadi salah satu pementor MAI. Di KPU aku jadi koor bagian publikasi video. Hah... bunuh diri ini namanya.

Ketiga....

Fakta bahwa aku mahasiswa HI. Hubungan Internasional kelihatannya aja keren, tapi tahu tidak hampir setengah mahasiswanya berusaha kabur alias ganti jurusan pas naik ke tahun kedua? Alasannya, living in HI just like living in hell! Tugasnya.... oh, kalian takkan bisa membayangkan! Sepertinya HI harus bikin penerbitan sendiri, karena hampir tiap hari pikiran kita terkuras oleh makalah, essay, paper, dan lain-lain. Dan dosennya, hampir setengahnya jalan berpikirnya tidak seperti jalan berpikir manusia biasa. Mereka manusia luar biasa kali... haha... Antara bakal masuk apa tidak, kehadiran diganti dengan tugas... and so... so...

Keempat....

Ini yang mendasari judul postingan kali ini. Belakangan ini baru kusadari gadget apapun yang kepemilikannya berpindah padaku, setidaknya pertanggungjawabannya, semuanya hancur. Bukan hilang lagi, hancur. Dari Blackberry yang sekarang dipakein selotip disekelilingnya karena chasingnya hancur, sama tiga laptop dalam jarak kurang dari dua tahun. Tiga. Ga pake bohong. Korban pertama (identitas: axioo warna putih) hancur LCD-nya gara-gara dijatuhin dari lemari ditambah ditekan oleh siku adik bungsuku tercinta sehingga sempat dipakai perban (baca karet ban) disekeliling LCD supaya bisa nyala, dia berakhir di Axioo center dan menghabiskan hampir satu juta untuk ngebetulinnya lagi. Korban kedua (identitas: lenovo mini warna hitam) jatuh dari meja kampus, LCD nya rusak, habis itu ga tau gimana ceritanya, beberapa huruf keyboardnya ga bisa ditekan, buat penggerak kursornya rusak kena air, windows nya tak mau jalan kecuali dalam keadaan safe mode, dan terakhir antara layar.... dan keyboard.... hampir putus... zzz...zzz... korban ketiga (identitas: axioo warna hitam), ga tau kenapa bagian pinggir chasing layarnya terbuka, bagian penyambung antara layar dan keyboard patah serta kursornya ga bisa klik kanan. Aku sudah membunuh tiga laptop dengan cara yang sadis. Huahaha... *ketawa hampa*. Laptop sekarang yang sedang ada di tanganku (identitas: Hewlett-Packard mini warna hitam), jangan sampai menjadi korban, karena yang ada aku juga dibunuh duluan oleh ortu.... *author menangis dalam kegelapan*

Tidak ada komentar: