An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 27 September 2010

Convinient High School chapter 12


©©©
Lyla masuk ke kamarnya dan melihat Gwen sedang mengobrol dengan Nick.
“Nick? Sedang apa kau disini?” tanya Lyla.
“Oh, aku akan menginap disini menggantikan Dylan,” jelas Nick.
“Lho? Memangnya Dylan kemana?”
Nick mengangkat bahu, “Entahlah. Tadi Seiji menghampiriku dan memintaku menggantikan Dylan dulu. Katanya Dylan sedang sibuk.”
Lyla manggut-manggut. Dalam hatinya ia sedikit kecewa, tapi ia berusaha menepis perasaan itu.
©©©
Dylan sedang di kamar Nick dan Rifki. Ia tidur di kasur Nick dengan punggung memunggungi Rifki. Rifki belum tidur. Ia masih melihat langit-langit kamar. Dylan juga sebenarnya belum tidur. Mana bisa ia tidur, sementara hatinya sedang kacau balau.
Rifki juga tahu Dylan belum tidur. Meski Dylan sudah menyembunyikannya sedemikian rupa, mengatur irama nafas, posisi tidur yang nyaman, juga tak bergerak dalam waktu yang cukup lama, tapi Rifki, seorang mata-mata yang diwajibkan waspada 24 jam sehari bisa mengetahuinya dengan mudah.
Tak ada suara diantara mereka, hanya hening. Kecanggungan karena sifat yang bersamaan, sama-sama dingin, membuat suasana kamar lebih dingin daripada es di kutub utara.
Rifki mengingat kejadian barusan. Ia tersenyum, teringat dirinya sendiri. Dylan mengalami hal yang hampir sama dengannya. Bedanya jika Dylan dimainkan oleh takdir, ia justru hampir kehilangan gadis yang ia cintai karena dirinya sendiri. Karena pekerjaannya sebagai mata-mata yang sangat berbahaya.
“Sebaiknya kau jangan lama-lama bersikap terlalu kekanak-kanakkan seperti ini...” ujar Rifki membuka percakapan.
Dylan tersadar tapi tak mau bicara. Ia masih bertahan dalam posisi pura-pura tidurnya.
“Aku juga pernah mengalami hal yang sama, hampir menyelakakan gadis yang aku cintai, dua kali. Ketika aku sadar, apapun itu masalahnya, aku menyesal karena tak menyadarinya lebih dulu,” tambah Rifki, ia tersenyum tipis melirik Dylan, “Kau juga kan. Apa kau lupa, Lyla masih tak tahu. Berpura-puralah tak terjadi apa-apa, maka semua akan baik-baik saja. Hal yang menyakitkan lupakan saja. Biar bagaimana pun, Lyla masih harus kau lindungi dan kau jaga. Jika kau berkonsentrasi pada masa lalumu, maka kau takkan siap menghadapi masa depanmu yang tak terduga.”
Dylan memejamkan matanya. Ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rifki. Ia mencerna semuanya. Tapi hatinya masih terlalu sakit untuk menerimanya. Untuk pertama kalinya, ia benci kenyataan dan fakta.
©©©
Ada yang aneh pada sikap Dylan keesokan harinya di mata Lyla. Seharian ini ia tak bertemu dengan Dylan. Dylan bahkan tak masuk sekolah. Lyla sampai harus mengarang alasan sibuk untuk absensi Dylan. Gurunya percaya saja. Lagipula mungkin ia tak sekedar mengarang. Mungkin Dylan memang benar-benar sedang sibuk.
Maka ia mencari Dylan kemana-mana. Ke perpustakaan, tak ada, ke kamarnya Nick, tak ada, ke basenya Seiji juga tak ada. Lia sampai menyerah. Dan ia merasakan perutnya mulai berisik minta diisi.
Lia berjalan ke cafetaria, bareng Nick yang beralasan pengen ke tempat yang sama. Lia sebenarnya curiga pada Nick yang mengikutinya terus seperti stalker, Nick juga mengikutinya saat ia ke Perpustakaan, katanya ada buku yang harus dipinjam, ke kamar Nick, katanya ada barang yang ingin diambil, dia juga ikut Lyla ke basenya Seiji, katanya ada urusan. Karena seijinya gak ada, Nick ikut Lyla ke cafetaria. Lyla sebenarnya sih gak keberatan, tapi Nick pasti ada maksud lain kan?
Di cafetaria, Lyla menangkap sosok yang ia cari dari tadi sedang makan. Dia menghembuskan nafas kesal dan menghampirinya.
“Hei, kenapa tidak masuk tadi?” tanya Lyla yang langsung duduk disamping Dylan.
Dylan terlihat kaget. Ia menengok sebentar dan melanjutkan makannya tanpa bicara.
Seiji juga ada disitu, ia tersenyum menyapa Lyla, “Hai Lyla. Tadi Dylan sedang ada urusan penting denganku makanya dia tidak masuk dulu.”
“Aku sampai harus mengarang alasan didepan guru agar kau tidak dihukum, setidaknya bilang-bilang dulu!” omel Lyla.
Dylan tak menjawab. Ia menyelesaikan makannya dan buru-buru bangkit.
Lyla melihat Dylan sudah berdiri dan mau pergi, bingung. Ia menahan Dylan dengan memegangi ujung seragamnya, “Kau ini kenapa? Aku kan sedang bicara denganmu!”
Dylan menarik nafas berat, ia menatap Lyla sebentar dengan tatapan yang sulit dijelaskan, kemudian dengan dingin ia menepis tangan Lyla. Lalu pergi dari cafetaria.
Lyla terlihat bingung, ia menatap Nick yang mengangkat bahu kemudian beralih Seiji yang tersenyum canggung, “Ada apa dengannya sih?”
©©©
Dylan duduk sendirian di kamarnya. Ia membuka-buka buku yang dpinjamnya dari perpustakaan dulu saat berdua dengan Lyla. Buku alumni.
Dia sedang memandangi wajah ayahnya di buku alumni. Jika tidak tertera nama Jhonny McMillan dibawah foto ayahnya itu ia pasti sudah mengira kalau ia salah foto. Wajah yang ada di fotonya itu tidak mirip wajah Dad yang dikenalnya. Di foto itu Dad terlihat culun, berbeda dengan image keren yang Dylan tahu selama ini.
Ia teringat Mom berkata kalau Mom tergila-gila pada Dad saat kuliah. Mungkin saat itu Dad berubah menjadi orang keren, dari orang cupu yang ada di foto SMA-nya.
Kemudian kata-kata Rifki terngiang-ngiang di telinganya, Jika kau berkonsentrasi pada masa lalumu, maka kau takkan siap menghadapi masa depanmu yang tak terduga.
Dylan mendesah. Ia menjatuhkan bukunya ke kasur.
©©©
Sudah lewat tiga hari Dylan tak masuk sekolah. Lyla sebenarnya khawatir Dylan sakit, tapi Seiji meyakinkan kalau Dylan baik-baik saja hanya sibuk. Lyla menggerutu, sibuk apa sih dia?! Kan dia tetap murid sekolah ini, harusnya yang dipikirkannya cuma sekolah bukan kerjaan.
Sekarang Lyla curiga kalau Dylan sengaja menghindarinya. Setiap ia tak melihat latihan drama, Gwen bilang kalau Dylan datang ke latihan. Tapi saat ia ikut ngintip latihan drama, entah kenapa Dylan selalu tak datang.
Saat sibuk menggerutu dalam hati, seseorang menaruh buku-bukunya di bangku samping Lyla. Lyla tersentak kaget. Dylan?
Salah, rupanya yang duduk di bangku Dylan saat ini bukan Dylan, melainkan Larry.
“Ha... hai... ly... Lyla...” sapa Larry dengan terbata-bata dan tersenyum.
“Larry? Kenapa duduk disini?” tanya Lyla bingung.
“A.. aku disuruh pin... pindah oleh dy... Dylan...” jelas Larry.
Lyla menengok ke arah bangku Larry yang lama dan melihat cowok yang sedari tadi mengganggu pikirannya duduk disana. Ia merengut, benar kan dugaanku! Dia sengaja menghindariku, awas kau!
Lyla berdiri dan menghampiri Dylan. Seperti kemarin-kemarin, Dylan hanya menatap Lyla dingin kemudian mengacuhkan Lyla lagi.
Lyla mulai tak sabar, “Aku mau bicara.”
“Bicara saja,” ujar Dylan pelan.
“Kemana saja kau selama ini, tak masuk kelas...”
“Sibuk,” lagi-lagi Dylan menjawab singkat.
“Apa kesalahanku?” tanya Lyla tiba-tiba.
Dylan menatap Lyla lagi dengan ekspresi yang aneh. Sedikit terlihat kaget, tapi sisanya wajahnya begitu datar, “Salah apa?”
“Kesalahanku. Kamu sengaja menghindariku kan?” tanya Lyla lagi.
Dylan menunduk, membuka halaman buku yang dibacanya, “Tak ada.”
“Kalau begitu jawab, kenapa tiba-tiba kau suruh Nick menginap di kamarku? Kenapa kau suruh Larry pindah ke sampingku?”
Dylan tak ingin menjawabnya. Ia langsung berdiri berniat meninggalkan kelas. Tapi Lyla menahan ujung kemejanya.
“Jangan begini...” ujar Lyla pelan terlihat sangat sedih, “Aku lebih suka kamu memarahiku dan membentakku... apa kesalahanku begitu besar?”
Yang punya kesalahan besar itu aku Lyla, aku, Mom, dan Dad! Kesalahan kami terlalu besar sehingga membuatku tak sanggup menemuimu, batin Dylan. Dengan dingin Dylan menepis tangan Lyla, dan keluar dari kelas.
©©©
“Hai,” sapa Nick yang langsung duduk di samping bangku Lyla yang sedang makan siang di Cafetaria.
“Hai...” jawab Lyla lesu.
“Hari ini kamu ada acara?” tanya Nick.
Lyla mengingat-ingat, “Ehmm... sebentar lagi ada latihan drama. Aku harus datang untuk mengoreksi naskah...”
Nick langsung cemberut, “Yah, padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan...”
Jalan-jalan? Ah benar juga, kurasa aku perlu jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku sedikit. Aku tak bisa terus-menerus memikirkan Dylan si bodoh itu...
“Besok aku bebas. Aku juga ingin jalan-jalan. Kemana kamu akan mengajakku?” tanya Lyla antusias.
“Bagaimana kalau Carlisle Beach? Angin pantai di pagi hari akan enak sekali rasanya...” tawar Nick.
Lyla tersenyum senang dan mengangguk, “Boleh!”
©©©
Latihan drama berlangsung. Lyla datang ditemani oleh Nick. Mereka menonton pentas drama yang dimainkan, yang mengambil kisah Jack The Ripper. Pembunuh berantai dari London. Meski sudah direncanakan tema cerita itu dari jauh-jauh hari, sungguh ironis jika dimainkan sekarang oleh murid-murid Convinient High School yang terancam oleh pembunuh yang sama gilanya atau bahkan lebih gila dari Jack The Ripper.
Saat Lyla sedang asyik menelaah naskah, ia dikejutkan oleh kedatangan seorang cowok yang membawa banyak kertas-kertas arsip dan kelihatan lelah. Dylan.
“Ah... Dylan, nak, sungguh aku senang sekali kamu datang hari ini...” seru Mrs. Linda, “Kau tahu kan peranmu sebagai Inspektur Frans adalah peran utama? Kami tak bisa latihan tanpamu!”
“Ah ya... aku tahu...” sahut Dylan malas. Untuk sesaat pandangan matanya dan pandangan mata Lyla sempat bertemu. Tapi Lyla lebih dulu membuang muka. Dylan cuma bisa menghela nafas.
“Lihat ini. Hari ini akan banyak sekali scene-scene yang dilatih, semakin menumpuk jika kau tak datang...” Mrs. Linda menunjukkan script Dylan.
“Bagaimana kalau langsung kita mulai dan selesaikan semua ini?” tanya Dylan kesal. Ia benar-benar letih. Seharian ia habis diforsir kerja untuk mencari sedikit petunjuk mengenai kasus ini. Nihil.
“Baik... baik... Henry! Bersiaplah! Kita akan melatih scene 16!” teriak Mrs. Linda.
“Okay Mam...” sahut Henry yang berperan sebagai asistennya Inspektur Frans.
Latihan scene 16 dimulai. Dylan mengendurkan dasinya dan naik ke atas
Inspektur Frans alias Dylan mendekati mayat Elizabeth dan membungkuk untuk melihat lebih dekat. Henry yang berperan sebagai asistennya mengikuti Dylan.
“Jadi bagaimana, Sir? Apakah mungkin ini dilakukan oleh penjahat gila? Ini sudah mayat ke-tiga minggu ini...” ujar Henry.
“Gila, ya, tapi terpelajar,” sahut Dylan yang sudah menjelma menjadi inspektur Frans.
“Terpelajar? Penjahatnya adalah orang terpelajar?” tanya henry heran.
“Ya, lihat saja sayatan luka di perut ini. Begitu rapih, dan bahkan tak ada darah tercecer. Padahal dilihat dari waktu kematiannya, gadis ini dibunuh malam hari. Dan di tempat ini tak ada penerangan sedikitpun. Namun, penjahatnya begitu lihai menjahit luka ini tanpa kesalahan di tempat yang gelap seperti ini. Kemungkinan dia adalah seorang ahli bedah, paling tidak tukang jagal...” jelas Dylan cepat.
“Be... begitu... Jadi apa yang akan kau lakukan, sir?” tanya Henry yang tergagap dan berusaha mengimprovisasi dialognya sebisa mungkin. Kenapa? Karena Dylan tak mengikuti dialog di skrip sedikitpun.
“Kita harus membawa mayat ini ke bagian forensik. Jahitannya di perut, kemungkinan ada organ dalam mayat ini yang diambil. Kita harus segera memeriksanya,” jawab Dylan.
“Ba... baik...” Henry berpaling ke arah teman-temannya yang berperan sebagai para polisi London, “Kalian dengar itu? Cepat... ehm... bawa mayat ini ke bagian forensik dan... amankan TKP!”
“Baik!” sahut teman-temannya.
“CUT!” teriak Mrs. Linda, “Dylan kau sudah bagus, bagus sekali nak, dan Henry! Apa-apaan sikapmu yang kaku itu! Kau tidak bisa berakting jelek seperti itu! Pentasnya tinggal beberapa hari lagi!”
Henry melotot. Sementara Dylan cuma mendesah malas menanggapi pujian dari Mrs. Linda.
Henry yang kesal berjalan menuju Lyla dan Nick. Ia membanting naskah dialognya kemeja, sambil menggerutu, “Apa-apaan itu! Dia tidak mengikuti dialognya sedikitpun! Aku harus berimprovisasi mati-matian supaya nyambung!”
Lyla tertawa kecil, “Dia tidak mengikuti dialog. Dia hanya menyebut analisis yang dibacanya dari novel Jack The Ripper, dulu saat masih kecil.”
“Kalau saat pentas dia begitu lagi, aku akan mundur dari drama!” sergah Henry yang masih kesal setengah mati.
“Sabar...” bujuk Lyla.
“Kurasa kau perlu baca novel itu juga, Henry,” saran Nick yang tersenyum geli.
Henry cuman merengut kesal.
“Berikutnya scene 24! Gwen, bersiaplah!” teriak Mrs. Linda.
DEG! Lyla mencelos. Scene 24? Itu kan scene dimana Dylan dan Gwen...
“Uhm... Mam, bisa tidak kita melatih scene itu besok?” pinta Gwen yang sudah hafal naskah. Ia langsung merasa tak enak pada Lyla yang sedang menonton.
“Tidak bisa! Sekarang kita memanfaatkan waktu yang ada, mumpung Dylan sedang hadir hari ini...” tegas Mrs. Linda.
Gwen memandang Dylan tajam, cowok bodoh! Kau tak memikirkan perasaan Lyla apa?!
Dylan yang menyadari tatapan Gwen buru-buru membuka naskahnya untuk pertama kali. Scene 24? Scene yang mana? Ia mendelik begitu mendapati adegan di scene tersebut. Hahh?! Ini kan...
“Ayo mulai... mulai... cepat!” perintah Mrs. Linda.
Dylan naik ke atas panggung dengan pahit. Ia bisa memanfaatkan adegan ini agar Lyla menjauh darinya. Ia langsung menarik tangan Gwen agar segera juga naik panggung, memainkan adegan mereka.
Adegan dimana Inspektur Frans yang dimainkan Dylan, dan Mary Ann yang dimainkan Gwen, berciuman.
Latihan berlangsung. Lyla hanya bisa menonton adegan itu dengan mata nanar. Dia yang menulis adegan itu, dia juga yang meminta Dylan memerankannya, jadi meski hatinya terasa sakit sekali saat ini, dia harus menerimanya.
Nick menepuk bahu Lyla lembut. Lyla yang seolah baru tersadar dari hipnotis menengok ke arah Nick.
Nick sempat kaget melihat air mata Lyla yang keluar tiba-tiba, tapi ia berusaha tersenyum, “Kita pergi dari sini yuk?”
Dylan mengusap bibirnya. Ia melihat ke tempat Lyla, dan ternyata Lyla sudah tak ada. Baguslah... gumamnya dalam hati.
Sementara Gwen juga melakukan hal yang sama, tapi ia tak berani melihat ke arah Lyla. Gwen cuma jongkok dan mengusap mukanya frustasi, ah... dasar bego-bego-bego!

4 komentar:

mici 'Ka_Dek' mengatakan...

CHS 12 akhirnya tayang juga,
thx din

amitokugawa mengatakan...

wahh..udah keluar ya?
keren!
part ini kayaknya lebih fokus ttg hubungan lyla-dylan n kehidupan sekolah ya

lanjuut

Yulia mengatakan...

Semangat y, ttp d tu'gu klnjtnnya.. Klo blh tau ada brp chapter y??

Anonim mengatakan...

lanjutan nya mana ni?? udah bulan oktober ni..hehehe
koq blom nongol lagi?