An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 22 September 2010

Convinient High School chapter 11

©©©
Sejak saat itu Dylan mengalami lebih banyak kesibukan. Menyelidiki kasus, menjaga Lyla, sekarang ditambah ikutan pentas drama.
“Arrrgghhh... apa sih yang ada dipikirannya! Kalau aku ikutan pentas drama siapa yang akan menjaganya?!” gerutu Dylan sambil memasang muka jutek ketika makan siang.
“Sabar, kau sendiri kan yang mutusin buat tak memberitahu Lyla, bahwa dia yang akan jadi korban berikutnya, jadi terimalah konsekuensinya...” ujar Seiji sambil menepuk bahu Dylan, “Soal Lyla, biar aku saja yang menjaganya.”
“Kau kan menangani kasus, kalau aku latihan drama bodoh itu dan kau menjaga Lyla, siapa yang akan mengurusi kasus?” tanya Dylan kelihatan frustasi dan kurang tidur.
“Ya sudah, biar Rifki yang akan menjaga Lyla, dia selalu melakukan tugasnya dengan baik. Percayalah...”
“Mana anak itu sekarang?” tanya Dylan lagi.
“Maksudmu Nick?”
Dylan mengangguk malas.
“Dia sedang rapat dengan pengurus sekolah. Ada kemungkinan sekolah ini akan ditutup...”
“Baguslah, semoga Kepala Sekolah keras kepala itu menyadari kebodohannya dengan membiarkan muridnya belajar di lingkungan berbahaya seperti ini,” sahut Dylan.
Seiji cuma manggut-manggut.
“Eh, tunggu, kalau Ketua Murid payah itu sedang rapat, sekarang Lyla bersama siapa?!” seru Dylan panik.
“Ada Rifki yang sekarang mengawasinya, tenang sajalah. Jangan cemas gitu. Kau butuh istirahat kurasa,” saran Seiji.
“Mana bisa? Ingat kita masih ada kerjaan lagi, memeriksa riwayat Lyla. Kalau kita tahu riwayatnya mungkin kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk siapa orang gila yang sudah mengincar nyawanya...”
“Yah, dari sedikit petunjuk yang kita punya,” tambah Seiji lesu.
©©©
Seiji dan Dylan duduk di hadapan komputer. Seperti biasa, Dylan selalu bersemangat ketikat berhadapan dengan komputer dan segala tetek bengeknya.
Mereka membuka situs rahasia FBI dan memeriksa arsip-arsipnya.
“Lyla kan datang ke rumahmu sepuluh tahun yang lalu, berarti kita cari arsip sepuluh tahun lalu...” saran Seiji yang mengalah untuk diam dan menonton kerjaan Dylan.
“Iya, aku tahu!” sergah Dylan sebal. Ia menuju arsip sepuluh tahun yang lalu dan menuliskan nama Lyla William.
Ada beberapa arsip kasus yang muncul.
“Kita pilih yang mana?” tanya Seiji.
“Cari yang berdekatan dengan tanggal kedatangannya di rumahku, 15 Desember,” ujar Dylan antusias, “Ini dia tanggal 12 Desember. Sebuah keluarga dibantai oleh orang tak dikenal.”
“Apa yang itu?”
“Mungkin, Lyla tak pernah menyebutkan siapa keluarganya, mungkin mereka semua sudah meninggal,” ucap Dylan dengan sedikit perasaan bersalah. Ia membuka arsip itu.
Seiji mulai membacanya, “Keluarga William, yang terkenal kaya raya dibantai oleh seseorang yang tak dikenal. Albert William meninggal karena ditembak pistol, begitu pula putranya Kevin William yang ditemukan tak jauh dari rumah mereka tewas terkapar dengan peluru bersarang di punggungnya...”
“Iya, ini pasti arsip kasus Lyla. Lyla selalu menggigau dan menyebut-nyebut nama Kevin dalam tidurnya. Kupikir siapa, ternyata kakaknya,” sela Dylan miris.
“Seluruh keluarga itu terbunuh di dalam rumah besar keluarga William yang lalu terbakar. Sepertinya pemicu kebakaran itu adalah bensin yang disiramkan dimulai dari dapur, menjalar hingga ruang tamu. Hampir tak ada yang selamat kecuali putri bungsu keluarga William yang bernama Lyla William. Lyla William ditemukan di dekat tubuh kakaknya Kevin William, tak jauh dari rumah mereka. Pelaku pembantaian juga tewas dalam peristiwa kebakaran tersebut. Sepertinya ia bunuh diri menggunakan pistol lebih dulu. Karena tubuhnya hangus terbakar, identitasnya tak diketahui. Hanya tersisa sebuah topi yang hampir terbakar seluruhnya dengan inisial J.”
“Coba kita liat arsip foto-fotonya,” ujar Dylan penasaran. Ia lalu membuka arsip foto-foto kasus itu.
Ada foto rumah Lyla yang megah dan kini tinggal puing, foto masing-masing keluarga William, dan juga setelah menjadi mayatnya. Foto Kevin, kakaknya Lyla. Juga foto yang paling bikin Dylan merasa menjadi orang paling berdosa karena selalu menjahati Lyla, foto Lyla yang sedang digendong oleh polisi setelah ditemukan, dengan pandangan mata kosong dan wajah pucat.
Kemudian mereka melihat foto-foto pelaku pembantaian. Ketika melihat mayat pelaku pembakaran beserta foto topinya, Dylan membeku.
“Dylan, hei, kenapa kau berhenti di satu foto ini? Apa ada sesuatu?”
Dylan tak menjawab. Ia masih memandang layar komputer kelihatannya shock.
“Dylan...” panggil Seiji.
“J, topi itu...” Dylan berusaha bicara.
“Apa? Aku tak mengerti!”
Dylan bergetar hebat, “Inisial J, itu topi... topi baseball... milikku... Inisial J... Inisial ayahku... J, Jhonny McMillan...”
©©©
Seiji sedang menyandar di dinding kelas. Disampingnya ada Rifki yang sedang balik ke identitas asalnya, maksudnya sedang tidak menyamar. Mereka berdua sama-sama sedang memperhatikan Dylan yang sedang menelepon ibunya.
“Katakan padaku... jelaskan padaku semuanya Mom!” bentak Dylan di telepon.
Dari balik telepon terdengar suara isak tangis Mom, “Jadi... kamu sudah tahu...?”
“Jadi ini sebabnya! Kenapa hidupku hancur berantakan karena Lyla, karena kita berhutang padanya! Karena Dad membunuh seluruh keluarganya! Iya?!”
“Dylan...”
“Lyla kehilangan seluruh keluarganya, ibunya, ayahnya, kakaknya, karena Dad?” Dylan mulai menangis, “Apa Mom pikir, dengan menampungnya dirumah itu cukup untuk menebus kesalahan Mom dan Dad?! Tidak Mom, takkan pernah...”
“Maaf... maaf...”
“Takkan pernah Mom...” desis Dylan. Seiji bisa melihat partnernya sekarang sangat rapuh, ia bahkan gemetaran. Perasaannya campur aduk, marah, kecewa, sedih, sakit hati. Bahkan Seiji tahu Dylan mencintai Lyla, pasti sangat menyakitkan.
“Saat itu... saat itu ayahmu merencanakan sesuatu dengan pria asing... Mom hanya mendengar ayahmu menyebutkan tentang balas dendam dengan William... Mom tak tahu kalau ayahmu akan melakukan itu... membunuh... Mom tak tahu... maafkan Mom, sayang, maaf...”
“Percuma Mom... apa Mom tak pernah memikirkan perasaan Lyla jika dia tahu... perasaan Dylan...?”
“Sayang...”
Dylan mematikan hapenya.
“Aaaarghhhh!!!” teriaknya kencang sambil membanting hapenya ke lantai, hingga hancur berkeping-keping. Mengambil meja dan kursi kelas, melemparnya ke arah yang tak beraturan. Mengamuk sejadi-jadinya, lalu terduduk lemas, dan menangis.
Seiji memejamkan mata. Rifki memandang langit-langit. Tak ada gunanya berusaha sok menghibur Dylan. Mulai sekarang, takkan mudah.

3 komentar:

mici 'Ka_Dek' mengatakan...

owh, mungkin gak din yg dilihat lyla rekan ayah dylan yg ngebantai keluarga lyla, yg nyari lyla buat lanjutin balas dendamnya?
vi, pa hub nya sm nicole n 2 korban lainnya?

makin seru din,
ksh spoiler lg dong,
pa alasan ayah dylan ngelakuin itu?

amitokugawa mengatakan...

eh? ayahnya dylan??
baru kelihatan apa sebenarnya motif lyla tinggal di rumah keluarga dylan
trus siapa pria yg dilihat lyla? wajahnya terbakar bukan? apa ada hubungannya sama peristiwa kebakaran yg menewaskan hampir seluruh keluarga lyla??

lanjut lanjut lanjuuutt

Snow Flakes mengatakan...

@Mici 'Ka_Dek' Spoilernya yang itu dah keseluruhan tuh... ntar kalo dikasih spoiler lagi, ketahuan dong.. hehehe...

Ayo semuanya bikin analisis!!!