An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 30 Agustus 2010

1 cowok dan 2 cowok


Mungkin akan ada yang merasa aneh dengan judul diatas, aku juga merasa aneh sendiri sebenarnya. Keabisan ide nih, jadi apa saja yang muncul kujadikan judul.

This time aku mau curhat, sorry, mianhae, afwan, maaf, bukannya aku mengerjakan lanjutan CHS tapi malah nulis yang gak penting. Hahaha,,, aku cuma mau sharing. Sebenarnya niatan sharing ini muncul pas liat sebuah sinetron di salah satu stasion TV pas subuh pagi. Di sinetron itu ada seorang cowok yang kukenal. Salah satu cowok yang pernah sekilas mampir di hidupku. Aku akan memulai kisahku sekarang....

1 cowok dan 2 cowok, sebenarnya maksudnya adalah 1 cowok merusak hidupku dan 2 cowok yang sudah mengembalikan hidupku.

Aku tumbuh besar dengan hinaan. Jika kalian melihatku dari luar aku akan memiliki dua kepribadian. Kepribadianku yang pertama, jika aku dihadapkan dengan sejumlah besar orang aku akan bersikap layaknya tak ada. Teman-temanku pada awalnya tak mau mengenalku. Aku bersikap sedikit antipati, misterius, dan pendiam. Tak ada yang akan menyangka kalau kepribadianku yang satunya adalah cewek cerewet, banyak ngomong,, ceroboh, sedikit banyak suka tertawa gak jelas ^_^. Tapi yah, hanya orang terdekatku yang tahu sifatku yang asli.

Aku terlalu takut dekat dengan orang lain. Terlalu takut buat disakiti, karena hidupku sudah penuh dengan masalah, aku tak ingin punya musuh. Aku tumbuh besar dengan hinaan, cacian secara fisik. Aku selalu malu dengan diriku sendiri, karena yang aku tahu aku adalah gadis yang amat jelek, gendut, bodoh. Itu yang kutahu. Meski seiring waktu aku mulai tumbuh sebagai gadis remaja, tetap saja hinaan itu masih melekat.

Aku memiliki seseorang yang kusuka. Itu normal sebagai gadis remaja. Dia adalah anak yang dititipkan kepada orang tuaku untuk sekolah di pesantren. Ayahku seorang ustadz di pesantren itu, jadi orangtuanya menitipkan dia padanya. Aku suka dia, dia begitu tampan, manis, juga keren. Tak lama sekolah di pesantrenku dia sudah banyak digilai para santriwati. Dia cowok yang populer. Aku bukan. Aku cewek aneh yang hanya memiliki sedikit teman. Karena itu aku memendam seluruh perasaanku padanya. Karena prinsip diriku, juga karena aku tak mau dia tahu aku,yang dia kenal pertama kali di sekolahnya, juga suka padanya. Aku bertindak seolah-olah aku membencinya. Well, banyak alasan kenapa aku membencinya. Dia berkali-kali seenaknya nyelonong masuk ke rumahku tanpa ucapan salam, membuatku yang kadang sedang dalam keadaan berantakan karena baru bangun tidur terlonjak kaget. Aku benci dia melihatku dalam keadaan berantakan. Dia tak pernah melihatku dalam keadaan yang baik, jadi aku benci dia karena aku merasa malu pada diriku sendiri. Jadi dia tak tahu perasaanku. Yang tahu hanyalah selembar kertas tempat aku mencurahkan perasaanku padanya. Tapi itu tak bertahan lama....

Seorang temanku mengkhianatiku. Teman yang sudah kupercaya, aku menjaga rahasianya. Tapi dia tidak. Dia menemukan lembaran kertas itu. Dia membacanya bersama teman-temannya. Saat itu aku masih tak tahu. Sampai rasanya aku menyadari ada yang berbeda dari teman-temanku yang seangkatan saat melihatku. Tatapan penuh kebencian, seolah-olah aku habis mengkhianati mereka. Aku masih bingung apa masalahnya. Aku selalu mencoba menghindari masalah, tapi kali ini ada apa?

Kemudian aku bertemu dengan temanku ah tidak, aku tak menganggapnya sebagai teman lagi, cewek itu, dan ia menatapku sinis. Di depanku, di hadapan banyak orang, dia menyebutkan penggalan kalimat yang tertulis di lembaran kertas isi hatiku. Sambil berteriak-teriak. Rasanya pandanganku gelap, hidupku hancur sudah. Aku dikira mengkhianati salah seorang temanku yang sedang berpacaran dengan cowok yang aku suka itu. Mereka semua mengira aku mau merebutnya. Merebut pacar temanku sendiri. Ingin sekali aku berteriak, tidak! Kalian salah! Lembaran kertas itu sudah tertulis jauh sebelum cowok itu dan pacarnya saling mengenal. Aku sudah mengenalnya lebih dulu! Aku sudah menyukainya lebih dulu! Cowok yang pertama kali kukenal di sekolah ini adalah dia dan cewek yang cowok itu pertama kali kenal di sekolah ini adalah aku! Kami lebih dulu saling mengenal! Kalian salah paham! Salah besar! Jangan menyebutku perebut kekasih orang, jangan pernah, karena aku hanya memendam perasaanku jauh di dalam hatiku...

Tapi yang bisa kulakukan hanyalah menangis, aku tak tahu harus bersembunyi dimana lagi apalagi setelah kutahu kalau cowok itu tahu tentang lembaran kertas itu. Dia tahu aku suka padanya selama bertahun-tahun. Dia tahu semuanya tentang isi hatiku. Aku sangat malu, dan tak tahu harus bersikap apalagi. Dan dia sudah menghancurkan diriku juga, dengan bercerita tentang diriku yang jelek-jelek. Mungkin untuk menepis gosip antara aku dengannya. Jadi, kini tak hanya seluruh angkatan yang tahu, seluruh santri tahu. Aku hanya berdo’a agar ayahku tak juga mengetahuinya, karena bisa-bisa aku dihukum gantung *hehehe lebay...*. Sampai terakhir kali kami bertemu, dia selalu menghindariku. Mungkin merasa bersalah? Entahlah. Aku benci padanya karena telah menghancurkan hatiku berkeping-keping, mempermalukanku di depan banyak orang, menghancurkan diriku sepenuhnya.

Dalam waktu yang cukup lama aku seperti mayat hidup. Hidup penuh hinaan sudah cukup menyengsarakan tanpa kejadian memalukan itu. Rasanya sulit sekali membangun kepercayaan diri yang sudah runtuh. Aku jadi merasa tak pantas dilahirkan ke dunia. Hatiku sedikit terobati—sangat sedikit—ketika kutahu dia keluar di sekolahku. Alasannya klise, tak betah. Tapi aku tahu, dia habis menghancurkan hati dua orang gadis, sahabatku yang diputuskannya tanpa alasan, dan aku sendiri. Setelah dia keluar, semua orang mengenalnya sebagai cowok brengsek. Tak ada lagi yang mengungkit-ungkit kejadian mengenai lembaran kertas isi hatiku lagi. Mereka sudah bisa menerimaku lagi di lingkungan mereka. Namun, kali ini aku yang tak siap menerima mereka.

Aku merasa minder, aku ini jelek, tak pandai, gemuk—sedikit sih—dan tak ada apapun yang bisa diitimewakan dari diriku. Bagaimana bisa aku menyaingi sahabatku yang pernah jadi pacaran dengannya padahal dia gadis yang supel, pintar dan amat cantik? Aku amat malu...

Lagi-lagi aku menutup diri. Sampai dia datang...

Harus kuceritakan tentang temanku yang pernah membocorkan isi lembaran kertas perasaanku. Aku menyimpan rahasianya, tak pernah membocorkannya meski dia sudah membocorkan rahasiaku dengan amat menyakitkan. Namun akan kubocorkan sekarang. Dia menyukai seorang adik kelas. Menurutku bukan hal yang memalukan, tapi baginya yang merupakan santri tergolong bandel dan dekat dengan santri cowok, itu amat memalukan. Dia menyukai seorang adik kelas yang kuakui berwajah sangat manis, baiklah amat tampan, tinggi, pintar, cenderung pendiam, dan kaya. Hal yang terakhir itu bukan main-main. Cowok itu amat kaya raya, setiap idul adha dia selalu menyumbang seekor sapi buat dirinya sendiri! Dan kakaknya yang merupakan cowok yang didaulat sebagai cowok terpopuler, dan tertampan juga tak pernah absen menyumbang sapi dan puluhan juta rupiah tiap tahunnya. Mereka berdua bagai sepasang kakak-adik Pangeran sekolah. Tapi, karena sang kakak terlampau populer juga playboy, temanku tak menyukainya. Ia malah jatuh cinta dengan si adik yang lebih kalem dan menjauhi masalah. Sayangnya dia tak tahu, justru sifat calm-nya lah yang membuatnya lebih disukai.

Aku mengenalnya? Aku pernah bertemu sekali dengannya. Saat itu kami hampir bertabrakan dan teman-temannya menyoraki kami berdua. Ketika aku mau lewat, dia juga mau lewat jalan yang sama. Aku memberi jalan ke kanan, dia juga. Aku mengalah ke kiri, dia juga berniat sama. Kami terus begitu sampai lonceng berbunyi. Aku yang ingin mengomelinya—dia kan adik kelas—jadi melunak begitu melihat wajahnya yang polos dan salah tingkah. Aku jadi geli sendiri dan akhirnya cuma memasang wajah galak. Dia diam, mungkin membiarkanku mengambil jalan sendiri jadi aku pergi begitu saja meninggalkannya.

Aku melupakan kejadian itu begitu saja, namun ternyata dia tidak. Rupanya kejadian ‘hampir bertabrakan’ tempo hari itu membekas di hatinya. Dia mulai mendekatiku. Aku cuek, karena toh siapa aku? Pasti dia salah orang. Tapi ternyata dia benar-benar serius mendekatiku. Mengirimiku salam setiap harinya, menatapku dengan senyuman manis, memberiku kado-kado kecil lewat pembantuku...

Pada awalnya yang ada di pikiranku, yes! Dendamku pada temanku yang mulut ember itu terbalaskan! Cowok yang dia sukai malah mengejarku! Aku begitu senang sampai tak memperhatikan diriku sendiri, maklum, dendam kesumat. Aku tak melakukan apa-apa, dendam itu terbalaskan dengan sendirinya. Kemudian setelah itu aku cuek, sampai aku menyadari, ada seseorang yang menganggapku cantik!!!. Tiap pagi aku lewat di depan kelasnya, dia sudah menunggu pagi sekali dan menatapku dalam-dalam. Ketika aku melihatnya dia langsung tersenyum, dan raut mukanya seolah mengatakan, “Kau cantik sekali pagi ini.” Jantungku berdetak kencang, aku tak pernah dipuji cantik sebelumnya, menyedihkan memang tapi itu fakta. Dia melihatku, sebagai seorang wanita, sisi lain yang tak pernah dilihat orang sebelumnya. Dia mengagumiku yang bukan siapa-siapa, tak cantik, bahkan cenderung berantakan. Padahal dia pangeran sekolah yang disukai oleh sekitar 2000 orang santriwati, tapi dia memilihku! Ketika dia mendekatiku lewat kado-kado kecilnya, aku tahu dia tak sembarangan. Dia tahu resiko mendekatiku, bisa dijemur sampai kering oleh ayahku yang merupakan ustadz paling killer, tapi dia ambil resiko itu. Hanya agar aku bahagia, hanya agar dia bisa melihatku membalas senyumnya

Namun karena resiko itu, hanya sebatas ini yang bisa aku dan dia lakukan. Dia tak ingin menyakitiku karena ia tahu aku bisa dibunuh ayahku jika aku ketahuan memiliki hubungan—bahkan sekedar berkomunikasi—dengan santri putra. Dan aku juga tak ingin membahayakannya, jika benar kehadirannya diketahui oleh ayahku. Jadi kami hanya saling menatap, tersenyum dan ketika ia tersenyum dengan senyum malaikatnya aku selalu berbisik dalam hati, “Ya Allah, haruskah aku jatuh cinta padanya?”

Kami tak saling bertemu lagi, dia melanjutkan sekolahnya di tempat lain. Namun dia sudah meninggalkan hadiah yang sangat berharga untukku. Mengembalikan hidupku yang sebelumnya porak-poranda. Mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang bertahun-tahun karena hinaan dan cacian. Membuatku merasa, aku masih pantas untuk dicintai. Terima kasih...

Kemudian malaikat kedua muncul dalam hidupku. Mengembalikan keceriaanku yang tak pernah kutampakkan pada orang asing. Membuatku menyadari, aku harusnya tak selalu tertutup. Malaikat kedua itu adalah seorang cowok yang kalian bisa lihat di layar kaca.

Artis? Ya, dia seorang artis. Tapi kalian salah kalau mengira aku hanya mengenalnya lewat layar kaca. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia juga mengenalku dengan cukup baik. Kami pernah bertemu di lokasi syuting dalam dua hari yang penuh kenangan.

Aku ke lokasi syuting untuk melihat proses syuting yang disutradai oleh kakekku. Kakekku seorang sutradara film, ironis jika menyadari menantunya justru seorang ustadz yang begitu taat pada agama. Tapi ayahku dan kakekku cukup dekat.

Di lokasi syuting, aku bertemu dengannya. Cowok itu, dia salah satu artis yang bermain di film kakekku. Kami berkenalan dengan canggung karena aku menolak bersalaman dengannya. Bukan muhrim! Tegasku saat itu. Pikiranku mulanya tak terkonsentrasi padanya. Aku dan saudara-saudaraku sibuk bermain-main di lokasi syuting. Tapi rupanya ada sepasang mata yang mengawasiku, melihatku bermain dengan asyiknya. Itu dia.

Ketika aku lelah dan memutuskan istirahat, dia menghampiriku. Aku menatapnya bingung dan melihatnya gugup dan kaku. Dia menjulurkan sesuatu padaku. Sebuah permen. Permen Foxs warna kuning.

“Kuharap kamu suka,” ujarnya pelan.

Apa ini? Sebutir permen, apa maksudnya? Aku benar-benar bingung dan hanya bisa menerima permen itu tanpa berkata apapun.

Sepupuku menyenggolnya dan menegur, “Hei, kok cuma Dini aja yang dikasih? Buat kita mana?”

Dia cuma nyengir lebar dan berkata, “Maaf. Habis. Tinggal satu.”

Itu bohong besar. Aku tahu karena kulihat di balik kaca mobilnya tersimpan sekotak penuh permen Foxs. Tapi, dia yang ngasih, kuterima saja. Aku memakannya kemudian tersadar. Tunggu, warna permen itu kuning. Bajunya berwarna kuning, bajuku juga. Maksudnya aku dan dia serasi? Sial...

Besoknya, ada pikiran apa aku berniat memakai baju biru untuk ke lokasi syuting. Sampai disana kulihat dia masih mengenakan baju kuning kemarin dan dia terlihat kecewa padaku yang memakai baju biru. Aku masa bodoh, masa dia menginginkanku tak mengganti baju yang sudah kupakai seharian. Dasar bodoh! Tapi tak ayal hatiku merasa bersalah. Dia juga pasti tak ingin memakai baju yang sama dua hari berturut-turut. Apa dia mencoba setia? Aku geli memikirkannya.

Seharian sampai malam dan syuting berakhir, dia marah. Tanpa alasan jelas. Ketika aku ingin mengucapkan salam perpisahan, karena besok aku harus pulang ke kotaku, dia malah membanting pintu mobilnya kasar. Apa salahku?

Sepanjang perjalanan pulang, aku memikirkan sikapnya. Dan jawabannya baru kudapat sebulan kemudian. Dari Teh Yuyun, perias artis. Rupanya dia masih ingat padaku bahkan menyampaikan salamnya lewat Teh Yuyun.

Begitu melihatku Teh Yuyun langsung menggodaku kemudian cerita, “Sebenarnya masih ada sehari syuting lagi din... Pas tahu kalau kamu sudah pulang dia kaget banget, dia kira masih bisa ketemu kamu lagi besoknya. Dia cuma bisa nitipin salam ke kamu. Padahal kata temennya dia sudah nyiapin kejutan.”

Oo... aku membulatkan mulutku paham. Dia marah padaku karena berpikir aku sudah mengacaukan hari keduanya syuting. Kemudian tak mau menyalamiku karena dia masih merasa bisa bertemu lagi buat keesokan harinya. Dia bahkan menyiapkan untukku kejutan, aku tak tahu harus merasa kasian atau terharu.

“Kalau Teh Yuyun ketemu lagi dengannya, sampaikan salamku juga ya teh,” ujarku, “Aku sudah mendapat hari yang menyenangkan di sana. Sangat terima kasih.”

“Oh ya Din, tau tidak apa yang paling so sweet?” pancing Teh Yuyun.

“Apa?”

“Temennya bilang kalau dia selalu memperhatikanmu saat syuting. Katanya wajahmu saat bermain-main sangat cantik. Katanya juga dia merasa keceriaanmu yang manis tertutupi wajahmu yang selalu terlihat galak. Dia ingin kamu selalu terlihat ceria...”

Dan dia sudah menjadi malaikat penolongku yang kedua....










Sekian dulu kisah hidupku. Ada yang berminat menjadikannya sebuah cerpen atau novel? Silahkan.... hehehe... aku tak keberatan. Berkat 1 cowok dan 2 cowok itu, hidupku jadi berbeda sekarang. Aku jadi lebih dewasa karena cowok yang menghancurkan hidupku itu, jadi lebih percaya diri berkat senyum malaikat adik kelasku yang manis dan menyelamatkan harga diriku, jadi lebih ceria dan tak terlihat ‘dark’ lagi berkat artis yang sering merasa kegantengan itu *dijitak ma dia*.

5 komentar:

Raini Munti mengatakan...

aslm

sbaikny co yg mberimu permen it mghub kmu, kalo dy suka sm kmu, kl kmu suka tunjukin rs sukamu pdny, agar dy tau dn dy tdk akan sungkan mnunjukkn rs sukany pdmu :) slamat brjuang

bajuqueen.com

Rofi'uddarojat mengatakan...

Hem, keren euy. Bintang film? Siapa ya? Serius ane penasaran bgt. Siapa ya? Hehe. Keren.

Kayaknya blog kamu udh byk pengunjungnya ya. Mau numpang promosi:

http://rofiuddarojat.blogspot.com/

anungumar mengatakan...

itulah dampak negatif dari ikhtilat. mendingan mah cepet2 nikah aja mbak, dari pada terombang-ambing perasaan seperti gitu. itu lebih menjaga kesucian hati.insya Allah kemuliaan dan cinta sejati didapatkan di atas pernikahan yang dibangun diatas cinta fillah wa lillah.

Mademoisellerinie mengatakan...

wahh cerita naa menarik :)

Snow Flakes mengatakan...

@rainie makasih teh... hehe... sekrang aku hanya menganggapnya salah satu malaikat yang pernah mampir di hidupku. Aku masih suka senyum2 sendiri ngeliat dia di tv, tapi itu dah cukup...

@Rofi Aku kagak mau ngasih tahu... Dulu pernah cerita sama seorang temen, eh yang heboh satu kamar. haha... Link blog aku pasang di blog kamu dong....

@anungumar iya ustaaad... hehehe, Insya Allah sekarang udah gak pernah mikir ke arah situ lagi.jangan disuruh nikah ah, belum siap. Aku mau dia juga gak pernah ikhtilat ko stad..

@Mademoisellerinie makasih yah dah baca. Setiap orang punya cerita menarik dalam hidup. Kamu juga punya kan?