An Ordinary Girl with a Million Dreams

Selasa, 02 November 2010

Convinient High School chapter 13


Keesokan paginya Lyla dan Nick sudah keluar pagi-pagi untuk menikmati udara Carlisle yang masih segar. Berbeda dengan London, Carlisle adalah satu dari sedikit tempat di Inggris yang masih lumayan bersih dari polusi. Apalagi pagi-pagi begini, siapapun yang keluar rumah, pikirannya pasti langsung fresh.
Termasuk Lyla dan Nick yang sedang menikmati hari libur mereka.
“Aah... segaar!” seru Lyla saking senangnya. Ia merentangkan tangannya dan berputar-putar kecil menghirup udara.
Nick hanya tertawa melihat tingkah Lyla. Ia selalu dibuat tersenyum oleh Lyla yang keras kepala meski sebenarnya masih kekanak-kanakkan. Ia memandangi Lyla, gadis itu sangat manis, cantik malah. Lyla tipe gadis asia yang polos dan memikat. Apalagi sekarang, ketika angin Carlisle membelai wajah dan rambut Lyla.
Lyla berjalan mundur menghadap Nick, “Sebelum ke pantai bagaimana kalau kita ke suatu tempat dulu?”
“Kemana?” tanya Nick heran.
“Aku mau bertemu dengan Paman baik hati yang ada di taman kota, pleaaaasee...” pinta Lyla sambil menangkupkan tangannya.
“Paman baik hati?”
“Ayo! Nanti kamu juga tau!” Lyla langsung menarik tangan Nick.
Mereka berdua naik bus menuju taman kota. Sesampainya disana Lyla berlari kesudut taman dimana seorang pria tua sedang duduk sambil memberi makan merpati-merpatinya.
“Paman Hans!” teriak Lyla dari kejauhan sambil melambaikan tangannya, “Pamaan...!”
Pria tua yang dipanggil Paman Hans itu menengok ke arah Lyla. Pada awalnya ia terlihat seperti pria tua yang seram dan galak, tapi begitu melihat siapa yang memanggilnya, senyumnya yang lebar menghapuskan kesan itu, “Ah, kau kah itu Lyla?”
Lyla menghambur ke arah Paman Hans dan memeluknya, “Pamaan... aku kangen..”
“Kau ini, jahat sekali padaku yang sudah tua ini, sudah berapa lama kau tak mengunjungiku nak?” tanya Paman Hans sambil memegang bahu Lyla dan memperlakukan Lyla dengan penuh kasih.
“Maaf Paman, di sekolah ada masalah, aku tak bisa sering-sering keluar...” jelas Lyla yang kemudian berpikir, oh ya... harusnya aku juga tak keluar kan sekarang?
Paman Hans kemudian memandang ke arah Nick dengan wajahnya yang galak kembali, “Siapa dia?”
Nick tersenyum ramah, “Saya Nick, temannya Lyla, paman...”
“Paman, paman, siapa yang kau panggil paman?! Seenaknya!” sergah Paman Hans ketus.
Nick menelan ludah. Ia memandangi Lyla.
“Ah, paman, dia ini Nick, temanku di sekolah,” ujar Lyla, “Dan Nick, ini Paman Hans, dia paman baik hati yang mengajarkanku memberi makan merpati. Paman adalah orang pertama yang akan kukunjungi kalau aku keluar sekolah.”
“Apa pekerjaanmu nak?” tanya Paman Hans dengan pandangan menyelidik.
“Pekerjaan?” ujar Nick heran.
“Paman, Nick kan masih sekolah, dia belum bekerja...” sahut Lyla berusaha membela Nick.
“Cih, di masaku anak muda seusianya harusnya sudah bekerja,” kata Paman Hans ketus, “Huh, bagaimana nasib masa depan sekarang kalau anak mudanya tak bekerja dengan giat, dan pemalas seperti ini...”
Nick melongo heran sementara Paman Hans terus mengomel.
“Sudahlah Paman, Nick juga pasti akan bekerja setelah lulus,” ujar Lyla yang melepas syalnya dan mengalungkannya ke leher Paman Hans, “Disini dingin, Paman harus pakai syal supaya lebih hangat...”
“Ah, kau begitu baik Lyla,” puji Paman Hans lalu memandang Nick sinis, “Sayang gadis sebaik dirimu bisa mendapatkan pemuda pengangguran seperti dia...”
“Paman, kami tak seperti yang paman bayangkan...”
“Kau harus bekerja yang mapan dulu baru bisa mendapatkan restuku, gaji yang besar, jabatan yang tinggi...” Paman Hans terus menceramahi Nick.
Nick cuma bisa merengut sambil membatin, Ya Ampun, Dylan pasti takkan butuh waktu lama mendapatkan restu dari orang ini.
©©©
Dylan sedang bersemedi di ruangan arsip-arsip ketika Seiji menemuinya sambil terengah-engah.
“Ada apa?” tanya Dylan yang tak melepas pandangan matanya dari arsip mengenai staf tukang bersih-bersih sekolah.
“Lyla tidak bersamamu?” Seiji malah balik bertanya.
Dylan mengangkat wajahnya, “Rifki?”
Seiji menggeleng, “Tidak. Dia tak melihat Lyla sama sekali hari ini. Katanya Lyla menghilang sejak pagi ini...”
Dylan mengusap wajahnya mulai terlihat seperti orang yang benar-benar frustasi, “Nick?”
“Sepertinya... Nick juga menghilang...”
Mau gak mau Dylan bangkit dari duduknya, “Dasar bocah itu!”
©©©
“Wah, mulai terasa panas disini...”
Nick melihat ke arah langit dimana matahari mulai berada di posisi terik-teriknya, “Yah... benar. Cuaca mulai panas...”
“Aku ingin sesuatu yang dingin...” gumam Lyla.
“Bagaimana kalau eskrim?” tawar Nick, “Ada toko es krim yang enak di seberang jalan sana? Kau mau?”
Lyla mengangguk semangat, “Mau!”
“Tunggu sebentar yah...” suruh Nick dan mulai meninggalkan Lyla.
Sementara itu, tak jauh dari mereka, sebuah mobil sedan berwarna perak terparkir. Di dalamnya ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka tanpa berkedip sedikitpun. Tangannya memegang setir dan kakinya sudah bersiap di pedal gas. Ketika ia melihat Nick sudah mulai menjauh dari Lyla, kakinya pun menekan pedal gas itu kuat-kuat. Arah mobil itu lurus, menuju Lyla yang sedang menunggu di pinggir jalan.
Lyla sedang menatap Nick yang berlari ke seberang jalan tanpa menyadari ada sebuah mobil yang berniat menabraknya. Nick menoleh untuk memberikan senyumnya, tapi dia merasa ada yang aneh. Perasaannya tak enak, ia menoleh ke samping...
“LYLA!!!!”
©©©
Dylan, Seiji dan Rifki keluar untuk mencari Lyla. Seiji ke Pusat Perbelanjaan, Rifki ke Stadion, dan Dylan ke pusat kota. Mereka mencari sampai siang hari dan nihil. Pada akhirnya mereka bertemu lagi di tempat yang dijanjikan, taman kota.
“Kemana lagi kita harus mencari?” tanya Rifki, “Aku tak menemukannya di antara penonton pertandingan...”
Seiji manggut-manggut. Dia setuju sama Rifki. Jika Rifki yang punya insting mata-mata tak bisa menemukan Lyla, apalagi dirinya dan Dylan.
Dylan cuma menelan ludah, ia juga bingung. Ia duduk sambil memandang ke sekeliling taman, berharap bisa menemukan Lyla. Yang ia temukan bukan Lyla, tapi seorang pria tua yang duduk di bangku sudut taman.
Dylan berdiri. Ia berjalan menuju pria tua itu.
“Ada apa?” tanya Seiji sambil mengikuti Dylan, Rifki juga ikut, “Kau menemukan Lyla?”
“Tidak,” ujar Dylan mempercepat langkahnya, “Tapi orang itu, dia mengenakan syalnya Lyla.”
Seiji dan Rifki yang kaget juga menuju pria itu.
“Permisi, sir, apa anda melihat gadis setinggi ini,” Dylan menunjuk pundaknya, “Berambut hitam sebahu, dan berwajah oriental?”
“Kau membicarakan Lyla?” tanya pria tua itu.
Seiji mengangguk semangat.
“Ya, sir, Lyla William! Kau melihatnya?” tanya Dylan was-was.
“Ada apa kau mencari-cari gadis kesayanganku itu?” tanya pria tua itu dengan curiga.
Gadis kesayangan? Kini Dylan yang mengernyit curiga.
Seiji mengambil alih pembicaraan, “Maaf sir, kami FBI! Ini lencana kami. Kami mencari Lyla William karena gadis itu sekarang sedang dalam perlindungan. Nyawanya sedang diincar, dan kami khawatir sekarang ia sedang dalam bahaya.”
Raut wajah pria tua itu berubah, “Oh tidak! Lyla...”
“Kami butuh keterangan dari anda, apa anda bertemu dengan Lyla hari ini?” tanya Rifki.
“Ya, nak! Hari ini dia datang dengan seorang pemuda yang namanya... euh... Ni.. Nick! Iya katanya namanya Nick!”
Nick? Berarti benar Lyla pergi bersama Nick! Ceroboh benar bocah itu! Gerutu Dylan dalam hati.
“Aku sudah curiga pada pemuda itu! Harusnya aku lebih lama mengomelinya tadi! Anak itu!...” Pria tua itu terus mengoceh lama sementara Dylan berpikir keras.
“Apa mereka bilang mereka akan pergi kemana?” tanya Seiji.
“Ah, mereka bilang akan jalan-jalan ke pantai. Tolong selamatkan Lyla, aku khawatir pemuda itu akan menenggelamkan Lyla ke laut... Oh...” Pria tua itu menjelaskan sambil mengungkapkan kekhawatirannya yang tidak-tidak.
Dylan, Seiji serta Rifki segera berlari ke mobil. Mereka memutuskan untuk bersama-sama menaiki mobil milik Seiji menuju pantai.
©©©
Sesampainya di pantai mereka mencari dengan panik. Dylan menyusuri sepanjang pesisir pantai, dan hasilnya nihil. Ia bertemu dengan Rifki dan Seiji di pintu masuk Pantai dengan wajah kesal dan kecewa luar biasa.
Dengan gontai mereka menuju parkiran mobil. Saat menyusuri jalan ia melihat orang-orang berekerumun di samping jalan. Dylan mencium ada yang tak beres. Ia berlari menuju kerumunan tersebut.
“Ada yang kecelakaan!”
“Ya Ampun lihat itu! Seram sekali...”
“Darahnya banyak sekali...”
Dylan semakin panik mendengarnya, tubuhnya langsung dingin. Lyla... tidak... jangan Lyla...
“Minggir! Minggir!” serunya berusaha menerobos kerumunan. Namun kerumunan itu semakin banyak saja dan ia terdorong-dorong.
Seiji yang membaca situasi menolong Dylan. Ia mengeluarkan lencananya, “FBI! Harap minggir semuanya! FBI!”
Seperti dikomando kerumunan itu membagi menjadi dua untuk memberi jalan bagi Dylan, Seiji dan Rifki.
Dylan langsung lemas melihat pemandangan di depannya. Jalan aspal ini sudah hampir memerah karena genangan darah. Ia langsung duduk dan memeluk gadis berbaju putih yang berlumuran darah dan gemetaran, “Syukurlah... syukurlah kau tak apa-apa...”
Seiji dan Rifki tercekat, “Nick!”
Disamping Lyla yang terduduk lemas, Nick terbaring dengan darah mengucur dari kepalanya.
“Bawa mobil kemari!” teriak Seiji melempar kunci mobilnya ke arah Rifki.
Rifki mengangguk paham, ia berlari menuju pelataran parkir dengan cepat. Sementara Seiji langsung mengangkat kepala Nick dan memeriksa denyut nadi dari lehernya.
“Meski lemah tapi denyut nadinya masih ada, hanya saja dia bisa kehabisan darah,” ujar Seiji sambil berdiri dan menyobek kaosnya. Ia membebat sobekan kaosnya itu ke kepala Nick, berusaha sebisa mungkin menutup luka di kepala Nick.
©©©
“Nick sudah dibawa ke rumah sakit lokal,” jelas Rifki, “Dia langsung masuk ruang ICU.”
Seiji yang baru pulang dari menyisir TKP menghembuskan nafas entah lega, entah berat. Lega, karena Nick mampu bertahan sampai tiba di rumah sakit. Berat, karena kondisi Nick masih tak menentu.
Dylan masih memandangi Lyla yang tertidur di kasurnya. Di sampingnya ada Gwen yang sedari tadi berusaha menenangkan Lyla yang gemetaran hebat.
“Kita kecolongan,” ujar Seiji kelihatan lelah, “Menurut saksi mata, yang menabrak Nick adalah mobil Chevrolet perak dengan kecepatan tinggi. Mobil itu melaju lurus ke arah Lyla yang kemudian diselamatkan oleh Nick, akibatnya Nick yang mendorong Lyla ke trotoar tertabrak mobil itu. Sebelumnya, saksi mata mendengar Nick berteriak. Setelah tertabrak, mobil itu langsung pergi begitu saja.”
“Ini bukan kasus tabrak lari,” ucap Dylan.
“Jelas bukan, saksi mata itu cerita padaku kalau kecepatan mobil itu sangat tinggi, dan arah lurus menuju Lyla, tanpa ragu. Dia sengaja mengincar Lyla,” ujar Seiji.
“Tapi yang terkena malah Nick yang dengan cepat mendorong Lyla dari terjangan mobil itu,” sahut Rifki.
Semua terdiam. Dylan masih saja memandangi Lyla yang tertidur meski sekali-kali menggigau.
“Dylan...” panggil Seiji.
“Hmm...”
“Sudahlah! Bawa pergi Lyla dari sekolah ini, kita jaga dia di markas saja. Kita akan menggunakan program perlindungan padanya. Setelah disana kita akan meminta bantuan atasan untuk menangani kasus ini,” pinta Seiji.
“Tidak,” jawab Dylan tegas, “Lyla tetap di sekolah ini!”
“Dylan!” sergah Seiji tak percaya.
Dylan mengalihkan tatapannya dari Lyla. Raut wajahnya mengeras, pandangannya tajam ke arah Seiji dan Rifki, seperti seseorang yang akan membuat suatu langkah besar, “Tambah daya listrik sekolah ini! Aku akan membuat pembunuh itu tak bisa bergerak sama sekali!!!”

5 komentar:

ayano mengatakan...

wah,,udah kluar chapter 13 nya...
makin keren aja ni din...
oya lam kenal ya..aq ayano..^^
kalo lagi buntu, bkin cerpen jga din..buat iseng2..hehehe

Snow Flakes mengatakan...

aduh masalahnya, aku kurang bisa bikin cerpen... hehehe...
Kalau bikin cerita pendek mesti dibatasi latar dan waktu, aku gak terlalu bisa.

Dulu pernah sekali, trus menang juara 1 seleksi masuk FLP, tapi itu untung2an aja dan karena kepaksa... hehehe...

Aku gak bisa bikin cerpen karena iseng, bisanya kalau dipaksa dan deadline-nya malam2, baru deh otak cerpen mau gerak...

amitokugawa mengatakan...

tambah seruuuu..lanjut kak! hohoho
oya, kasih tau aku kalo chapter selanjutnya dipublish ya..

Aya RF mengatakan...

Wahh... makin penasaran aja. Dini... ditunggu chapter 14nya ya ^^

Yulia mengatakan...

Kasihan Nick..