An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 07 Juli 2010

Convinient High School Chapter 8 part 2


Dylan dan Lyla di perpustakaan dengan kegiatannya masing-masing. Lyla muter-muter mencari buku, Dylan tidur.
Hei kau! Bukannya kau yang mengajakku dengan paksa? Menarikku saat sedang makan siang? Keliatannya kau tidak butuh-butuh amat tuh...,” omel Lyla yang sebal melihat Dylan malas-malasan.
Dylan tidak benar-benar tidur di bangku perpustakaan. Ia langsung membuka mata begitu Lyla membanting buku-bukunya di meja.
BRAK!
“Apa itu?”
“Buku-buku yang direkomendasikan Prof. August buat ujian Fisika besok lusa. Kau tak belajar? Oh, salah... kau tak perlu belajar kan? Otakmu bukan otak manusia...”
Dylan menghampiri buku-buku itu, “Jangan buku ini.”
“Kenapa?”
“Aku sudah membacanya sekali dan otakmu tak memenuhi standar untuk bisa memahami buku ini,” ujar Dylan santai, niatnya membalas ejekan Lyla.
“Oh, thanks!” Lyla jelas-jelas tersinggung, “Lalu menurutmu buku apa yang bisa memenuhi standar otakku yang bodoh ini, manusia sok pintar?!”
“Ada, judulnya ‘Bermain Bersama Angka’ dan ‘Menjadi Einsten Cilik’,” ujar Dylan.
Lyla merasa kehabisan kata-kata buat melawan Dylan. Dia cuma bisa menggeram kesal.
Dylan yang melihat wajah cemberut Lyla yang lucu langsung tersenyum, “Bercanda kok...”
Lyla terpana sesaat melihat senyum Dylan. Pasalnya, selama hampir 10 tahun saling mengenal, ia tak pernah melihat senyumnya Dylan. Dan ternyata, senyumnya sangat manis.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Dylan risih mendapat pandangan aneh dari Lyla.
“Ice Cream,” gumam Lyla pelan.
“Hah?”
Lyla tersadar, “Oh, bukan apa-apa.”
Dylan tak mempedulikan lagi.  Ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju rak-rak buku. Lyla cuma memperhatikannya melihat-lihat buku dan mengambil salah satunya. Kemudian Dylan jalan-jalan lagi, lalu mengambil salah satu buku.
“Urusanmu sudah selesai kan?” tanya Dylan sambil berjalan kembali ke arah Lyla.
“Iya, kamu sendiri?”
“Buku ini, ini rekomendasiku buat ulangan besok lusa,” ujar Dylan mengacuhkan pertanyaan Lyla. Ia menyerahkan sebuah buku yang berukuran sedang. Tidak setebal buku yang direkomendasikan Prof. August.
Lyla menerima buku itu tanpa berkata-kata, ia melirik buku yang dipegang Dylan, “Itu buku apa?”
“Kau tak perlu tahu kan?” Dylan balas bertanya.
Lyla merengut. Ia memilih menjatuhkan diri ke kursi dan mulai membaca.
Dengan rasa penasaran yang sangat, Dylan membuka buku tebal yang dia pinjam. Buku Alumni. Nama Ayahnya ada di buku ini, jika benar apa yang dikatakan Mom.
“““
Di kamarnya Nicole sedang bersedekap. Ia sedang berdo’a dengan kaspel kecil buatan tangannya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Nicole menggerutu kesal karena acara do’anya diganggu orang.
Huh, bukannya sudah kuminta polisi-polisi itu untuk tak menggangguku sementara waktu ini? Hobi banget sih ganggu orang lagi do’a....!
Nicole mau membuka pintunya tapi teringat pesan Dylan yang melarangnya membuka pintu untuk orang asing. Makanya ia mengintip dulu lewat lubang pintu...
“Kau kan....”
ÐÐÐ
Nick memainkan batu-batu di tangannya. Kadang ia lemparkan jauh-jauh karena kesal.
Dasar! Dia bilangnya pergi ke tempat menenangkan diri, tapi apa ini? Atap sekolah? dia sedang membohongiku ya? Gerutunya dalam hati. Kekesalannya bertambah saat Seiji tak menyahut meskipun sudah berkali-kali ia panggil. Seiji sedari tadi hanya melakukan gerakan-gerakan yang tak ia pahami.
Bangkit, membungkuk, bangkit lagi, lalu merunduk mencium tanah, gerakan apa itu? Pikirnya. Sekarang ia melihat cowok jepang itu menengok ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Nick tak peduli lagi. Ia kembali melemparkan kerikil di tangannya jauh-jauh.
Tak lama kemudian Nick mendengar suara Seiji memanggilnya, “Hey... kau tadi memanggilku?”
Nick cuma mendengus. Ia ingin balas mencueki Seiji.
“Nick...” panggil Seiji sambil berdiri dan mengibas-ngibaskan kain yang dipakainya sebagai alas melakukan ‘ritual’nya tadi.
“Kau berbicara padaku?” balas Nick sinis.
Seiji tersenyum geli, Nick lagi ngambek sekarang.
“Maafkan aku. Aku sedang shalat tadi, dan sama sekali tak bisa diganggu, ada apa?”
“Seharusnya kau bilang kalau kau tak bisa diganggu sejak tadi, supaya aku tidak mati bosan disini,” jelas Nick kesal.
“Iya, iya, maaf!” ujar Seiji sekali lagi dan mengambil posisi disamping Nick yang masih duduk sambil memainkan kerikil kecil ditangannya. Ia langsung tidur-tiduran.
“Hey, kau tak takut bajumu kotor?” tanya Nick keheranan.
“Itulah enaknya punya istri,” jawab Seiji simpel, “Ada yang akan mencucikan bajumu. Sudahlah, tidur saja. Kau kan bisa melaundry-kannya.”
Nick akhirnya mengikuti saran Seiji, ia ikut tidur-tiduran di atap sekolah.
“Saat aku masih SMU di Jepang dulu, aku biasa naik ke atap sekolah untuk tidur. Kadang-kadang aku juga ke atap sekolah jika aku punya masalah...,” cerita Seiji, “Coba kamu lihat awan-awan itu.”
Nick melihat ke arah langit sebentar, kemudian menoleh lagi, “Apa istimewanya?”
“Tidak ada. Aku cuma menyuruhmu melihatnya saja, jangan berpikir. Untuk sementara, kau pandangi awan-awan itu dan lupakan masalahmu.”
Nick menuruti perintah Seiji. Ia melihat awan-awan yang bergerak lamban mengikuti arah angin. Pada mulanya ia merasa bosan, tapi lama-lama ia tertarik dengan pergerakan awan yang berubah-ubah. Tak hanya itu, kadang ia menebak-nebak membentuk apakah awan-awan itu. Ia merasa menjadi anak kecil lagi, tapi perasaannya kini sangat damai.
Seiji tersenyum menyadari Nick mulai rileks. Ia lalu memejamkan matanya untuk merasakan Carlisle, kota pinggiran dekat laut yang masih segar.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa lama.
“Nicole dan aku, kami berdua tinggal terpisah,” Nick tiba-tiba bersuara, “Kami berbeda pemahaman mengenai siapa yang benar, Ayah atau Ibu. Ia akhirnya membenciku karena aku lebih mendukung ayah dan kami mulai tak saling mendengarkan. Nicole tak pernah mau menurutiku, ia tak mau bercerita apapun. Tapi aku berusaha melindunginya sebisaku.
Kini melihatnya seperti itu aku merasa bukan kakak kembar yang baik untuknya. Dia tak mau makan, kerjanya hanya mengurung diri di kamar. Dia bilang kalau dia sudah tak sanggup lagi menunggu kapan pembunuh itu datang dan menghadiahkan kematian kepadanya. Aku tak sanggup melihatnya menderita seperti itu dan.... akhhh!”
Nick terlonjak bangun memegangi dadanya seperti orang kesakitan.
“Ada apa?” tanya Seiji cemas dan ikut bangun.
“Dadaku sakit sekali. Rasanya seperti ada yang meremas-remas...” rintih Nick.
“Apa perlu ke klinik?”
Nick menggeleng, “Tidak. Aku memiliki firasat buruk.”
“Apa?”
Nick segera bangun dan berlari menuju tangga turun, “Nicole dalam bahaya!”
ÐÐÐ

Tidak ada komentar: