An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 29 November 2010

Convinient High School chapter 14


Lyla telah diberi tahu hal yang sebenarnya. Dia tak terlalu banyak merespon, mungkin karena masih shock atas kecelakaan yang menimpa Nick. Dylan memperketat penjagaan terhadap Lyla.
Ia sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
“Dylan...” panggil Seiji yang mengunjunginya.
“Hmm...” sahut Dylan pelan, tak melepaskan pandangannya dari monitor-monitor di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan? Kau tak beranjak dari sana dari tadi.”
“Lihat saja dulu,” jawab Dylan. Ia menyalakan tombol-tombol di depannya. Kamera 9, aktif... kamera 10, aktif... kamera 11, aktif...
Seiji melihat Dylan menyalakan satu persatu monitor, “Kau... memasang kamera di seluruh sekolah?”
“Ya, setiap sudut tak akan ada yang terlewatkan satu pun. Aku mau tahu, tikus pembunuh itu bisa apa melawan teknologi...” ujar Dylan kelihatan antusias.
“Kau yakin ini bisa berhasil?”
“Mana ada orang yang menjadi kasat mata di depan kamera! Tentu saja aku yakin!” seru Dylan, kamera 21 aktif.... kamera 22 aktif... kamera 23..
Seiji terdiam. Ia akhirnya hanya melihat saja.
Suasana hening sampai sebuah monitor terlihat tak berfungsi dengan baik, hanya menunjukkan gambar yang rusak. Dylan merasa ada yang tak beres. Ia jongkok untuk memeriksa sambungan ke monitor itu. Tak ada masalah.
Seiji yang melihat gelagat Dylan yang gelisah akhirnya buka suara lagi, “Ada apa?”
“Kamera 47, lihat... tak ada gambarnya...” ucap Dylan.
“Mungkin rusak, kamera dimana itu?”
“Di kamar Lyla, coba hubungi tim yang berjaga disana,” suruh Dylan.
Seiji mengeluarkan komunikatornya, “Aku akan menghubungi Rifki. Dia sedang ada disana.”
Komunikator tersambung, suara Rifki langsung terdengar, “Rifki Mahatir, anggota 1 divisi mata-mata bertugas.... ada apa?”
“Seiji Amano, Ketua 1 Divisi Investigasi dan Penyelidikan disini.... Rifki, apa kau sedang berada di kamar Lyla?”
“Ya, kenapa?”
“Bagaimana situasinya?”
“Aman dan terkendali. Lyla sedang di kamar, tak ada masalah sejauh ini.”
“Tolong kau masuk ke kamar Lyla dan lihat di sudut dinding arah jam 3 dari ranjang ada kamera mini. Kamera itu tampaknya rusak, tolong kau periksa untukku.”
“Baik.”
Komunikator mati sementara. Tak lama, monitor nomor 47 pun memperlihatkan gambarnya. Terlihat Rifki yang sedang berusaha membetulkan kamera.
“Rifki, kamera sudah betul kembali, terima kasih,” ujar Seiji lewat komunikator.
Di gambar, Rifki mundur dan kamera memperlihatkan kamar Lyla. Kamar Lyla yang kosong.
Dylan merebut komunikator dari tangan Seiji, “Petugas Rifki Mahatir, kemana Lyla William?”
“Lyla William sedang menuju kamar kecil perempuan,” jelas Rifki, “Dua orang petugas diperintahkan menjaganya....”
Saat Dylan sedang sibuk mendengarkan keterangan dari Rifki, Seiji menyenggolnya.
“Dylan, lihat, sekarang kamera yang itu rusak,” tunjuk Seiji pada kamera di sebelah kamera yang sebelumnya sempat hilang gambarnya.
Dylan kaget, “Apa? Mengapa? Tadi masih benar.”
“Tadi kulihat gambarnya tiba-tiba rusak,” jelas Seiji.
Dylan lagi-lagi memeriksa segala kemungkinan teknis yang menyebabkan kamera tersebut rusak. Ia tak menemukan apa-apa.
Seiji yang masih mengawasi monitor menemukan sesuatu yang aneh, “Hei, kamera yang itu sudah betul lagi! Tapi... sekarang monitor sebelahnya yang rusak...”
Dylan tertegun. Ia teringat sesuatu. Jangan-jangan....
Buru-buru ia menyalakan komunikator, “Rifki! Sekarang cepat kamu menuju lorong sebelah kanan di belokan lorong kamar Lyla! Sekarang!”
Di kamera terlihat Rifki yang langsung melesat cepat menuju tempat yang diperintahkan Dylan.
“Sekarang belok kiri!” perintah Dylan begitu melihat kamera yang tadinya hilang gambarnya betul lagi dan memperlihatkan Rifki yang baru sampai ke tempat itu, namun giliran kamera sebelahnya yang rusak.
Rifki terlihat di monitor berlari menuju lorong yang direkam oleh kamera yang sedang rusak.
“Sekarang... katakan padaku, siapa yang kau lihat dari tempatmu berdiri?”
“Aku hanya melihat Lyla dan dua pengawalnya sedang menuju kamar mandi...” jawab Rifki dari komunikator, “Dan sekarang mereka berbelok ke lorong sebelah kanan.”
Begitu Rifki selesai bicara, kamera yang rusak kembali betul dan terlihat Rifki yang sedang terengah-engah karena habis berlari. Namun, kamera yang sebelahnya kini rusak.
Kok bisa? Tidak mungkin dia pembunuhnya! Pikir Dylan bingung, kecuali ada orang lain...
Dylan tercekat, orang lain? Orang itu?
©©©
“Jadi jelaskan maksudmu!” tanya Seiji penasaran, ia dan Rifki dikumpulkan di kamar Dylan, “Kau bilang kau sudah tahu pelakunya?”
Dylan tersenyum misterius, “Iya. Ternyata sejak awal aku sudah menangkap pelaku itu dengan tanganku sendiri...”
“Aku tak mengerti!” seru Seiji.
“Iya, ini cuma masalah teknologi. Harusnya aku lebih memperhatikan itu sejak awal, haha...” Dylan malah tertawa tak jelas.
Seiji geram, “Bocah! Katakan siapa pelakunya atau kubunuh kau!”
“Pelakunya yang memiliki sesuatu yang bisa mengacaukan gelombang kamera mini jarak jauh ku. Di tubuhnya menempel benda itu. Aku menyadarinya saat aku ingat kalau kamera mini yang kupasang di depan kamar Nicole juga rusak tiba-tiba dengan aneh saat pelakunya akan tertangkap kamera...”
“Jadi, dia menempelkan benda yang bisa mengacaukan gelombang sinyal kamera?”
Dylan menggeleng, “Bukan. Aku yang menempelkannya di tubuhnya.”
“Aku frustasi!” sergah Seiji semakin kesal, “Kau yang menempelkannya?! Buat apa kau menempelkan benda yang bisa mengacaukan penyelidikan pada tubuh seorang pembantai gila?! Benda apa pula itu?!”
“Benda itu adalah ini!” Dylan menunjukkan sebuah kertas tipis bening seukuran ujung jarinya dan mirip...
“Selotip?” tanya Seiji.
“Salah bodoh!” maki Dylan kesal, “Ini penemuan yang sangat fenomenal. Ini Stiker saraf. Ini menempel di tubuh seseorang dan memancarkan gelombang khusus yang bisa membuatku melacak keberadaannya dalam jarak tertentu. Gelombang ini juga yang menabrak gelombang kamera miniku dan menyebabkan gambarnya tak mau muncul. Selain itu juga, ini ditempelkan di tengkuk dan bisa menerima rangsangan syaraf-syaraf halus di kulit. Benda ini bereaksi kalau orang yang ditempeli benda ini sedang kesakitan atau sedang tegang. Jadi, benda ini tugasnya melindungi orang.”
“Jadi... siapa yang kau tempeli benda itu?”
“Lyla,” jawab Dylan singkat.
Seiji dan Rifki berpandangan. Mereka sama-sama berpikir satu hal, “Jadi... kau pikir kalau Lyla lah yang merusak gelombang kamera Nicole? Lyla lah pembunuhnya?”
“Aku juga berpikir begitu...” ucap Dylan kelihatan lesu, “...pada awalnya.”
Seiji dan Rifki yang sudah hampir kehabisan nafas langsung kesal, “Lalu siapa?”
“Saat itu Lyla sedang bersamaku sepanjang hari di perpustakaan, alibinya kuat tahu!” ujar Dylan, “Aku menyadari dan hampir melupakan satu orang lagi. Satu orang lagi yang kutempelkan stiker saraf ini. Aku benar-benar bodoh... aku tak memperhatikan hal yang sangat kecil di awal-awal kedatanganku di sekolah jelek ini. Dia orangnya Hanya dia yang bisa. Dia...”
©©©
Gals n Guys! Segini dulu ya! This time, aku cuma posting dikit, soalnya aku masih tak rela memberitahukan siapa pelakunya pada kalian... hehehe... *readers ngumpulin batu buat numpukin author*
Gak bakal lama kok, ntar kuposting lanjutannya. Tapi kayaknya kalian sudah bisa nebak siapa pelakunya. Siapa yang jeli dan baca dari awal sampai akhir trus memperhatikan hal-hal kecil di awal cerita pasti bisa nebak! Hayo, siapa??? Tebak, tebak, tebak!!! *authornya maksa banget*
Tapi buat yang dah tahu dan nebak... Ssssttt... hehehe...! gak seru kalau kalian ngasih tahu duluan. Satu kalimat kecil di awal cerita ini bisa bikin kalian tahu siapa pelakunya. Percaya deh.
Selamat penasaran dan menebak! Bye! *author kabur*

1 komentar:

amitokugawa mengatakan...

siapa sih pelakunya?
heuhh..penasraan bgt nih kak
baca part2 sebelumnya lagi ah, biar bisa nebak..hehehe