An Ordinary Girl with a Million Dreams

Sabtu, 03 Juli 2010

Convinient High School Chapter 8 part 1


Rifki akhirnya diberi satu kamar dengan Nick. Rifki ditugaskan Seiji untuk menyamar sebagai murid, kadang juga koki, kadang staf tukang bersih-bersih, apa saja. Bahkan ia bisa menyamar menjadi Kepala Sekolah jika dibutuhkan. Karena itu keahlian Rifki Mahatir, mata-mata anggota elit yang bisa menghapus keberadaannya sendiri di dunia kapan saja, jika dia membutuhkannya.
Untuk seminggu pertama, Rifki dijadikan staf dapur. Karena siapapun yang bisa mencuri garam dalam jumlah besar pasti memiliki akses ke dapur juga. Tapi pemudaitu tak menemukan seorang pun yang pantas dicurigai.
Akhirnya Seiji menyuruhnya untuk menyamar menjadi murid saja. Rifki menurut. Dia menjadi murid yang sekelas dengan Nick, yang berarti sekelas dengan Terry.
Seiji menghampiri Dylan yang hari ini lagi-lagi bersemedi di ruang arsip, “Kau seperti kurang kerjaan.”
“Thanks,” jawab Dylan dingin, “Aku baru menghafal data siswa angkatan tahun ini, dan tahun lalu saja. Masih banyak yang harus kuhafal.”
“Sebaiknya kau mengerjakan hal lain. Aku sudah capai-capai memasangkan perangkat internet di kamarmu, kau tak berniat menggunakannya? Katanya ada hal penting yang harus kau periksa.”
“Oh....” Dylan sepertinya tidak mendengar kata-kata Seiji barusan.
Seiji mendengus, “Biar aku saja. Aku saja yang menghafal data para guru dan staf. Aku sudah menemukan hal yang menarik tentang relasi antara Nicole, Terry dan Peter.”
Dylan mendongak. Matanya menghitam kelihatan kurang tidur, “Benarkah.”
Seiji mengangguk, “Rifki yang dapat informasinya. Terry adalah mantan pacar Nicole, mereka cukup lama berpacaran. Setelah putus dengan Terry, Nicole menjalin hubungan dengan Peter. Terry, Nicole, dan Peter seperti terikat cinta segitiga. Mereka seperti terisolasi, setelah hubungan itu baik Nicole, Terry maupun Peter tak menjalin hubungan serius dengan siapapun lagi. Jika mereka kencan dengan orang lain, maka itupun hanya kencan biasa. Tapi ketiganya sudah menjalin persahabatan yang sangat erat.”
Dylan manggut-manggut, untuk sesaat dia melupakan kertas-kertas arsip di hadapannya, “Jadi ada kemungkinan motif cinta ya...”
“Tapi, mereka bertiga adalah korban,” bantah Seiji, “Lebih seperti ada yang tak suka pada mereka.”
“Aku tahu, kan aku bilangnya ‘ada kemungkinan’,” ujar Dylan yang tiba-tiba teringat sesuatu, “Cinta segitiga ya...”
“Ada apa?”
Dylan berdiri, “Bukan apa-apa. Kau kan bilang mau menggantikanku menghafal semua data ini. Silahkan, hafalkan seluruh staf ya!”
“Hmmm....” Seiji menggumam malas. Ia langsung duduk dan mengambil posisi yang enak untuk mulai membaca arsip-arsip.
“““
Dylan menghampiri Lyla yang duduk di ruang makan bersama Gwen, “Ayo ikut.”
Lyla mendongak. Mulutnya masih penuh sup tomat, “Hah? Kemana?”
“Ke perpustakaan. Yang dulu kan tak jadi. Aku tak tahu letaknya, tunjukkan padaku!”
Lyla berusaha tak mempedulikan Dylan, ia kembali menenggelamkan diri ke mangkuk supnya, “Kau tak lihat aku sedang makan siang?”
Dylan yang tak sabaran menoleh ke Gwen yang tampaknya sebentar lagi menyelesaikan makannya, “Kalau begitu kau saja. Ayo, antarkan aku.”
“Kenapa aku harus menurutimu?” sengit Gwen kesal.
“Karena aku FBI,” Dylan menunjukkan lencananya, “Kau harus menurutiku atau kuanggap kau menghalang kerjaanku dan dijebloskan ke penjara.”
“Sinting,” gumam Gwen pelan.
“Ayo!” Dylan hampir saja menarik tangan Gwen kalau Lyla tak menahannya.
“Baik, baik, baik,” ujar Lyla menghentikan makannya, “Biar aku saja. Aku tak suka sup tomat dan aku sudah kenyang. Akan kuantarkan tapi jangan mengganggu Gwen.”
Ketika Lyla berdiri, Dylan langsung menggandeng tangannya.
“Eh... euh... Dy... dylan,” Lyla kaget.
“Jangan sampai kau menghilang lagi,” ujar Dylan pelan tanpa ekspresi.
Lyla sampai terperangah mendengarnya. Apalagi genggaman Dylan begitu lembut dan erat, kontan hati Lyla sampai dibuat dag-dig-dug.
“““
Nick menghampiri Seiji di ruangan arsip.
“Kau sudah dapat bayangan siapa pelakunya?” tanyanya.
Seiji menggeleng, “Nope!”
“Kau sudah mendapatkan petunjuk baru?”
“Masih belum.”
“Atau kau sudah membuat perkiraan baru?”
Seiji mengalihkan pandangannya ke Nick, “Apa yang kau ingin tanyakan sebenarnya?”
Nick mendesah. Ia seperti memiliki berton-ton beban di pundaknya, “Seiji-sama, apa kau tak ada inisiatif memberi kejelasan tentang Nicole?”
“Tentang?”
“Tentang statusnya!” seru Nick kesal, “Jika dia memang target berikutnya, tidakkah harusnya ada sesuatu yang kau lakukan? Mengeluarkannya dari sekolah ini dan membawanya ke tempat yang lebih aman misalnya. Memangnya kau tidak bisa?”
“Bukannya tidak bisa. Hanya saja sebaiknya tidak. Disini sudah cukup aman, Nicole dijaga di kamarnya dengan pengawasan yang ketat, dua orang penjaga berganti setiap empat jam sekali, kamera 24 jam di depan kamar dan juga di dalam kamar. Kurasa itu sudah lebih aman dari tempat manapun di Inggris.”
“Kenapa mesti di sekolah ini? Pembunuhnya ada di sekolah ini! Percuma saja semua omong-kosongmu itu...”
“Kita tak bisa melakukannya, pertama, karena Nicole harus sekolah dan statusnya sebagai target hanya dugaan sementara yang sama sekali tidak kuat secara hukum, kedua, kita butuh dia sebagai petunjuk untuk menemukan pelaku.”
“Kau menjadikannya sebagai umpan...” desis Nick marah, matanya menatap tajam Seiji.
Seiji menggelengkan kepala, “Tidak sama sekali. Hanya saja ada kemungkinan yang mengarah kepadanya, semisal, menurut keterangan kedua temannya, Nicole sudah menyiapkan ruangan kulkas utama untuk menyekap Lyla sejak berhari-hari sebelumnya. Ada keanehan disini, karena bagaimana mungkin ia tak menyadari keberadaan mayat Peter Brown yang sudah terletak disana sebelumnya. Kemudian, tak ada yang tahu selain Nicole dan teman-temannya kalau Lyla disekap disana. Dan lagi, setelah ia diawasi, kasus seolah berhenti.”
“Kau masih menuduhnya!” bentak Nick tak percaya.
“Ini hanya dugaan kok,” bantah Seiji, “Tapi ini menjadi dugaan yang terkuat yang aku dan Dylan punya sekarang. Lagipula dari segi motif juga dia memilikinya.”
Nick langsung pucat. Melihatnya, Seiji buru-buru menambahkan...
“Tapi, dengan beberapa teori kecil, dugaan kami bisa langsung dibantah lho,” lanjutnya sambil tersenyum ramah menenangkan Nick, “Tenang saja, adik cantikmu tidak mungkin membunuh orang kan?”
“Ten... tentu saja!” seru Nick. Meski dalam hati ia sedikit ragu mengenai hal itu. Nicole yang sadis....
“Sudah ah...” ujar Seiji tiba-tiba bangkit, “Aku sudah tak bisa konsentrasi lagi. Tampaknya ada seseorang yang sudah membuyarkannya.”
Nick langsung merasa tersindir.
Seiji menghampiri Nick dan merangkul bahunya, “Ayo!”
“Kemana?”
“Menenangkan pikiran ala Seiji, sekalian aku mau shalat dulu..”

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Weeih,novel yg keren.salam kenal

Snow Flakes mengatakan...

thanksss... salam kenal juga!