An Ordinary Girl with a Million Dreams

Sabtu, 27 Oktober 2012

Palestine as a Goal: perspektif Religik




Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun menggandeng tangan ayahnya, mereka baru pulang dari pasar. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan makan malam apa yang akan dibuat oleh ibunya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari samping mereka. Mereka menoleh, seseorang dengan pakaian hitam berteriak menyuruh mereka menyingkir. Si anak laki-laki kebingungan, sang ayah langsung menyadari apa yang terjadi. Mereka terperangkap dalam baku tembak dua pihak yang saling bermusuhan, Hamas dan Israel. Suara tembakan terus meletus, sang ayah yang panik menarik anaknya dan dirinya bersembunyi di balik tempat sampah. Ia berteriak meminta dua pihak itu berhenti. Satu pihak meminta gencatan senjata sementara, satu pihak lagi melanggar gencatan senjata tersebut dan menganggapnya sebagai keuntungan. Mereka menembaki lawan mereka yang tak bisa mengangkat senjata, memuntahkan seluruh peluru mereka, termasuk kepada anak laki-laki itu. Sang ayah yang memegang tubuh anak laki-lakinya yang kini terbaring kaku dalam dekapannya, hanya bisa meratap. Beberapa hari kemudian, berita itu sampai ke telinga dunia internasional. Muhammad Al-Durra, nama anak itu. Peluru yang bersarang di dadanya dipercaya milik Israel.

Sejak masih kecil saya selalu disuguhi kisah-kisah perjuangan penduduk Palestina. Dari tontonan, bacaan, semuanya selalu berbumbu hal-hal diatas. Saya yang masih berusia sepuluh tahun berkata, “kasian sekali mereka.” Saya yang berusia tiga belas tahun berkata, “dasar Israel jahat! Semoga masuk neraka!” dan saya yang dua puluh tahun, mahasiswa HI, berkata, “Dunia itu anarki. Semua bisa menjadi korban bagi kepentingan politik beberapa pihak.” Tapi hal tersebut tak menjadikan saya kehilangan keyakinan saya, bahwa meskipun dunia itu anarki, tindakan yang melukai hak-hak orang yang tak bersalah itu benar.

Saya masuk HI karena keyakinan tersebut, keyakinan yang tadinya hanya mengawang dalam empati saya terhadap mereka, kemudian menohok saya ketika mendengar seorang ibu paruh baya yang rumahnya baru digusur berteriak kepada kameramen yang merekamnya, “Katanya kita itu bersaudara! Katanya kita bagaikan satu tubuh, satu tersakiti dan semua merasakan sakitnya! Tapi dimana kalian saat kami kehilangan suami dan anak-anak kami? Dimana kalian saat kami kehilangan tempat tinggal dan harta kami?”

Ibu itu berteriak pada saya.

Apa yang saya lakukan disini, hanya menonton, berempati dan marah-marah tak jelas dan tak berefek. Saya sadar bahwa tak bisa selalu menyalahkan Israel atau siapapun yang bertindak sebagai orang jahat dalam tontonan tersebut. Perjanjian Camp David, Pemutusan boikot minyak, dan apapun yang mendukung diteruskannya penindasan tersebut melibatkan egoisme dan keserakahan orang-orang yang seharusnya menolong ibu tersebut. Dan saya tahu tujuan saya, saya harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka. Kewajiban yang datang dengan bersamaan dengan keyakinan tersebut. Bukan hanya menjadi orang yang menonton, dan merasa kasihan. Namun menjadi seseorang yang memiliki pengaruh dan bisa berkontribusi baik meskipun hanya sedikit sebelum saya mati. Saya percaya bahwa menolong mereka adalah kewajiban bagi saya, bagi orang lain, bagi semuanya. Sekali lagi karena itu saya masuk HI, mencari cara dan solusi, untuk melakukan sesuatu, bagi mereka.

Tidak ada komentar: