An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 19 Januari 2011

Convinient High School chapter 16 (Ending)


Dylan segera pergi dengan beberapa tim pasukan khusus. Ia bergerak lebih dahulu sementara Seiji memimpin evakuasi. Ia menemui Rifki yang sudah menunggunya di depan lukisan.
Dengan jempolnya Rifki menunjuk lukisan. Dylan mengangguk paham. Ia segera bersiaga di samping lukisan sementara Rifki membuka lukisan itu. Setelah dibuka, terlihatlah pintu kecil yang bisa didorong.
Dylan mengambil acang-acang untuk masuk lebih dahulu. Ia mendorong pintu dari kayu itu, dan melompat masuk dengan amat hati-hati. Rifki menyusul di belakangnya. Kemudian seluruh tim masuk.
Begitu masuk mereka dihadapkan dengan ruangan yang diterangi banyak lampu gantung dan lilin. Banyak laci-laci berkas di kiri dan kanannya. Dinding-dindingnya banyak sobekan-sobekan kertas koran yang memberitakan berita yang sama. Kejadian kematian selruruh keluarga Lyla 10 tahun yang lalu.
Tapi Dylan dan Rifki tak punya waktu untuk melihat-lihat. Mereka menyusuri ruangan itu dan tiba di sebuah tempat dimana mereka semua mematung.
“Yang benar saja!” seru Dylan terkejut melihat beberapa monitor di depannya. Rupanya pembunuh itu juga sudah memasang beberapa kamera di beberapa ruangan penting di sekolah. Ia juga melihat kamera dipasang di depan pintu masuk ruangan rahasia ini.
Rifki menyalakan komunikatornya untuk menghubungi Seiji, “Seiji-san... percepat evakuasi, pelaku sudah tahu rencana kita...”
Dylan menendang dengan kesal kursi di depannya. Situasi buruk itu diperparah dengan pesan yang masuk ke komunikator Dylan.
“Sir... Nona Lyla William menghilang...”
©©©
“Bagaimana dia bisa kabur?!” seru Seiji setelah tergopoh-gopoh menghampiri Rifki yang sedang mengkoordinisir tim untuk mengumpulkan barang bukti.
“Ada pintu keluar rahasia yang lain,” jawab Rifki.
“Lalu bagaimana Lyla bisa menghilang?” tanya Seiji.
Rifki tak menjawab. Ia hanya memandang sinis pada Homer dan Simon yang sedang berdiri di sudut.
Homer dan Simon  mendapat tatapan tajam dari Seiji dan bergidik. Mereka baru saja mendapat ‘teguran’ Dylan, yang hampir bisa membuat mental mereka jatuh seketika.
Tapi Seiji sepertinya sedang dalam kondisi tak mood memarahi kedua petugas itu, “Mana Dylan?”
“Dia bilang mau melacak keberadaan Lyla...” jawab Rifki.
Seiji melotot, “Apa?! Kenapa kau biarkan dia sendiri?!”
Rifki kaget dengan respon Seiji, “Memangnya kenapa?”
Seiji mengacak-acak rambutnya sendiri frustasi, “Sial! Bocah itu!”
©©©
Lyla duduk di sebuah kursi di perpustakaan. Kursi yang sama yang dulu didudukinya ketika terakhir kali ia mengunjungi perpustakaan bersama Dylan. Namun kali ini bukan Dylan yang ada di hadapannya. Melainkan seorang pria aneh yang melemparkan buku-buku ke depannya. Semuanya Buku Alumni.
“Kau tahu ini siapa? Ini Ayahmu! Lihat dia! Wajahnya begitu sombong dan arogan bukan??!” seru pria itu menunjuk foto seorang pemuda yang tampan dan memikat.
Lyla hanya mengintip sedikit kebuku itu. Ia sebenarnya bisa saja lari kabur karena tak diikat, tapi pria itu bisa menembaknya dengan mudah.
“Lalu ini, kau tahu dia siapa?” pria itu menunjuk foto seorang wanita asia yang manis, “Dia... wanita yang sangat kucintai....”
Pria itu tiba-tiba menangis keras. Lalu berhenti menangis kemudian berwajah marah. Kemudian kembali tergugu sedih sambil menangis sampai seluruh wajahnya basah. Kemudian kembali marah dan memukul-mukul meja sambil menyingkirkan semua benda yang ada di meja hingga berjatuhan ke lantai dengan suara keras.
Ketika pria itu mulai tenang dari ‘kegilaannya’, Lyla bertanya, “Siapa kau sebenarnya?”
“Kau tidak kenal denganku?!!” seru pria itu. Ia lalu tertawa terbahak-bahak, “Hahahahaaaa.... masa kau tidak kenal denganku?!!!”
Lyla menyipit. Ia ketakutan tapi ia berusaha tak menunjukkannya di hadapan pria itu, “Aku tahu kau Larry. Tapi kau bukan Larry yang kukenal.”
Larry, pria yang dikenal Lyla sebagai pria kecil berkacamata dengan kulit berbintik-bintik, senyum yang ramah, dan ucapannya terbata-bata, sekarang terlihat seperti orang gila yang menyeramkan.
“Hahahaha.... aku memang Larry gadis sial!” tawa Larry. Ia menghentikan ketawanya, mendekati wajah Lyla dan menatap gadis itu dengan matanya yang penuh kebencian dan sebuah seringai, “Larry Willson!”
Lyla menelan ludah, ia mencoba tampak kuat, meski sekarang lututnya lemas bukan main, “Apa salahku padamu Larry?! Kenapa kau melakukan ini semua?!”
Larry terlihat sangat marah, “Kau tak tahu?! Kau tak tahu apa salahmu?! Itu karena kau ada! Karena kau hidup! Kau bisa bahagia sementara aku hidup berpuluh-puluh tahun dalam siksaan! Menyembunyikan diri! Sementara kau dipungut oleh keluarga yang kaya raya dan hidup enak!”
“Apa maksudmu?!”
“Kau masih tak tahu?!” bentak Larry, “Willson! Will! Tidakkah nama itu terdengar familiar di telingamu? Seseorang yang sangat kau benci?!”
Lyla menegang. Will... will... kejadian sepuluh tahun lalu yang sering terulang dalam setiap mimpi buruknya pun teringat lagi olehnya. Teriakan ayahnya seolah diputar lagi dalam otaknya...
“Tidak... kumohon jangan, bunuh saja aku Will! Jangan mereka!”
“K... kau....”
Larry kembali menyeringai, “Larry, itu nama kakekku. Nama yang kugunakan untuk bersembunyi dan menyamar menjadi pemuda bodoh berusia 17 tahun. Dan aku adalah will-son. Seseorang yang terlahir kembali dari pria menyedihkan bernama Will. Aku hidup lagi! Dengan wajah mengerikan yang harus kututupi dengan topeng silikon yang menyebalkan ini!”
Lyla hampir saja menjerit ketika Larry sepertinya akan menarik dan menyobek wajahnya sendiri. Tapi rupanya dibalik ‘wajahnya’ itu ada wajah lain. Sekarang Larry menjelma menjadi pria tua dengan wajah setengah hangus terbakar.
“Ini mahal sekali dan sekarang sepertinya sudah tak berguna lagi. Tapi tak apa...”, kata Larry sambil memandangi topeng silikonnya yang ia sobek paksa dengan senyum dingin. Ia lalu menatap Lyla dengan tatapan yang membuat Lyla langsung merasa tak enak, “... karena aku tak membutuhkannya lagi. Aku akan segera membunuhmu dan menyelesaikan semuanya.”
Lyla terpaku. Ia merasa dejavu. Seseorang yang sama dengan sepuluh tahun yang lalu, kembali menodongnya dengan pistol. Saat itu ia masih tak mengerti. Sekarang ia tahu, nyawanya sedang di ujung tanduk.
“Stop sampai disitu, Larry!” seru seseorang dari balik rak-rak buku. Seiji, tengah menodongkan pistol padanya.
Larry terlihat kaget. Namun ia kemudian tersenyum sinis, “Kau lupa. Aku bisa saja telah menembak gadis ini lebih dulu....”
“Jika kau melakukannya aku akan segera membunuhmu!” bentak Dylan  juga yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Wajahnya terlihat sangat marah. Ia melihat Lyla yang terlihat sangat pucat. Matanya kemudian menangkap Seiji yang tersenyum penuh arti padanya.
“Coba saja!” tantang Larry, ia sudah menarik pelatuk pistolnya.
“Larry Willson!” teriak Dylan.
“Hei, nak!” panggil Larry pada Dylan dengan tangan masih teracung lurus hendak menembak Lyla, “Bagaimana kau bisa menemukanku?”
“Itu karena kau yang memintaku...” jawab Dylan dingin.
“Aku yang meminta? Bagaimana bisa?” tanya Larry bingung.
“Di tangga. Saat mau menuju tempat Lyla dikurung. Kau memintaku melindungimu dari Nicole. Aku sudah berjanji, makanya aku menempelkan alat pelacak di tengkukmu tanpa kau sadari,” jelas Dylan, dengan pistol di tangannya mengarah pada Larry.
Larry mengelus-elus tengkuknya dengan perlahan sedangkan pistolnya masih mengancam Lyla. Ia akhirnya dapat menemukan sebuah stiker kecil, “Ah benda ini rupanya.”
“Aku bisa menemukanmu dimanapun kamu berada. Benda itu mencegahku untuk mengetahui bahwa kau lah yang telah meracuni Nicole. Tapi benda itu akhirnya membuatku bisa tahu kemana saja kau pergi.”
“Bajingan kecil. Sama sepertimu. Apa kau pikir aku tak tahu kalau kau anak Jhonny?”
“Berhenti bicara!” seru Dylan yang tak ingin Lyla mendengar yang sebenarnya.
“Aku bisa langsung mengenalimu dari wajahmu itu. Sangat mirip sekali dengan wajah ayahmu. Aku yakin kejeniusanmu juga menurun darinya. Benda ini, Jhonny juga sangat suka membuat benda-benda seperti ini. Itu yang membuatnya di jauhi seluruh sekolah saat kita masih sekolah disini...”
“Hentikan!” raung Dylan. Ia mulai memegang pistolnya dengan gemetaran. Seiji memandangnya dengan cemas. Ia takut Dylan lepas kendali.
“...aku dan Jhonny bersahabat. Aku, Jhonny, dan seorang lagi... seorang wanita yang sama-sama kami cintai....” Larry terlihat menerawang. Kemudian menatap Lyla dengan tatapan murka, “Tapi ayahmu membunuhnya! Membunuh wanita yang kucintai! Semua orang mengatakan itu kecelakaan! Tapi itu pembunuhan! Ayahmu mendorong wanita yang kucintai dari tangga sekolah terkutuk ini!”
Dylan langsung teringat percakapan Ibu-ibu di Departmen Store. Tentang seorang gadis yang meninggal 27 tahun yang lalu karena dibunuh.
“Tidak... itu tidak mungkin...” bantah Lyla.
“Kenapa gadis kecil? Daddy tak mungkin membunuh orang heh?” sindir Larry, “Tapi nyatanya ya! Albert membunuh Sophie hanya karena Sophie menentangnya terus menerus mengerjai kami! Dia bertengkar di ujung tangga, dengan Sophie-ku lalu mendorongnya!”
“Larry, cukup! Hentikan! Kau harus ikut kami!” perintah Seiji.
“Kau bisa melanjutkan ceritamu nanti di penjara!” ujar Dylan tajam, “Jatuhkan pistolmu!”
“Kalian semua tak pernah merasakannya...” ucap Larry dengan hampa, kemudian berteriak marah, “KALIAN TAK TAHU!”
“Aku tahu...” isak Lyla sambil menatap Larry marah, “Aku tahu rasanya berkat kau. Kau membunuh orang tuaku, kakakku, keluargaku, semua yang kukenal... karenamu aku jauh lebih tahu rasanya.”
“Karena kau pantas merasakannya!” seru Larry, “Albert malah menikah dengan Ibumu dan melahirkan kau! Padahal sedari dulu Sophie-ku mencintainya! Ia malah membunuhnya! Sophie-ku selalu mencintainya dan berusaha membuatnya mengerti kalau menjadi murid populer yang selalu menindas murid yang lemah itu bodoh! Sophie-ku.... satu-satunya orang yang menerimaku...”
Lyla menggeleng, “Salah... itu salah!”
“Diam kau!” bentak Larry marah tangannya bergoyang seakan siap menembak Lyla.
“Tahan!” teriak Seiji cemas. Ia melihat Dylan hampir saja mau menembak Larry.
Larry melihat gelagat Dylan yang panik dan tersenyum sinis, “Kenapa nak? Kau mau melindungi gadis ini? Persis mengikuti ayahmu?”
“Apa yang kau bicarakan?!”
“Ayahmu membuang nyawanya hanya demi gadis tak berguna seperti dia. Apa ia masih berarti untukmu, sehingga kau juga rela mati demi dia?”
Dylan mempererat genggamannya di pistol, “Kau takkan pernah tahu.”
Tiba-tiba Larry tertawa, lalu memandang Dylan dengan tatapan mengejek, “Hahahaha.... bodoh! Apakah kau tahu siapa yang membunuh ayahmu?”
Dylan tegang, “Siapa?”
“Aku...”
DOR!
Dylan dikuasai kemarahan yang mampu membuatnya menembak Larry tanpa pikir panjang. Namun sayang tembakannya meleset jauh karena tangannya gemetar. Larry pun segera berkelit dan menghilang di balik rak-rak buku raksasa.
“Ya Ampun! Dasar bodoh! Bodoh!” maki Seiji pada Dylan, ia segera lari mengejar Larry.
“Jangan membuatku kesal, tanganku sedikit bergoyang tadi!” elak Dylan.
“Yang benar saja!” teriak Seiji dari balik rak-rak buku.
Dylan segera menarik Lyla, dan mengajaknya keluar dari perpustakaan. Tapi sebuah lemari besar jatuh di depan mereka dan menghalangi pintu keluar. Dylan segera menyuruh Lyla menunduk karena Larry menembaki mereka berdua. Larry langsung menghilang lagi ketika Seiji hampir menembaknya.
Dylan menyuruh Lyla bersembunyi kolong meja paling dekat dengan pintu keluar, “Jangan coba-coba bertindak ceroboh dan bodoh!”
Lyla mengangguk paham.
“Seiji lindungi aku!” seru Dylan saat mencoba menyingkirkan lemari besar itu.
“Kuusahakan!” balas Seiji yang sedang baku tembak dengan Larry.
“Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku nak!” teriak Larry, “Meski kakiku patah, aku akan tetap menuntaskan dendamku!”
“Sayangnya kau akan mati sebelum kakimu patah!” seru Seiji yang berusaha menembak Larry, namun hanya kena tumpukan buku, “Kau sudah banyak berdosa Larry Willson! Kau tak hanya ingin membalaskan dendammu! Kau juga melakukannya pada orang yang tak berdosa lainnya!”
“Terry Landstorm! Anak dari Reynold Landstorm! Pria yang merendamku dalam kubangan kotoran hewan dan tak mengizinkanku keluar selama seminggu dan membuatku menderita infeksi pernapasan akut! Peter Brown! Putra dari Gregory Brown! Pria yang menggantungku di pohon secara terbalik 3 hari berturut-turut! Membuatku hampir terkena gejala stroke di usia 18 tahun! Dan Nicole Jhonshon! Putri dari Sara Blyton! Wanita yang mencelakai Sophie tak hanya sekali! Berkali-kali!”
“Semua orang...” ucap Dylan sambil berusaha mengangkat rak, sambil sesekali merunduk dan membalas tembakan Larry, “... tak bisa memilih orang tua yang melahirkannya...”
Seiji menatap Dylan, yang sepertinya sudah menemukan jawaban dari depresinya selama ini. Namun ia disadarkan kembali oleh desingan peluru yang melewatinya. Ia berteriak pada Dylan dalam Bahasa Jepang, “Aku akan menyeret Larry ke bagian belakang perpustakaan! Kau usahakan untuk segera membawa Lyla pergi dari sini!”
“Sedang kulakukan!” balas Dylan kesal.
Seiji kemudian mulai gencar menembaki Larry sampai Larry tersudut. Mereka pergi menjauh dari dekat Dylan dan Lyla.
DOR! DOR!
Tedengar suara tembakan silih berganti. Saat Dylan sudah berhasil mengangkat lemari besar itu, suara teriakan kesakitan membahana. Dylan tegang. Itu suara Seiji.
Dylan berusaha berlari ke tempat Lyla, namun tiba-tiba muncul asap tebal memenuhi seluruh ruangan. Baunya membuat Dylan tersentak. Ini gas tidur!
Meski ia sudah menutupi hidungnya dengan jasnya, tapi tetap saja ada sedikit udara yang terhirup dan masuk ke dalam tubuhnya. Matanya mulai berat dan ia mulai merasa lemas. Sebisa mungkin ia lawan dan berusaha tetap sadar.
“LYLA! TAHAN NAPASMU DULU!” seru Dylan ketika ia mulai tak bisa melihat sekeliling karena tertutup asap tebal. Ia menyiagakan pistolnya. Larry sudah berhasil menembak Seiji, berarti sekarang ia lebih berbahaya.
“LYLA!” teriak Dylan.
Namun bukannya suara Lyla yang membalas, namun suara tawa yang membahana dan terdengar sampai seluruh ruangan yang terdengar, “HAHAHA! AMBIL DIA DARI TANGANKU JIKA KAU BISA, BOCAH!”
Dylan panik. Ia tak bisa asal menembak karena ruangan perpustakaan benar-benar tertutup dengan asap, dan matanya juga sudah mulai berkunang-kunang. Ia bisa mengenai Lyla.
Tangannya mulai meraba dinding, mencari sesuatu yang bisa menghilangkan setidaknya asap-asap ini. Dan ia berhasil menemukannya!
Dylan memecahkan kotak besi tertutup kaca yang menempel di dinding dengan sikunya. Sekali ia gagal dan malah melukai sikunya yang terkena ujung kotak besi itu hingga berdarah. Pandangan matanya mulai kabur tapi pikirannya menolak untuk menyerah. Ia berusaha sekali lagi tapi masih saja gagal karena tak bisa melihat. Lagi dan lagi hingga sikunya robek. Ketika ia hampir roboh, ia mencoba untuk terakhir kalinya....
KRIIIINNNGGGG!!!!!
Suara sirine kebakaran langsung berbunyi setelah Dylan berhasil menekan tombol berwarna merah di dalam kotak besi itu. Dari atap langsung otomatis menyembur air yang biasa digunakan untuk memadamkan api. Air itu mulai menipiskan asapnya dengan sangat cepat.
Air itu juga membuat kesadaran Dylan kembali. Sementara suara Larry yang berteriak kesal terdengar juga.
Dylan berlari ke sumber teriakan. Disana ia mendapati Larry menjadikan Lyla tameng tubuhnya. Di belakangnya ada Seiji yang sudah terkapar dengan darah mengucur keluar dari dadanya.
“Dylan...” rintih Lyla.
“Lepaskan dia!” geram Dylan menodongkan pistolnya ke arah Larry.
“Harus kukatakan nak, ini pernah terjadi padaku. Ketika kau menaruh harapanmu dalam satu tembakan. Dua tembakanku kusia-siakan untuk membunuh orang yang melindungi gadis ini. Sekarang terbalik. Gadis ini yang akan melindungiku darimu! Jadi apa yang akan kau lakukan nak?”
“Kuberitahu! Aku akan menembakmu dalam satu tembakan! Peluruku akan langsung lurus menembus tempurung otakmu! Kau akan mati dalam hitungan 20 detik!”
Larry tersenyum sinis, “Kau sangat pintar, jadi kau tahu itu akan sangat sulit. Kenapa kau tak menembak gadis ini lebih dahulu lalu menembakku? Bukannya tugasmu hanya menangkapku?”
“19... 18... 17...”
“Coba saja! Ketika kau menarik pelatuk pistolmu, aku juga menarik pelatuk pistolku...”
“15... 14... 13... 12...”
“...Ketika kau sudah bersiap menembak, begitu pula denganku....”
“10... 9... 8... 7...”
“...Dan ketika peluru masing-masing dari kita keluar dari sarangnya....”
“6... 5... 4...”
“....Mana yang lebih dulu tiba? Pelurumu di kepalaku, atau peluruku di leher cantik gadis ini?”
“2.... 1!”
DOR!
Lyla memejamkan matanya. Ada cairan kental yang menetes ke lengannya. Ia gemetar. Darah!
Namun ia kemudian menyadari cairan kental itu bukan darahnya.
Begitu pula Dylan. Ia terpaku mendapati pistolnya macet karena rusak tersiram air. Suara tembakan itu berasal dari mana?
Larry lain lagi. Ia merasakan sesuatu yang panas menembus rongga dadanya. Bersemayam dalam tulang rusuknya. Darah kental pun mengalir keluar. Ia tertembak!
“Peluruku... di paru-parumu....” rintih seseorang.
Seiji menjatuhkan pistolnya yang barusan ia gunakan untuk menembak Larry. Ia tertawa pelan meski kemudian memegangi dadanya lagi.
Larry roboh, begitu pula Lyla yang terduduk lemas. Dylan menjatuhkan pistolnya. Ia langsung lari memeluk Lyla, dan menariknya menjauh dari Larry yang sedang sekarat.
Tapi Lyla menolak. Ia malah mendekati Larry sambil menangis.
Di antara kesadaran Larry yang diambang batas ia mendengar Lyla bicara.
“Kau salah... Ayahku tak pernah berhenti mencintai Sophie. Ia menikahi Ibuku karena mirip dengan Sophie. Dalam tidurnya ayahku selalu dihantui mimpi buruk tentang malam meninggalnya Sophie. Aku mendengarnya, Ibuku mendengarnya, nama Sophie selalu disebut ayah di tengah malam dalam tidurnya. Meski ia sudah menikahi ibuku, Sophie tetap dalam hatinya.... Ayah, tak pernah benar-benar membunuhnya.... itu murni kecelakaan....”
“Salah...” gumam Larry sambil menangis menahan rasa sakit, “27 tahun hidupku.... dalam kesalahan...”
Dylan langsung menarik Lyla lagi saat ia melihat Larry masih mengangkat pistolnya, “Lyla, awas!”
“... Sophie-ku...” kata Larry saat ia mengarahkan pistolnya sendiri ke kepalanya. Ia memejamkan mata....
DOR!
Dylan menutup mata Lyla. Seiji juga memalingkan wajahnya. Hanya Dylan yang melihat bagaimana Larry langsung kehilangan nyawanya saat itu juga. Saat dimana pelurunya benar-benar menembus kepalanya.
©©©
“Kepala Sekolah bodoh!” rutuk Dylan ketika mendapat perawatan terhadap sikunya yang luka di rumah sakit Carlisle, “Seharusnya dia merancang alat pemadam kebakaran yang langsung nyala dengan otomatis begitu muncul asap! Benar-benar ketinggalan zaman!”
“Berhentilah mengeluh...” sahut Seiji yang terbaring lemah tak berdaya begitu sadar dari operasi pengambilan peluru, “Kau hanya lecet ringan di siku! Aku hampir mati!”
“Yang penting kau tak mati bukan?” balas Dylan.
Seiji menghembuskan nafas kesal dan tak percaya. Bisa-bisanya aku menyerahkan jabatanku pada bocah itu.
Tak lama kemudian Rifki datang ke bangsal perawatan mereka, “Aku sudah menyelesaikan semuanya.”
“Baguslah. Satu-satunya yang ku ingin lakukan saat ini adalah istirahat...” lirih Seiji.
“Sebaiknya kau tunda dulu istirahatmu,” ujar Dylan memandang ke arah seorang wanita cantik berjilbab dengan perut buncit yang baru masuk ke dalam bangsal. Heo Yi Jae. Istri Seiji.
Seiji menelan ludah, “Oh.. hi sayang....”
Heo Yi Jae memandang Seiji dari balik matanya yang bening dengan marah, kemudian menatap Rifki yang salah tingkah, lalu Dylan yang tersenyum jail.
“Yakuza, FBI, atau dua-duanya?” tanyanya langsung.
“Hanya FBI,” jawab Seiji cepat, “Benar!”
“Jujurlah... kau hanya tak bisa menahan diri atau kau memang selama ini berbohong padaku?”
“Bukan begitu....” Seiji memelas, “Aku terpaksa...”
Yi Jae berbalik menatap Rifki, “Rifki, kau kah yang memaksa dia?”
Rifki cepat-cepat menggeleng.
Tatapan Yi Jae beralih ke Dylan, “Jangan bilang kalau kau anggota FBI juga...”
Dylan mengangkat bahu, “Saat ini aku bukan.”
“Saat ini?” tanya Yi Jae kemudian mendesah kesal, “Yang benar saja!”
“Yi Jae...”
“Apakah tak ada satupun temanmu yang bukan FBI? Tak ada satupun keluargamu yang bukan Yakuza?” omel Yi Jae.
“Ada kok!”
“Pria yang memberi parsel di tahun baru?”
“Itu Kyosuke, dia.... mantan anak buahku...” aku Seiji.
“Wanita yang memberi buah saat aku sakit?”
“Ah... Helen Hogan... dia... mmm... partner mata-mata Rifki.”
“Tetangga yang membantu memperbaiki genting di malam setelah kita pindah ke Jeju?”
“Itu, dia... cuma memastikan rumah kita aman atau tidak...”
“Pria yang membetulkan pipa ledeng?”
“Kalau itu benar-benar tukang ledeng!” seru Seiji mantap.
“Ck! Aku tak mau tahu lagi...!” rutuk Yi Jae kesal keluar dari bangsal perawatan dengan cepat.
Mata jeli Dylan mengawasi kepergian Yi Jae, entah kenapa ia merasa ada yang aneh dari sosok Yi Jae. Terutama pada kehamilannya.
“Ah! Istriku, tunggu!” teriak Seiji buru-buru turun dari kasur, namun terjerembab jatuh ke kolong kasurnya.
“Bodoh,” ucap Dylan dan Rifki bersamaan.
“Siapa yang bodoh?” tanya seseorang yang tau-tau masuk sambil menaiki kursi roda, dengan didorong oleh Lyla. Nick.
“Ah, Seiji-san!” seru Lyla melihat Seiji yang terjerembab jatuh dan tak ada satupun yang menolongnya. Ia segera menghampiri Seiji dan membantunya naik kembali ke kasur, “Kalian ini bagaimana sih? Kenapa hanya diam?”
“Salahnya sendiri,” balas Dylan tak acuh.
Rifki kemudian menatap Nick, “Sudah baik?”
Nick menunjukkan kakinya, kepalanya, tangannya, dan hampir seluruh tubuhnya dibebat perban dan gips, “Aku merasa seperti robot mumi.”
“Yang penting kau tak mati bukan?” Seiji mengulang pertanyaan Dylan untuknya ke Nick.
“Seiji-san!” tegur Lyla.
“Tunanganmu yang mengajariku!” ucap Seiji kesal.
“Bagaimana Nicole?” Dylan mengalihkan topik.
“Dia sudah sadar. Tapi ia ingin bersama Mom dan Dad saat ini. Mereka sedang di bangsal perawatan sekarang,” jelas Nick, “Waktu itu dia membiarkan Larry masuk karena Larry bilang padanya kalau ia punya surat dari Mom.”
“Ceroboh....” gumam Dylan pelan, “Kau juga sama.”
Nick cuma memandang kesal padanya, tapi berusaha mengacuhkan Dylan, “Aku masih tak menyangka Larry yang membunuh Terry dan Peter, juga yang meracuni Nicole dan mencelakaiku. Aku masih berpikir dia itu Larry, ya kan?”
“Dia bukan Larry, nama aslinya adalah William Chamberlain. Seorang pria berusia 52 tahun yang gila dan psikopat,” ujar Seiji.
“Tapi bagaimana bisa dia membunuh semua orang dengan mudahnya?”
“Kalau seseorang sudah dendam, takkan ada yang bisa menghalanginya. Dia sudah merencanakannya selama bertahun-tahun jadi tinggal melaksanakannya saja,” sahut Rifki.
“Dia jatuh cinta pada sahabatnya, Sophie Yang, malah terobsesi...”
“Makanya dia menulis pesan-pesan calon korban berikutnya dengan Hangul, bahasa tanah kelahiran Sophie, seolah-olah yang membalas dendam itu adalah Sophie...”
Nick manggut-manggut paham. Ia memandang Dylan dengan tersenyum, “Untung ada kau! Takdir tuh memang aneh.”
“Ya, untung ada aku!” balas Dylan jengkel. Ia benar-benar masih kesal soal Nick yang membawa jalan-jalan Lyla tanpa seizinnya.
“Takdir emang aneh, coba saja... Lyla dibunuh keluarganya oleh teman dari ayah Dylan, kemudian ditampung oleh keluarga Dylan dan ditunangkan dengannya.... pergi ke sekolah dimana justru ia malah menghampiri psikopat yang mau membunuhnya... Dylan datang, dan hebatnya dia adalah FBI... kalau ini dijadikan cerita mungkin akan best seller,” pikir Seiji.
“Tutup mulutmu.” Ucap Dylan ketus.
“Sayangnya jika bukan Lyla yang tokoh utama wanitanya aku pasti sudah jadi tokoh utama prianya, karena akulah yang membunuh Larry dan terbaring sekarat disini,” Seiji tak kapok.
“Kau mau diam tidak! Atau aku akan jadi tokoh antagonis yang meracuni cairan infusmu!” seru Dylan.
“Ah jangan begitu....” goda Seiji menatap Dylan dan Lyla jail, “Memangnya siapa yang sudah kehilangan akal dan sangat panik langsung buru-buru menuju tempat Lyla disandera begitu tahu Lyla hilang?”
Lyla langsung menatap Dylan tak mengerti. Sementara Dylan bangkit, “Seiji Amano! Mati kau sekarang!”
FIN???
Sumpah... ending yang amat sangat aneh. Saya tak bisa membuat ending, jadi harap maklumi saya saudara-saudara kalau endingnya sangat ga jelas begini.
Hiks.... hiks.... berpisah dengan Dylan cs...
Aku kan bakal mau ikut ujian SNMPTN, mau fokus dulu...
Jadi serial Dylan sampai disini dulu ya! Tapi tenang saja sudah ada rencana lanjutan cerita Seiji cs...

Epilog 1:
Rifki keluar dari gedung Convinient High School. Sebelum melangkah keluar gerbang sekolah yang akan dirombak ini, ia menatapnya sekali lagi. Tersenyum pelan. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. E-mail masuk. Dari Ketua Divisi Mata-mata:
Cutimu selesai! Aku memberimu tugas baru! Ada tranksaksi narkoba besar-besaran di daratan China utara. Tranksaksi terbesar yang pernah terendus oleh mata-mata kami. Tugas ini berat maka aku menugaskanmu sebagai mata-mata terbaik. Dan aku juga sudah mengirimkan seorang mata-mata wanita kesana, kau harus membantunya agar tak terbongkar.
Rifki mengerutkan kening. Ia sangat tak suka memiliki partner mata-mata. Terakhir ia memiliki partner mata-mata, salah satunya mengkhianatinya dan sisanya terbunuh secara mengenaskan.
Ada e-mail masuk lagi. Sebuah foto. Tertulis disitu Mai, nama seorang wanita yang akan jadi partnernya. Kemudian ia buka fotonya dan terbelalak... Ini... ini..... Nida!*
PS: Kalian akan mengerti kalau sudah membaca cerita buatan adikku.

Epilog 2:
Dylan sedang berdua dengan Seiji membereskan berkas-berkas kasus FBI. Karena Dylan akan kembali mengambil alih tugas, sementara Seiji kembali pensiun.
“Hah?! Hanya segini tugas yang berhasil kau selesaikan?” sungut Dylan melihat tipisnya berkas Seiji.
“Memang cuma segitu kasusnya!” balas Seiji tak terima, “Aku kan sibuk sama kasusmu!”
“Itu bukan kasusku! Itu kasus Lyla!” bantah Dylan.
“Sama saja! Kalian kan tunangan...”
Dylan berdecak kesal.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal Lyla, Yi Jae mengundang kalian berdua makan malam di rumah kami yang baru,” ucap Seiji.
“Baru?! Kau pindah rumah lagi?!”
“Salah siapa aku jadi terlibat dengan FBI?”
Dylan kembali merungut kesal. Ia tiba-tiba teringat sesuatu, “Seiji... apa kau tak merasa ada yang aneh?”
Seiji menoleh, “Aneh?”
“Iya, ada yang aneh dengan istrimu...” ujar Dylan.
 “Apanya?!”
“Kehamilannya,” Dylan menatap Seiji dengan matanya yang bingung, “Tidakkah kamu memperhatikan bentuk kehamilannya sangat aneh? seperti... Yi Jae tidak benar-benar hamil....?”

So... kalian bisa tebak sendiri! Yap! Rifki akan jadi tokoh utama di cerita berikutnya! Dan Seiji akan kembali menjadi tokoh utama di cerita setelahnya! Hehehehe...

9 komentar:

Iya RF mengatakan...

Huwaaa.. Udah the end aja nich ceritanya. Ah tebakan Iya salah, kirain tmn skmrnya Lyla hehe.. Mksh y Dini udah ngelanjut CHS nya, Iya akan selalu menanti cerita slnjtnya.. Btw istrinya Seiji hamil bohongan yah?? xixixi.. Penasaran.com

amitokugawa mengatakan...

kak dini!!!
yah..udah selesai aja,, semuanya terungkap n endingnya memuaskan
btw, masih ada cerita seri berikutnya kan? kutunggu lho
oya, semangat bwt ujiannya!

hiwatari mengatakan...

dinii,^^
mantabs!!

leedantae mengatakan...

keren banget lho ceritanya
btw, kalau mau baca yang tentang rifki, di blog mana ya?

Snow Flakes mengatakan...

bisa liat di blog: maryam-qonita.blogspot.com

Ulfa RanFa mengatakan...

Aku suka ceritanya dan gaya penulisannya
Sangat memuaskan dan menarik,
Oya untuk tokoh ceritanya...
aku suka Seiji san,

Aku tunggu cerita selanjutnya

Anonim mengatakan...

halo :) aku baru baca ceritanya langsung baca sampe terakhir :D jadi langsung komennya di yg trakhir aja ya :) apakah lanjutan dari cerita ini sudah di ditulis? ato sudah di post di blog? jika sudah di post di blog mana ya? mohon informasinyaaaa >,< benar" penasaranan dengan kelanjutannya :D terus berkarya ya :) bagus bgt (Y) ;;)

Anonim mengatakan...

halo :) aku baru baca ceritanya langsung baca sampe terakhir :D jadi langsung komennya di yg trakhir aja ya :) apakah lanjutan dari cerita ini sudah di ditulis? ato sudah di post di blog? jika sudah di post di blog mana ya? mohon informasinyaaaa >,< benar" penasaranan dengan kelanjutannya :D terus berkarya ya :) bagus bgt (Y) ;;)

Anonim mengatakan...

ini masih anonymus yang tadi :D kalo lanjutannya uda di post judulnya apa ya ? heheh biar gampang carinya :) thanks :D