An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 22 September 2010

Convinient High School chapter 10

Seiji sedang keliling TKP ketika Dylan datang dengan wajah kusut. Ia sudah menebak apa yang terjadi, namun memilih untuk menanyakannya saja.
“Bagaimana rekamannya? Siapa yang terekam? Apa kau kenal?” tanyanya bertubi-tubi kemudian menambahkan sambil nyengir, “Gagal ya, rekamanmu itu?”
Dylan cuma menghembuskan nafas kesal.
“Apa pelakunya juga menemukan kamera mini yang kau pasang lalu merusaknya? Atau menutupnya dengan kain hitam?”
“Entahlah,” ujar Dylan yang mulai kelihatan putus asa, “Rekaman itu aneh. Kameraku tidak rusak sama sekali tapi ketika sosok pelaku akan terlihat sedikit lagi, gambarnya rusak.”
“Kok bisa?” Seiji ikut-ikutan heran.
“Aku tak tahu!” seru Dylan kesal, “Anggap saja proyek rekamanku gagal. Sekarang aku mau tahu, apa petunjuk yang sudah kau temukan.”
Seiji menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kebiasaannya sejak SMA, “Itu dia! Aku tak menemukan apapun. Bahkan kertas yang biasanya ditulis si pelaku untuk menyebutkan siapa korban berikutnya saja tidak kutemukan. Mungkin dia tak mau rencananya kita halangi, seperti kita yang sempat menyelamatkan Nicole atau mungkin dia sudah berhenti.”
“Meskipun dia sudah berhenti membunuh, aku tetap akan menemukan dan menangkapnya,” ujar Dylan tegas. Ia memegang cangkir yang diminum Nicole ketika ia diracun.
“Kalium sianida,” jelas Seiji, “Sepertinya dimasukkan ke dalam tehnya Nicole.”
Dylan melihat-lihat cangkir itu lalu membalikkannya. Ia tersenyum menang.
“Lihat ini,” tunjuk Dylan pada Seiji. Ia memperlihatkan tulisan di pantat cangkir, “Aku yakin tulisan aneh ini bukan berarti made in korea. Bacalah!”
Seiji buru-buru mengambil cangkir itu dan membaca tulisan di belakangnya. Tak lama kemudian wajahnya berubah. Ia terlihat pucat dan kaget. Bahkan jauh lebih kaget dibandingkan saat membaca nama Nicole dulu. Dylan jadi sangat penasaran.
“Siapa?” tanya Dylan, “Apa yang tertulis disitu Seiji?”
Seiji masih menatap cangkir itu, “Ehm, Dylan, kurasa sebaiknya kau nanti saja kuberitahu. Aku perlu bicara denganmu sebentar.”
“Jangan basa-basi! Katakan saja!” perintah Dylan makin tak sabar.
Seiji hanya diam sambil menatap Dylan dengan aneh.
Dylan berdecak kesal. Dengan sigap diambilnya cangkir itu lalu dibawanya pergi.
“Dylan! Hei! Mau kemana kau?!”  seru Seiji yang langsung mengejar Dylan, “Dylan! Itu barang bukti! Jangan dibawa meninggalkan TKP!”
“Di tempat ini bukan kau saja yang mengerti tulisan Korea. Jika kau tak mau memberitahu, biar aku tanya pada Lyla,” ujar Dylan yang mempercepat langkahnya.
Seiji melotot, wajahnya makin pucat, “Jangan! Jangan Lyla!”
Dylan tak menggubris. Ia menyusuri koridor sekolah dengan langkah cepat tanpa bisa disusul oleh Seiji. Seiji berusaha sebisa mungkin mengejarnya sambil menggerutu, bocah ini sebenarnya makan apa sih?!
Tiba-tiba langkah Dylan berhenti pintu cafetaria.
“Dylan...” panggil Seiji.
Tapi mata Dylan terpaku pada seorang pria yang sedang duduk di bangku cafetaria sambil makan puding. Pria berkacamata itu terlihat biasa saja, sama seperti murid lainnya, tapi mata tajam Dylan mengenalnya. Dengan langkah sigap ia menghampiri pemuda itu.
Dylan duduk di depannya.
“Kau bisa membongkar penyamaranku,” ujar pria itu dingin. Matanya masih berkonsentrasi pada puding di depannya.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku,” ujar Dylan.
Pria itu menatap Dylan lama, kemudian menatap Seiji yang menggeleng-geleng panik.
“Apa?”
“Kau mata-mata, profesimu mengharuskanmu untuk menguasai berbagai bahasa...” kata Dylan lagi, ia menunjukkan cangkir yang dibawanya dan memperlihatkan tulisan di balik cangkir itu, “Bacakan untukku.”
Pria itu, alias Rifki yang sedang menyamar menjadi murid meraih cangkir dan membaca tulisannya, “Ini nama orang...”
“Ya, siapa?” tanya Dylan lagi.
Seiji berusah mencegah Rifki bicara, tapi tangan Dylan menghalanginya.
“Lyla William.”
©©©
Lyla sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sendirian. Malam-malam. Ia habis menyelesaikan tugas dari guru Seni buat pentas drama klasik minggu depan. Dan ia banyak sekali dapat kritikan, membuatnya harus bertahan di kantor guru itu sampai jam 08.00 malam.
Koridor sekolah jam segini memang sangat sepi, apalagi dengan penerangan yang terbatas, kesan menyeramkan juga ikut muncul. Lyla mempercepat jalannya. Ia tak mau bertemu pembunuh yang masih berkeliaran di sekolah jam segini.
Saat tinggal dua belokan lagi menuju kamar ia melihat seseorang. Orang yang aneh. Lyla merasa tak mengenalnya. Ia menyipitkan matanya untuk mengenali orang itu. Jarak mereka berdua cukup jauh, dan Lyla berdiri di tempat yang gelap. Sedangkan orang itu berdiri di bawah lampu penerangan yang temaram. Mata Lyla yang kini bisa melihat dengan cukup jelas menangkap itu bayangan seorang pria dengan wajah luka bakar. Lyla mengernyit, tidak ada yang memiliki luka bakar seperti itu di sekolahnya. Apa mungkin guru Kimia, Mr. Timothy? Biasanya dia suka bereksperimen dengan cairan-cairannya yang sering meledak dan melukai wajahnya sendiri. Ya, mungkin itu Mr. Timothy. Tapi Lyla merasa ada sesuatu yang familiar dari wajah itu.
Pria terduga Mr. Timothy itu berjalan dan belok ke lorong sebelah kanan. Lyla ingin mengikutinya namun ada yang menghentikannya. Seseorang menepuk pundaknya. Lyla bergidik. Ia langsung menoleh kebelakang.
“Gwen?!” pekik Lyla pelan begitu tau siapa yang sudah mengagetkannya. Tak ayal ia menghembuskan nafas lega, “Ffiuhh... kau ini. Kukira siapa.”
Gwen tersenyum dan menampakkan barisan gigi putihnya, “Lyla, kau kemana saja. Habis makan malam kau langsung menghilang. Aku khawatir tahu.”
“Ah, aku habis dari ruangan Mrs. Linda buat mengerjakan tugas naskah drama...”
“Oh ya, benar, naskah drama itu, aku ingin membacanya dong...” pinta Gwen sambil berjalan kembali ke kamar, diikuti Lyla.
“Tidak bisa. Masih banyak yang harus direvisi, bagianmu juga,” jelas Lyla. Ia lalu teringat pria yang baru dilihatnya tadi, “Uhm... Gwen...”
“Ya?”
“Apa belakangan ini ada murid yang terluka bakar di bagian wajahnya?” tanya Lyla.
Gwen menatap Lyla bingung sambil berpikir, “Kurasa tak ada.”
“Tak ada? Apa guru? Mr. Timothy?”
“Aku baru saja menemui Mr. Timothy, dia baik-baik saja Lyla...”
Lalu yang kutemui itu siapa? Batin Lyla.
“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?” Gwen balik bertanya melihat wajah Lyla yang serius.
Lyla menggeleng dan tersenyum pada Gwen, “Ah, tidak ada apa-apa. Hanya pikiranku sedikit kacau tadi.”
Gwen tampaknya tidak curiga sama sekali. Mereka beruda berjalan menuju kamar mereka, kemudian melihat pemandangan aneh disana.
Dylan, Nick, dan Seiji menunggu dengan gusar di depan kamar mereka berdua. Lyla dan Gwen saling berpandangan bingung.
“Darimana saja hah?!” bentak Dylan begitu Lyla tiba. Membuat Lyla takut.
“Sabar Dylan,” ucap Seiji.
“A... aku habis dari ruangannya Mrs. Linda. Ada tugas...” ujar Lyla terbata-bata.
Dylan tak bisa menahan emosinya, “Kau tahu, ini malam! Dan kau seorang perempuan yang tak bisa apa-apa malah jalan-jalan di koridor sekolah dimana pembunuh gila lagi berkeliaran. Kemanakan akal sehatmu?!”
Lyla mengkerut. Ia tak pernah dibentak seperti itu sebelumnya oleh Dylan, bahkan saat ia merusakkan komputer Dylan saat kecil, Dylan tak pernah semarah ini.
“Hei! Apa kau tak pernah diajari cara berbicara yang sopan oleh orang tuamu?!” seru Gwen tak terima Lyla di marahi.
Dylan melotot pada Gwen dengan menyeramkan, Gwen membalasnya tak kalah seram.
“Sudahlah Gwen, tak apa...” bujuk Lyla.
“Tak apa apanya! Kau tak boleh terus-menerus pasrah dimarahi seperti  itu Lyla,” omel Gwen, “Dia tak punya hak memarahimu, itu semua hak mu kan mau jalan kemana saja dan kapan saja! Jangan biarkan dia terus-menerus mengaturmu!”
“Kau tak tahu apa-apa!” bentak Dylan pada Gwen.
“Sudahlah Dylan,” pinta Seiji yang melihat Dylan sudah mendekati Gwen dengan tampang galak. Ia menghalanginya. Kemudian menatap Lyla dengan pandangan cemas, “Kata-kata Dylan ada benarnya Lyla, sama sekali tak bijak keluar kamar begini malam. Sekarang keadaan semakin tak aman.”
“Tapi dia kan ada tugas...” bela Gwen.
“Meski ada tugaspun, tetap tak boleh. Kami akan memberitahu semua guru-guru agar tak ada yang memberi tugas lewat sore. Sehabis jam makan malam, semua siswa harus kembali ke asramanya masing-masing. Termasuk kamu juga Lyla,” tegas Seiji, “Kita sudah melakukan yang terbaik buat keamanan sekolah ini, jadi jangan beri pembunuh itu kesempatan, paham?”
Lyla mengangguk pelan, tak berani menatap Dylan.
“Masuk kamar sekarang,” ujar Dylan dingin.
Lyla buru-buru masuk kamar, disusul Gwen. Tapi mereka melihat sesuatu yang tak biasa.
“Kasur siapa ini?” tanya Gwen melihat sebuah kasur terhampar di bawah dekat ranjangnya dan ranjang Lyla.
“Mulai sekarang aku akan tinggal disini,” kata Dylan.
©©©
Flashback...
“Jadi apa yang akan kamu lakukan?” tanya Seiji pada Dylan yang sedang stress berat sehabis mengetahui tulisan yang tertera di cangkir, “Sekarang kau sudah tahu, Lyla calon korban berikutnya. Kuharap kau akan melakukan sesuatu yang pintar dan bijaksana.”
“Aku tak tahu...” gumam Dylan pelan. Ia memegangi kepalanya kemudian berseru frustasi, “Arrghhh... Sial! Lama-lama aku bisa gila!”
“Baik, kita akan mulai memikirkannya secara perlahan-lahan. Pertama, motif, buat apa dia mengincar Lyla?”
“Ya, buat apa?” tanya Nick yang ikut nimbrung. Dia mendengar dari Rifki bahwa yang diincar berikutnya adalah Lyla, makanya dia menghampiri Dylan dan Seiji.
“Entahlah, ketiga korban, Terry, Peter, Nicole, semuanya adalah anak populer. Mereka bahkan sempat terlibat cinta segitiga, jadi kupikir ini pasti akan jadi salah satu motif yang bagus. Tapi Lyla, dia hanya orang biasa yang sering di bullying oleh ketiganya. Ya, Lyla korban bullying mereka bertiga, namun tak ikut terlibat dalam cinta segitiga mereka bukan?” simpul Dylan.
“Tentu saja tidak,” ujar Nick.
“Oke, motif pembunuh itu mengincar Lyla apa?” tanya Seiji, “Gadis innocent seperti Lyla tampaknya takkan pernah melukai orang sampai menyebabkan orang itu dendam begitu dalam. Apa Lyla pernah melakukan suatu kesalahan Nick?”
Nick menggeleng, “Tidak pernah.”
“Dylan, apa dulu Lyla di rumahmu pernah menyebabkan seseorang terluka atau melakukan suatu kesalahan besar?”
“Gadis ceroboh seperti dia? Mungkin pernah?” cetus Dylan iseng.
“Benarkah?” seru Nick tak percaya.
“Tidak, aku hanya bercanda. Dia memang ceroboh, dan sering membuat jengkel, tapi tak pernah sampai begitu parah hingga menyebabkan orang ingin membunuhnya,” ujar Dylan pelan, tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Ah aku tahu! Siapa orang yang kemungkinan besar sangat marah padanya dan ingin membunuhnya!”
“Siapa?” tanya Nick dan Seiji tegang.
Dylan tersenyum nakal, “Aku. Siapa lagi yang sudah dihancurkan hidupnya sedemikian rupa oleh gadis ceroboh itu hingga bisa menyimpan dendam kesumat selain aku?”
“Kau ini! Aku pikir kau akan serius,” gerutu Seiji. Kemudian giliran Seiji yang teringat sesuatu, “Ah, tunggu. Dulu kau bilang padaku bahwa asal-usul Lyla tak jelas bukan? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan masa lalunya Lyla?”
“Mungkin. Sebaiknya kita memeriksanya nanti...”
“Baik, sekarang kita akan membahas masalah Lyla, apa kau akan memberitahunya Dylan?” tanya Seiji.
Dylan diam saja. Seiji berpaling pada Nick.
“Kau saja Nick.”
Nick memandang Seiji dengan pandangan memelas, “Aku diminta olehmu untuk memberitahu Nicole bahwa dia calon korban berikutnya dan sekarang dia sedang sekarat. Teganya kau menyuruhku melakukan hal yang sama pada Lyla.”
Seiji mendesah, “Ah kalian berdua sama payahnya. Ya sudah biar aku saja.”
“JANGAN!” seru Dylan dan Nick bersamaan.
“Lalu?” tanya Seiji tak sabar.
“Kurasa percuma saja. Kita sudah memberitahu Nicole, dan melindunginya dengan keamanan tingkat tinggi, dan kecolongan. Kalaupun Lyla diberitahu, kurasa takkan berpengaruh apa-apa.”
“Jadi bagaimana Lyla bisa selamat sementara kemungkinan sekarang dia sedang berjalan-jalan sendirian di koridor sekolah sementara orang gila sedang mengincar nyawanya saat ini...”
Dylan menghela nafas berat, “Biar aku yang akan melindunginya dengan tanganku sendiri.”
©©©
“Apa? Tak mau! Tak boleh... kau... Ni Bu Yao!” sergah Gwen tak terima dengan berbagai bahasa bercampur-campur.
“Terserah, kalau kau tak mau, kau bisa keluar dari kamar ini...” ujar Dylan enteng.
Gwen membelalak kaget, “Apa?! Dan membiarkanmu berduaan dengan Lyla?! Tidak, tuan, harusnya kau yang keluar dari kamar kami!”
“Aku bisa melakukan apapun, aku punya otoritas, ingat?” ujar Dylan lagi sambil tersenyum jahat.
“Cowok mesum!” rutuk Gwen kesal.
Dylan cuek saja. Lyla cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah Dylan. Ugh, aku pasti sedang sial banget sekarang.
©©©
Sejak saat itu Dylan selalu mengikuti kemana Lyla pergi, jika dia sibuk, maka Seiji akan menemani Lyla. Jika Seiji dan Dylan keduanya sibuk, maka Nick yang akan menemani Lyla. Dan jika ketiganya benar-benar sibuk, maka Rifki akan mendapatkan tugas diam-diam mengawasi Lyla. Tugas yang sangat mudah buat Rifki, tapi juga sangat menjengkelkan karena terlalu mudahnya. Yang penting Lyla jangan sampai dibiarkan satu detik pun sendirian.
Sekarang Lyla sedang kumpul kelompok drama. Lyla memang tak kebagian peran, tapi di ditugaskan oleh guru seni untuk membuat naskah drama dan sekarang ia harus membagikan naskah drama yang dibuatnya pada setiap orang.
“Gwen, ini naskah Mary Ann, Colin ini naskah Mr. Burrow, dan ini naskah Inspektur Frans buat Dave, mana Dave?” tanya Lyla ketika membagikan naskah yang sudah diperbaikinya satu-satu.
“Lho, bukannya Dave tak masuk hari ini?” ujar Colin, anak kelas 2 Convinient High School.
“Dave kan ikut pertukaran pelajar ke London,” sahut Gwen.
“Apa?! Pertukaran pelajar?!” seru Mrs. Linda panik, “Sampai kapan?”
“Dua bulan kalau tak salah...” Gwen mengingat-ingat.
“DUA BULAN!!!” Mrs. Linda berteriak amat kencang hingga murid-murid pada menjauh khawatir besok mengalami gangguan telinga. Ia mondar-mandir panik, “Bocah itu! Apa dia lupa kalau dia kebagian peran utama di drama ini?!”
“Sepertinya kita harus mencari penggantinya, Mam,” saran Colin.
“Pengganti bagaimana?! Pentas Musim Gugurnya sebulan lagi, dan skripnya Inspektur Frans banyak sekali, siapa yang begitu jenius bisa menghafalkan skrip begitu banyak dan berakting memukau selain Dave?”
Lyla memandang Dylan yang sedang memojok sambil baca buku. Gwen ikutan memandang Dylan. Anak-anak drama yang lain mengikuti arah pandangan Lyla dan Gwen. Tak ayal Mrs. Linda juga memandang Dylan, yang memang sedari tadi mengikuti kemana Lyla pergi.
Dylan yang sadar semua sedang memandanginya berkata ketus, “Apa?”
Lyla tersenyum manis, “Dylan, aku tak pernah melihat orang yang lebih jenius dan pintar selain kau...”
Dylan langsung mengernyit heran, “Kau tak pernah memuji dengan tulus, katakan saja mau apa?”
Lyla langsung menyerahkan skrip naskah ke tangan Dylan, “Nih, hafalkan. Kau ikut Pentas Drama Musim Gugur, selamat ya.”
“Hah?!”

3 komentar:

amitokugawa mengatakan...

jadi lyla korban selanjutnya???
salut juga sama dylan, seiji, nick, rifki, berusaha sebegitu keras biar lyla ga jadi korban

tp lucu ngebayangin kalimat terakhir..bukannya dylan payah soal seni???

no critic buat chap ini

*baca chap 11 ahh...*

Snow Flakes mengatakan...

@amitokugawa iya ami... tapi kalo akting Dylan jago banget. Kan dia sebagai FBI dia harus jago memanipulasi keadaan, orang, dan kasus..

amitokugawa mengatakan...

oiya..dia kan fbi ya?
makasih penjelasannya kak..
*garuk2 kepala*