An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 29 November 2010

Convinient High School chapter 15


Rifki dan Seiji dengan tegang menunggu di belakang Dylan yang sedang sibuk menyambungkan monitor-monitornya dengan alat pelacak Stiker Saraf. Belum ada reaksi sejauh ini.
“Dylan, mungkin dia sudah menyadari keberadaan stiker saraf milikmu,” ucap Seiji.
“Jika dia sudah sadar, harusnya dia memilih untuk membunuhku duluan, bukan Lyla,” jawab Dylan masih sibuk dengan alat-alatnya.
“Aku masih tak berpikir kau menempelkan benda itu ke tubuhnya,” ujar Seiji.
“Aku sendiri juga masih tak menyangka,” sahut Dylan. Akhirnya ia berhasil menyalakan alat pelacaknya. Tiba-tiba alat pelacaknya berbunyi, “Ketemu dia!”
Seiji dan Rifki menengok dengan penasaran.
“Koordinatnya dari sini adalah 15 m, sebelah barat daya, 23 m di bawah kita. Berarti orang itu sedang berada di lantai bawah,” ujar Rifki yang membaca alat pelacak Dylan.
Seiji mengeluarkan denah sekolah yang dibuat oleh staf FBI dengan sangat akurat, “Berarti menurut perhitungan, dia ada di.... sini!”
“Tempat apa itu?” tanya Rifki.
“Ya, aneh, bukannya itu dekat dengan kamar Nicole yang lama? Namun disini itu dinding! Tak ada pintu apapun disitu...” tambah Seiji.
Dylan menatap peta dan alat pelacaknya bergantian, “Koordinatnya benar kok. Tapi kenapa seperti sedang mengatakan kalau orang itu sedang berada di dalam dinding?”
“Apa mungkin itu adalah ruang rahasia?” ucap Rifki.
Seiji dan Dylan berpandangan.
“Benar juga,” pikir Dylan, “Seharusnya, jika ia dan Lyla sama-sama mengenakan stiker saraf, ada dua kamera yang rusak bersamaan. Namun hanya kamera yang terkena gelombang stiker saraf milik Lyla saja yang rusak. Orang itu pasti berada di tempat yang tersembunyi yang tak kupasangi kamera.”
“Kita sepertinya harus menyergapnya disana,” usul Seiji.
“Jangan!” seru Rifki yang seorang mata-mata dan sudah ahli mengenai sergap-menyergap, “Kita tak mengetahui kondisi di ruangan itu. Melihatnya mondar-mandir di alat pelacak itu, sepertinya ruangan tersembunyi itu adalah ruangan yang cukup luas. Hanya dia yang tahu isi ruangan itu, mungkin ada banyak senjata, mungkin ada bom, kita tak tahu. Bisa-bisa kita membahayakan seluruh murid.”
“Kau benar,” ucap Dylan, “Kita harus bisa memancingnya keluar.”
“Tapi sebelumnya kita harus mengevakuasi seluruh murid,” ujar Seiji, “Jika terjadi baku tembak, kita harus meminimalisir jumlah korban.”
“Kalau bisa, evakuasinya berlangsung secepat dan setenang mungkin,” tambah Rifki, “Sebisa mungkin, pembunuh itu masih berada di dalam ruang persembunyiannya saat kita mengevakuasi murid. Jika ketahuan, gagal.”
“Dia bisa menyandera seorang murid jika identitasnya diketahui, karena itu, kupikir, kita manfaatkan keberadaannya yang masih berada di dalam ruangan itu.”
“Tapi kita tak tahu sampai kapan ia berada di dalam ruangan itu.”
“Kita harus memancingnya masuk ke ruangan persembunyiannya dalam waktu yang cukup lama.”
“Aku tahu apa yang akan kulakukan untuk memancingnya masuk, lalu keluar dari ruangan itu.”
“Bagus. Tapi ada satu masalah lagi,” ujar Rifki.
“Apa?” tanya Dylan.
“Bagaimana kalau dia memiliki sekutu? Selama ini kita berpikir kalau dia setipe Jack The Ripper yang bekerja sendiri. Mungkin dia juga memiliki teman. Kita hanya bisa melacak keberadaan dia saja, belum tentu dengan sekutunya yang lain. Kalau sekutunya memberitahu masalah evakuasi padanya, akan sia-sia saja usaha kita.”
“Yah, itu juga harus dipikirkan.”
Dylan menggeleng, “Aku punya insting dia hanya sendiri. Aku yakin. Kali ini kita bertaruh pada instingku.”
©©©
Dylan mengeluarkan sebuah koper dari kolong kasurnya. Pas dibuka, terlihat sebuah benda yang selalu ia bawa kemana-mana. Bukan laptop. Melainkan sebuah pistol semi-otomatis lengkap dengan sekotak peluru dan alat peredam suaranya.
Tak pernah menyangka akhirnya aku akan benar-benar menggunakan benda ini, pikirnya tapi tanpa ini, Lyla akan terus terancam hidupnya.
Di sampingnya Rifki juga mengeluarkan pistol mini kesayangannya. Ia menaruhnya di sabuk pistol yang terpasang di dekat mata kakinya. Senjata utamanya adalah sebuah senapan sedang yang bisa mengeluarkan banyak peluru.
Dylan memakai rompi anti peluru, meski belum tentu si pembunuh memiliki pistol, namun dilihat dari kesiapannya di setiap kasus, itu sangat mungkin. Rifki juga tak melupakan rompi anti peluru miliknya.
Mereka berdua sudah sangat siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dan bertaruh dengan rencana mereka.
Seiji datang dengan pakaian yang tak kalah siap, pistol dipinggang, rompi anti peluru, “Pasukan khusus sudah siap. Aku sudah meminta mereka datang dengan diam-diam dan tak mencolok. Sekarang tinggal memancingnya masuk ke tempat persembunyiannya baru kita bisa mengevakuasi murid.”
Dylan memandang Rifki.
“Baik, aku akan segera melakukannya,” ujar Rifki yang mengeluarkan stel penyamarannya. Baju seragam.
©©©
Lyla baru saja kembali dari ruang Mrs. Linda. Ia disuruh melakukan revisi ulang pada naskah. Sebenarnya Mrs. Linda memberikan keringanan padanya agar tak melakukannya sekarang, tapi Lyla ingin memiliki kegiatan yang bisa menyibukkan pikirannya. Lagipula, ia bosan, hanya diam bersama dua orang FBI yang seperti patung dan mengekorinya terus.
Begitu ia kembali ke kamar ia membuka-buka lagi naskah yang harus direvisi, namun secarik kertas jatuh dari dalam naskah itu.
Kau tahu dengan pasti kan, Nick sekarat karena dirimu. Kalau kau ingin membalas kesalahanmu, datanglah ke lantai 3 sendirian nanti sore jam 6. Jangan ada FBI atau polisi, atau akan kubuat temanmu dan tunanganmu bernasib sama dengan Ketua Murid yang sedang meregang nyawa itu. Oh ya, aku juga akan memberitahukan kenapa kau tinggal sendirian di dunia ini, dan kenapa keluargamu dibunuh. Jadi datanglah! Jangan sampai ada lagi yang kerepotan dan terluka hanya karena dirimu lagi.
Lyla menggenggam kertas itu dengan gemetaran, ayah? Ibu? Kevin?
©©©
Seseorang sedang menikmati puding makan siangnya dengan lahap dan nikmat. Ia tersenyum dalam hati. Gadis itu akan kuhabisi malam ini! Pikirnya. Semuanya akan berjalan lancar. Jangan sampai ada FBI pengganggu yang mengacaukan rencanaku. Anak ayam kecil itu akan berjalan sendiri menemui sang musang.
Moodnya sangat baik sampai datang seorang murid yang berteriak-teriak heboh di ruang makan.
”Kalian sudah dengar?! Nicole sudah sadarkan diri tadi pagi!” teriak murid cowok itu.
Orang itu tersentak. Ia menggenggam sendok pudingnya geram. Hampir saja ia lempar jika takkan menyulut perhatian. Cewek sialan itu sudah sadar?! Harusnya aku sudah membunuhnya dengan racun! Bagaimana bisa dia sadarkan secepat itu? Cewek itu bisa buka mulut tentang siapa yang sudah memberinya racun!
“...FBI sudah datang ke rumah sakit tempat Nicole dirawat! Katanya Nicole sudah siap ditanyai! Sebentar lagi pelakunya terungkap dan tertangkap!” seru murid cowok berkacamata itu heboh, “Sekolah ini tak jadi diliburkan!”
“Huuuuuu!” teriak seluruh murid yang kecewa.
Sementara ada juga orang yang kecewa dengan lebih parah. Ia menghentakkan sendoknya ke puding yang sedang ia makan. Harus membuat rencana ulang. Ia tak ingin Nicole buka mulut, jadi ia harus menyiapkan rencana untuk ke london dan membunuh gadis itu, tapi ia juga tak mau batal menjebak Lyla. Ia pun pergi dari ruang makan.
©©©
Rifki yang tugasnya berhasil membuat semua murid heboh dengan memberitahukan berita palsu mengenai Nicole melihat dari sudut matanya seseorang yang menjadi misinya kali ini. Orang itu pergi dengan marah dari ruang makan.
Dengan cepat Rifki menghubungi Seiji, “Pelaku sudah memakan pancingan dengan baik. Laksanakan evakuasi segera!”
Tak lama, ruang makan tiba-tiba dipenuhi oleh satu tim khusus yang berseragam hitam-hitam dan bersenjata lengkap. Murid-murid ternganga.
Seiji masuk dengan seragam yang sama. Ia menghampiri Rifki yang melepaskan penyamarannya di depan semua murid, membuat lebih banyak murid yang lebih terkaget-kaget lagi.
“Aku akan mengikutinya, memastikan ia tak memiliki sekutu, juga memastikan ia kembali ke tempat persembunyiannya tanpa mengetahui ada evakuasi,” bisik Rifki di telinga Seiji.
“Ya, lakukan!” perintah Seiji.
Rifki pun menghilang dengan cepat keluar dari ruang makan.
Sementara Seiji segera mengondisikan murid-murid agar mau dievakuasi dengan tenang.
©©©
Rifki berjalan pelan mengikuti orang yang tak disangka olehnya akan melakukan semua pembunuhan itu. Kemampuan mata-matanya yang bisa membuatnya ‘tak terlihat’ sangat dia andalkan saat ini. Dalam hatinya ia terus menggerutu kesal, aku kan berencana liburan. Orang jepang brengsek! Membohongiku kalau akan ada kasus mudah...
Orang itu berbelok. Ia nampaknya tak menyadari keberadaan Rifki yang tak jauh dibelakangnya. Rifki juga lega, orang itu tampaknya tak menyadari kalau diadakan evakuasi besar-besaran di sekolah ini. Berarti ia tak memiliki sekutu.
Rifki masih mengikuti orang itu sampai orang itu berdiri di sebuah lukisan yang besar seukuran jendela. Ternyata itu bukan sekadar lukisan! Lukisan itu bisa membuka dan dibaliknya ada sebuah pintu yang bisa didorong. Orang itu menghilang ke balik lukisan. Rifki tak berniat mengikutinya. Di dalam situ pasti banyak benda yang harusnya berhasil ditemukan oleh tim FBI nya Dylan dan Seiji sebagai barang bukti. Samurai yang dipakai untuk menyayat Terry Landstorm, Garam untuk membekukan Peter Brown, juga Kalium Sianida untuk meracuni Nicole Jhonshon. Mungkin juga disana ada sebuah kunci mobil Chevrolet perak yang salah tabrak.
Ia menghentikan penguntitan dan segera menghubungi Dylan dan Seiji, “Beruang itu sudah kembali ke sarangnya.”
©©©
Lyla menengok ke arah dua anggota FBI yang diperintahkan untuk menjaganya. Mustahil kabur dari mereka. Ia diam di kasurnya berputar otak untuk mencari akal.
Seorang anggota yang diketahui Lyla bernama Homer menghampirinya, “Anda akan segera dievakuasi juga, harap mengikuti kami.”
Lyla menurut saja. Ia bersama Homer dan teman FBI yang satunya lagi, yang diketahui Lyla bernama Simon, berjalan keluar dari kamarnya. Lyla semakin mencari cara untuk bisa kabur.
Lyla baru mendapatkan kesempatan itu ketika ada beberapa murid yang sedang berkeliaran di lorong. Homer menghampiri murid-murid itu.
“Apa kalian tak diberitahu kalau kalian harus segera meninggalkan sekolah ini?” tanya Homer.
Murid-murid itu mendengus seperti meremehkan Homer, “Kami tahu semua yang terjadi di sini! Apa-apaan evakuasi itu? Kami tak ingin pergi.”
Simon yang kelihatan tak lebih sabar dari Homer ikut menghampiri murid-murid itu dan mengeluarkan lencananya, “Kami FBI, dan kami perintahkan kalian segera meninggalkan sekolah ini.”
“Omong kosong dengan FBI! Kami tak mau! Ini sekolah kami, dan aku mau ke kamarku sekarang!” seru seorang murid cewek yang berkulit pucat.
“Memangnya kalau kami tak mau menuruti perintah kalian, kalian akan menembak kami dengan pistol? Coba saja kalau berani!” ujar teman cowok cewek itu.
Simon yang geram sudah hampir mengeluarkan pistol dari sarungnya, “Baik!”
Homer segera menahannya, sambil memandang tajam pada murid-murid itu, “Jangan. Mereka hanya anak-anak. Tak tahu kalau disini sebentar lagi akan ada baku tembak dengan pelaku pembantaian yang mungkin saja takkan segan-segan menggunakan mereka sebagai sandera dan membunuh mereka dengan senang hati.”
Murid-murid itu melotot.
“Kami hanya memberitahu kalian untuk menyelamatkan diri kalian sendiri. Terserah apa yang kalian mau lakukan, asal jangan jadi sandera. Menyusahkan, dan mengingat kalian tak takut untuk ditembak oleh pistol, kami takkan pernah menganggap kalian sandera meskipun kepala kalian sudah dipegang oleh orang gila itu,” tambah Homer.
“Terlalu merepotkan untuk menyelamatkan kalian jika kalian kalian jadi sandera, jadi silahkan kalian lakukan yang kalian mau,” sahut Simon, “Kami tak peduli.”
Homer tersenyum sinis ketika murid-murid itu langsung kabur. Tapi Simon menghilangkan senyumnya ketika ia berkata dengan gusar.
“Hey! Mana Lyla William? Kemana gadis itu?”
Homer menoleh, “Kamu bercanda? Dia bersamamu kan?”
“Tadi! Tadi dia bersamaku! Tadi dia disitu!” seru Simon sambil menunjuk satu tempat.
“Lalu kemana dia sekarang?!”
“Buat apa dia kabur? Masa sih?”
Homer menatap temannya penuh kekesalan, “Aku tak mau memberitahu Bos, kau saja. Anak itu sangat pemarah.”
Simon menendang-nendang tanah, “Sekolah sialan!”
PS: Author ternyata masih belum rela ngasih tahu... kkkkk....

9 komentar:

JaeMie itu Mie RF mengatakan...

gara-gara din buat penasaran mie baca ulang ni CHS ...
hmmmm
la aq dah nebak satu orang tapi blum tahu si ntar salah....

ai mengatakan...

aku pgn nebak.... tapi boleh disini gak sih? xixixi lengkap beserta argumen lho

Anonim mengatakan...

wahhhh....makin asik nih ceritanya...ditunggu kelanjutannya yah...

Anonim mengatakan...

ditunggu kelanjutannya...plizzz jangan lama2 yah....

Anonim mengatakan...

masih menunggu kelanjutannya lohhhhh

Anonim mengatakan...

wuaaahhhh...ceritanya makin seru nih...jadi bertanya2 syapakah si pembunuh itu???? btw ditunggu yah kelanjutannya...

Snow Flakes mengatakan...

semuanya yang duah nunggu, makasih...

Mie, hayo tebak..
kak aih, boleh deh... buat kak ai.

amitokugawa mengatakan...

aih..kak dini bikin tambah penasaran nih
hemm..siapa ya? aku udah pernah nebak tapi lupa lagi siapa..hehe

Anonim mengatakan...

ini masih anonymus yang tadi :D kalo lanjutannya uda di post judulnya apa ya ? heheh biar gampang carinya :) thanks :D