An Ordinary Girl with a Million Dreams

Selasa, 13 Juli 2010

Convinient High School chapter 9


“““
Semua menunggu dengan tegang di koridor bangsal rumah sakit sekolah. Seiji mondar-mandir tak karuan. Lyla duduk sambil terus berdo’a. Dylan berdiri, sejak tiba dia tak berkata apa-apa dan hanya berdiri dengan tampang serius. Dan Nick? Nick terduduk di lantai, lumayan jauh dari mereka, membenamkan kepalanya di balik lututnya dan... gemetaran. Sejak Nicole masuk bangsal, ia terus begitu sambil gemetaran.
Lyla ingin sekali menghiburnya, tapi ia dicegah oleh Seiji. Lagipula, ia juga tak tahu harus berkata apa pada Nick yang terlihat begitu hancur.
Lyla hanya bisa berdo’a semoga saja Nicole bisa diselamatkan. Di dalam ruang emergency Prof. Connor, guru kelas biologi, Prof. Timothy, guru kelas Kimia dan Madam Kellan, Kepala Perawat Rumah Sakit Sekolah sedang bahu-membahu menyelamatkan nyawa Nicole sebisa mungkin. Meski mereka guru, pada dasarnya mereka dokter yang lumayan hebat.
Pintu ruang emergency terbuka setelah begitu lamanya. Nick yang jadi pertama kali berdiri untuk menyambut Prof. Timothy.
“Nicole sudah berhasil memuntahkan sebagian besar racun yang ia minum, tapi ia masih dalam masa kritis. Disini peralatan medisnya kurang memadai, kusarankan murid itu dibawa ke rumah sakit pusat di London,” jelasnya sambil bermandikan peluh, “Sesegera mungkin.”
“Ya, aku tahu. Aku sudah memanggil satu unit helikopter yang akan mengantarnya kesana,” Dylan tiba-tiba bersuara, “Mereka akan segera tiba tak lama lagi.”
“Bagus, aku akan menyiapkan segalanya,” ujar Prof. Timothy terlihat luar biasa lega. Ia masuk lagi ke ruang emergency.
“Kapan kau memanggil helikopter, Dylan?” tanya Seiji heran.
“Itu tak penting, yang penting kita sekarang segara ke TKP untuk....”
BUG!!!
Lyla menjerit. Dylan terpental, ia baru saja ditinju oleh Nick dengan cukup keras.
Dengan sedikit sempoyongan Dylan berdiri lagi. Ia menatap Nick, yang membalasnya dengan tatapan amat marah. Nick bahkan sudah memegang kerah Dylan untuk kembali menonjok wajahnya sekali lagi, dan Dylan tak berbuat apa-apa.
“Hentikan Nick,” ujar Seiji yang tau-tau sudah mengunci tangan Nick dengan cepat. Hal yang mudah buatnya yang seorang Master Judo.
“Lepaskan dia Seiji, aku pantas menerimanya,” kata Dylan sambil mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.
Seiji lalu melepaskan pitingannya ragu.
“KAU! KAU SUDAH BERJANJI!” sembur Nick marah pada Dylan, “KAU BERJANJI PADAKU AKAN SEGERA MENEMUKAN PELAKUNYA! KAU BERJANJI AKAN MELINDUNGI NICOLE, DASAR PEMBOHONG!”
Dylan terlihat pasrah, “Maafkan aku.”
“Aku... aku tak percaya lagi padamu,” desis Nick dingin dan penuh emosi. Ia lalu pergi menghilang dari balik belokan koridor.
“Dylan, kita harus segera ke TKP,” ujar Seiji memecah keheningan yang terjadi beberapa lama setelah Nick pergi.
“Yah... aku tau, tapi aku mau mengecek sesuatu dulu...”
“Apa?”
“Aku mau lihat monitor yang terhubung dengan kamera...”
“Dylan, tidak bisa,” sela Seiji, “Di jalan sudah kuceritakan padamu kan, kamera itu ditutup kain hitam oleh pelaku ketika kejadian terjadi jadi kita tak bisa melihatnya.”
“Aku sudah mengantisipasinya. Aku memasang super mini kamera tersembunyi satu lagi di depan kamar Nicole. Tak lama lagi kita akan tahu siapa pelakunya.”
“““
Dylan berusaha serius memandangi layar monitor yang terpasang di kamarnya. Namun, ia sama sekali tak bisa konsentrasi.
Bagaimana bisa? Cepat sekali, dan ini terlalu rapih. Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tapi, pelaku itu bisa melakukannya dengan mudah. Pasti ada sesuatu yang terlewat, tapi bagaimana?
Tiba-tiba kamar Dylan diketuk.
“Siapa?”
“Ini aku, Lyla. Ijinkan aku masuk sebentar.”
Dylan menyandarkan tubuhnya ke kursi terlihat letih, “Masuk saja.”
Pintu terbuka, Lyla masuk sambil membawa kotak kecil, “Aku membawa obat. Memar di wajahmu harus ada yang mengurus...”
Dylan cuma memejamkan matanya. Lyla menghampirinya.
Lyla mengusap memar di wajah Dylan pelan-pelan dengan menggunakan kapas yang diberi alkohol, “Semua orang pernah berbuat kesalahan, kau tak usah malu.”
Dylan membuka matanya. Menyadari wajahnya dengan wajah Lyla begitu dekat, mereka berdua menjauh.
“Mak... maksudku, meski tadi di perpustakaan aku mengatakan kau bukanlah manusia tapi aku tak benar-benar bermaksud mengatakannya...,” ujar Lyla yang langsung gugup, ia menyerahkan kapasnya, “Nih, kompres sendiri!”
Dylan menerimanya dan menempelkannya ke pipinya yang membiru akibat pukulan Nick yang penuh emosi.
“Kau tetaplah manusia. Sesempurna apa kau, meski kau pintar, kau kuat, dan.... ehem, berwajah tampan... Kau masih manusia. Dan semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Musibah yang menimpa Nicole, tidak sepenuhnya kesalahanmu. Kau sudah melakukan yang bisa kamu lakukan buat melindungi Nicole. Jangan menyalahkan diri sendiri,” ujar Lyla yang seperti tau apa yang ada di pikiran Dylan.
“Maaf...”
“Apa?”
“Tadi di perpustakaan, perkataanku kasar,” kata Dylan pelan. Ia memalingkan wajahnya agar tak terlihat oleh Lyla.
Lyla bengong sesaat. Kemudian menutup mulutnya menahan tawa, “Hmph... hahaha...”
“Apa yang lucu?!” bentak Dylan kesal.
“Kau bukan tipe orang yang bisa meminta maaf, kau ini siapa? Apa yang sudah kau lakukan pada Dylan yang kukenal?” tanya Lyla geli.
Dylan mendengus masam, “Sudah, lupakan saja!”
Lyla cuma tersenyum. Dasar cowok aneh. Mungkin dia baru dia juga bisa melakukan kesalahan dan gak selamanya sempurna, baru deh nyadar kalau dia banyak salah ke aku, bodoh.
“Sebenarnya, aku masuk kelas science itu semua demi kakakku. Aku berutang padanya, utang nyawa. Kalau dia masih ada, mungkin saat ini dia sudah memenuhi cita-citanya sebagai seorang dokter. Harusnya aku yang ada di sana, bukan kakakku. Makanya, aku ingin menggantikannya. Aku ingin semua yang harusnya sudah dia lakukan, aku yang melakukannya. Aku tahu aku bodoh, tapi aku berusaha demi kakakku.”
Dylan diam saja mendengar cerita Lyla. Ia baru ingat kalau Lyla memiliki masa lalu yang tragis. Di hatinya terbersit sedikit penyesalan karena pernah mengatai Lyla ‘anak yang tak jelas asal-usulnya’.
“Baiklah!” ujar Lyla yang tau-tau menepuk bahu Dylan dengan amat kencang sampai-sampai Dylan tersentak kaget, “Gih sana, kerja lagi! Katanya kau sudah tau siapa pelakunya!”
            Dylan membetulkan posisi duduknya dengan malas, “Belum... aku baru menemukan cara untuk mengetahui si pelaku. Hanya saja dari tadi di rekaman ini tak ada aktivitas! Masa pelakunya bisa berubah kasatmata di hadapan kamera?”
Lyla ikut mengamati monitor. Benar juga, yang terlihat dari tadi hanya dua orang petugas yang sedang mengobrol. Tak ada tanda-tanda apapun. Ia kemudian tanpa sengaja melihat tanggal rekaman, “Ehm... Dylan. Aku hanya ingin tahu, bukannya Nicole diracunnya hari ini ya? Tanggal 16, kok di situ tertulis tanggal 9? Harinya memang sama, tapi bukannya ini rekaman minggu lalu ya?”
Dylan baru menyadari kesalahannya. Jelas saja tak terjadi apa-apa di rekaman itu. Buru-buru ia mengganti kaset rekaman.
“Memangnya sedari tadi kau ngelamunin apa sih?” tanya Lyla penasaran, sampai-sampai tidak sadar ngeliatin rekaman yang salah.
“Bukan urusanmu,” jawab Dylan jutek. Ia malu berat dan merasa hari ini menjadi orang yang paling ceroboh di dunia.
Di rekaman terlihat dua orang petugas jaga yang dengan kegiatannya masing-masing. Yang satu sedang membaca koran, dan satunya lagi sedang memainkan hapenya. Tak lama kemudian muncul asap dari sebelah kiri mereka. Asap yang sangat tebal. Lalu, setelah menghirup asap itu kedua petugas itu langsung roboh dalam hitungan detik. Dylan menduganya sebagai gas tidur dengan konsentrasi tinggi. Setelah itu asap mulai menghilang sedikit demi sedikit. Terlihat bayangan mendekat. Lyla dan Dylan menunggu sosok itu muncul dengan tegang...
Cssss....
Tiba-tiba gambar di monitor itu hilang dan berubah recek. Tepat saat sosok bayangannya akan terlihat sedikit lagi.
“Damn!” maki Dylan kesal. Ia langsung jongkok dan memeriksa kabel sambungan VCR ke monitor. Masih tersambung dengan baik. Ia lalu mencoba melihat kabel-kabel yang lain.
“Dylan...” panggil Lyla.
“Sebentar!”
“Tapi sekarang gambarnya sudah kembali,” ujar Lyla yang matanya masih terpaku ke layar monitor.
Dylan buru-buru berdiri, “Benarkah.”
Lyla mengangguk, “Iya. Tapi tak ada siapa-siapa yang terlihat. Hanya dua petugas itu saja yang tertidur.”
Dylan kembali duduk di kursinya dan memutar ulang rekaman. Ia memutar ulangnya tepat saat kedua petugas itu roboh. Terlihat lagi bayangan yang mendekat. Dylan serius memperhatikan semuanya. Dan...
Cssss...
Gambar itu kembali rusak. Persis sama waktunya dengan sebelumnya.
Dylan memukul meja kesal, “Apa ini?! Kenapa mesti sekarang sih?!”
Ketika mau kembali mengecek kabel, Lyla menahan Dylan, “Tunggu...”
“Apa?”
“Sepertinya, gambar itu  akan muncul sendiri,” ujarnya yang kini menghitung dalam hati. Lima... empat... tiga... dua... sa....tu!
Tepat seperti yang dikatakan Lyla, gambar itu kembali dengan sendirinya. Dan yang terlihat hanyalah bayangan orang yang masuk ke kamar Nicole, kemudian terlihat tangan Nicole yang menutup pintunya.
Lyla memerhatikan wajah Dylan yang berubah sangat-sangat serius. Ia pasti merasa aneh mengapa gambar langsung hilang ketika sosok pelaku akan terekam. Lyla jadi ingin tahu bagaimana nantinya Dylan mengatasi keanehan ini.

5 komentar:

Ami_cutie mengatakan...

aslm...baru mampir nih..
keren bgt ceritanya...aku sampai ga bs napas..hhe *lebay*
post lanjutannya dong..

btw, salam kenal ya...ami, 15 mau 16 th..hhe..aku tw blog ini dari komenmu di ff aku di sjff2010..

Snow Flakes mengatakan...

ami beneran 15, kok di blognya ami dah kuliah? ami beneran dah kuliah???!

amitokugawa mengatakan...

iya..tgl 26 mau 16..
aku aksel sd, smp, sma soalnya..jd sd 5 th, smp 2 th, sma 2 th..hehe

Snow Flakes mengatakan...

wiiihh... ami keren!!!

Ngambil apa ami kuliahnya?

amitokugawa mengatakan...

hehehe..
ngambil jurusan farmasi, kak..