An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 19 Mei 2010

Convinient High School chapter 4

“Cepat sedikit bisa tidak?!” bentak Dylan di tangga menuju lantai yang dimaksud Larry.

Larry terengah-engah tak sanggup berlari lagi. Ia berhenti dan membungkukan tubuhnya.

“Bisa kau pelankan langkah kakimu?” pinta Nick yang juga lelah, “Kita sudah berlari sejauh ini, dan kita sedang menaiki tangga! Bisa tidak kita hanya berjalan saja?”

Dylan dengan sadisnya menggeleng, “Kalian membuang waktu...”

Nick menatap Dylan tak percaya, “Hei, kau ini bukan manusia ya? Lihat! Kita sudah melewati lima lantai dengan berlari, dan disana masih ada ribuan anak tangga lagi untuk dinaiki lagi! Dan kau memaksa kami untuk terus berlari...”

“Aku tidak minta kamu untuk ikut,” ujar Dylan ketus, ia melihat ke arah Larry, “Larry, ayo cepat! Jangan buang-buang waktu!”

Larry tidak juga beranjak.

“Kau jangan memaksanya seperti itu, lihat saja mukanya saja sudah merah seperti itu! Kau itu robot yang kejam,” sergah Nick yang terduduk di anak tangga karena kelelahan.

Dylan merengut kesal, dia menatap Larry, “Apa masih jauh?”

Larry menggeleng, “Tidak.”

“Then? Berlari sedikit saja tidak masalah kan?” ujar Dylan yang sepertinya kembali mau menyeret paksa Larry.

“Tunggu...” pinta Larry, “A...aku boleh meminta to...tolong sesuatu?”

Dylan dan Nick berpandangan.

“Ada apa Larry?” tanya Nick.

“To...tolong kalian menja...jamin keselamtanku...” pinta Larry, “Setelah ini Ni...Nicole pasti tak i...ingin aku mun..muncul lagi di ha...hadapannya...”

“Ah, soal itu!” kata Nick, “Aku tak bisa. Maafkan aku Larry.”

Muka Larry yang tadinya merah menjadi pucat seketika.

“Ketua Murid macam apa kau ini?” sindir Dylan.

“Aku tak bisa apa-apa tahu!” balas Nick kesal, “Aku sudah kenal Nicole sejak dia masih bayi! Dia bisa berbuat apa yang dia mau tanpa sempat aku bisa mencegahya. Meski aku Ketua Murid, aku tak bisa terus-terusan berada di samping Larry. Bahkan Lyla, aku sudah meminta Nicole menjauhi Lyla. Tapi sekarang lihat, dia bahkan tak mendengarku sama sekali.”

Dylan masih menatap Nick sinis. Ia kemudian beralih pada Larry dan menepuk-nepuk tengkuknya, “Tenang saja. Jika Ketua Murid gadungan itu tak mau, aku yang akan menjamin. Sekarang yang penting kau membantuku menolong Lyla.”

Larry memandangi Dylan ragu.

“Percaya padaku, aku punya otoritas lebih tinggi dari bocah Ketua Murid payah itu,” tambah Dylan lagi.

Larry mengangguk percaya. Sementara Nick berdecak kesal dibilangan gadungan dan payah.

Dylan langsung menarik Larry, “Ayo cepat sekarang!”

Saat Dylan dan Larry—yang terseok-seok—kembali lari, Nick bangkit.
“Hei tunggu aku!”

Mereka bertiga tiba di sebuah lorong yang tampak kekurangan pencahayaan. Larry menunjuk ke sebuah pintu usang di sisi lorong.

“Itu, ruangan yang... i..tu!”

Dylan dan Nick langsung menghambur ke sana.

“Sial! Terkunci!” seru Nick kesal mencoba membuka pintu.

Dasar bodoh, ledek Dylan dalam hati kesal, jika tidak terkunci buat apa Lyla terkurung di sana?

Saat Nick hendak mendobrak pintu itu, Dylan menahannya.

“Kenapa? Kita harus cepat membuka pintu ini!” ujar Nick.

“Pintu ini berat di bagian bawahnya,” ujar Dylan yang lalu jongkok.

“Hah?” Nick heran melihat Dylan mengetuk-ngetuk permukaan pintu dari atas sampai bawah.

“Ada yang menyender di pintu ini...” jelas Dylan mengetuk-ngetuk bagian bawah permukaan pintu, “Dia menyender sambil duduk.”

“Itu pasti Lyla,” simpul Nick cemas.

“Ya, dan coba bayangkan kalau kau tadi mendobrak pintu ini...” tambah Dylan memandang Nick sambil mengejek, “Kau pasti akan melukainya.”

Nick tertunduk menyesal, untung tidak jadi... pikirnya dalam hati. Ia lalu menatap pintu itu cemas, “Lalu bagaimana kita membuka pintu ini? Oh ya! Mr. Jenkins!”

Dylan melihat Nick bingung. Mr. Jenkins adalah penjaga sekolah.
“Mr. Jenkins pasti punya kunci pintu ini!” seru Nick, ia beralih ke Larry, “Larry, panggilkan Mr. Jenkins!”

Dylan mencegah, “Tidak perlu! Kau mau menyuruhnya menuruni tangga mencari orang lalu berlari kembali lagi kesini? Dia pasti pingsan duluan di jalan...”

“Kalau begitu biar aku saja!” Nick menawarkan diri dan bersiap untuk pergi.

“Kubilang tidak usah!” Dylan masih menahan Nick. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Itu dompet. Ternyata di dompet itu terdapat beberapa peralatan, Dylan mengeluarkan sebuah kawat mungil bengkok.

Tanpa disadarinya sebuah benda jatuh juga dari dompetnya. Nick langsung memungutnya dan ketika melihat benda itu Nick heran, “Lencana?”

Dylan memasukkan kawat itu ke lubang kunci pintu, ia menggoyang-goyangkan kawat itu dan tak lama kemudian terdengar suara.

Cklik.

Kuncinya sudah terbuka. Dengan hati-hati Dylan mendorong pintu itu. Memang terasa berat, karena ada tubuh yang menahan pintu itu terbuka namun Dylan berhasil membukanya sedikit untuk masuk ke dalam.

Begitu di dalam ruangan Dylan terkejut melihat Lyla yang wajahnya sudah pucat membiru. Namun ia lebih terkejut lagi saat ia mendapati ruangan itu ternyata sangat dingin.

Setelah Dylan memindahkan Lyla, Nick dan Larry bisa masuk ke dalam.

“Tempat ini!” seru Nick kaget, “Kenapa bisa sangat dingin begini?!”

“Larry, tempat apa saja yang ada di sebelah utara ruangan ini?” tanya Dylan yang melepas jasnya dan menyelimutinya di tubuh Lyla. Nick juga turut memberi jasnya.

Larry mengingat-ingat... “Emm... a...ada ruang musik, te...terus dapur, terus ku...kulkas utama ge...gedung.”

Pantas saja!

Dylan berdiri sambil menggendong Lyla, “Dia tidak apa-apa. Hanya hipotermia ringan. Aku akan membawanya ke bangsal perawatan.”

₯₯₯

“Dia sudah stabil...” ujar Mrs. Helen guru Kelas Biologi yang merangkap sebagai Kepala Bangsal Perawatan.

Nick menghembuskan nafas lega dan akhirnya terduduk di samping Dylan yang memejamkan mata, “Bangunlah. Lyla sudah stabil sekarang.”

“Ya... aku dengar itu...” ujar Dylan yang terus memejamkan matanya, ia mengantuk namun tak bisa tidur.

“Sebenarnya kamu hubungannya apa dengan Lyla?” tanya Nick harap-harap cemas.

“Apa yang kau harapkan?”

“Aku berharap kau kakaknya, namun kau sekelas dengan Lyla. Aku berharap kau saudara kembarnya atau sepupunya, namun tampaknya ras kalian saja beda jauh. Aku berharap kau hanya...”

“Tunangannya,” jawab Dylan santai. Ia benar-benar ngantuk sekarang namun kali ini ia bisa lebih tenang untuk tidur.

Nick terlihat kecewa, “Aku tidak berharap itu.”

Dylan hanya berharap bisa segera tidur dengan nyenyak namun orang di sebelahnya terus menerus merecokinya. Ia berusaha menahan sabar.

“Karena aku sudah sejak lama naksir Lyla,” lanjut Nick lagi dengan full senyum, “Dan aku masih menyukainya sampai sekarang. Jadi, jika ternyata Lyla terpaksa bertunangan denganmu aku akan merebutnya darimu dengan senang hati.”

Kali ini rasa kantuk Dylan hilang, namun rasa kesalnya semakin bertambah banyak. Akulah yang terpaksa bertunangan dengannya dan semua ini gara-gara Mom!

Nick yang melihat Dylan tak menunjukkan respon sama sekali kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Benda yang ia pungut saat jatuh dari dompet Dylan, “Kau merasa kehilangan sesuatu?”

Dylan menoleh. Saat ia melihat lencana FBI nya ada di tangan Nick, buru-buru ia merebutnya.

“Kelihatannya itu penting sekali. Itu lencana asli kan? Itu lencana apa?” cerocos Nick.

“Kau takkan percaya,” jawab Dylan yang segera memasukkan lencananya ke dalam dompet praktis.

“Aku tahu itu lencana asli. Aku tahu itu lencana FBI. Dan aku tahu itu pasti punyamu...” Nick langsung menyahut.

“Kalau kau tahu buat apa kau bertanya?” kesal Dylan.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa kau anggota FBI?”

“Yang benar saja,” Dylan mengelak, “Kau pikir seorang pemuda 18 tahun yang baru menginjak bangku SMA akan menjadi anggota FBI? Kau ini sangat bodoh ya?”

Nick menatap Dylan menantang, “Kau menganggapku bodoh ya? Tapi aku percaya padamu. Kau bukan pemuda biasa. Ketika aku melihatmu menyudutkan Nicole, aku merasa kau pasti sudah terbiasa dengan taktik interogasi.”

“Omong kosong,” bantah Dylan.

“Saat kau berlari tanpa lelah, kau pasti sudah terbiasa mengejar penjahat...”
“Kau termakan film action.”

“Dan saat kau membuka pintu ruangan tempat mengurung Lyla dengan mudah, pasti biasa kau lakukan buat masuk ke tempat penyergapan penjahat kan?”

Dylan cuma diam, ia mulai malas menanggapi Nick.

“Dan saat kau membuat analisis, kau bahkan bertanya apa saja ruangan di sebelah utara tempat menyekap Lyla.”

“Asap.”

“Hah?”

“Ventilasi kamar mandi itu bolong dan mengeluarkan asap. Sepertinya itu terhubung ke suatu tempat. Asap yang keluar itu kabut dari es yang menguap. Asapnya lebih banyak di sebelah kanan, alias sebelah utara ruangan dari pada sebelah kiri. Pertanda sebelah utara ada ruangan yang bersuhu ekstrim dingin, dan sebelah selatan itu luar gedung karena asapnya tipis berarti mengandung angin,” jelas Dylan.

“Tuh kan!” seru Nick sambil menyeringai nakal, “Kau benar-benar bukan murid biasa.”
Dylan memutar matanya kesal.

“Jujur saja, aku tahu lencana itu asli! Aku sudah terbiasa dengan lencana, Dad polisi dan Mom...” Nick terlihat ragu melanjutkan. Tapi ia terus melanjutkan sambil mengangkat bahu, “Mom pemalsu lencana.”

“Ibumu kriminal,” ucap Dylan singkat.

“Ya, aku tahu.”

“Ayahmu juga.”

“Tidak!” bantah Nick, “Dad benar-benar polisi.”

“Sedangkan istrinya kriminal?” tanya Dylan, lebih kepada pertanyaan menyelidik.

Nick langsung mengerti apa yang dimaksud Dylan, “No! My Dad is real Police Officer! Dia sudah menjadi polisi sebelum bertemu Mom. Lencananya asli, bukan Mom yang buat.”

“Then?”

“Dad tidak tahu Mom seorang pemalsu lencana karena Dad sering bertugas. Ketika ia tahu Mom seorang pemalsu lencana, mereka bercerai. Nicole ikut Mom, dan aku ikut Dad. Tapi lewat pengadilan, Dad memenangkan Nicole...”

“Bukan itu yang kutanyakan,” ujar Dylan dingin, “Apa ayahmu tak menangkap ibumu ketika ia mengetahui istrinya seorang kriminal?”

Nick menatap Dylan tak percaya, “Bagaimana mungkin? Tak mungkin Dad menangkap Mom!”

“Kalau begitu ayahmu sudah bertindak tidak profesional,” sahut Dylan dingin, “Setiap kriminal wajib mendapatkan hukuman. Siapapun orangnya.”

“Aku sungguh tak ingin Lyla mendapatkan pria sepertimu...” Nick masih menatap Dylan heran, “Kau benar-benar pria tak berperasaan.”

“Dan itulah yang dibutuhkan seorang Polisi,” ujar Dylan berusaha menekan perasaannya kuat-kuat saat nama Lyla disebut, “Aku memang seorang FBI.”

₯₯₯

Lyla merasa berada di sebuah ruangan gelap semua. Apa aku sudah mati? Tanyanya pada diri sendiri.

Tak lama sebuah bayangan putih mendekat. Itukah malaikat yang akan membawaku bertemu Ibu dan Ayah?

Ia lalu menyadari bahwa bayangan putih yang mendekat itu adalah kakaknya, tangisnya pun pecah.

“Kakak....!” teriaknya, “Kak Kevin mengapa meninggalkan Lyla sendiri?! Kakak sudah berjanji akan menjagaku! Kakak bohong! Kakak meninggalkan Lyla!”

Kevin tersenyum manis, “Kapan aku berbohong? Aku memang selalu melindungimu. Coba buka matamu dan kau akan melihat bahwa aku selalu melindungimu...”

“Buka mata?” tanya Lyla bingung dan kesal, “Aku sudah membuka mataku kak!”
Kevin menggeleng, bayangan dirinya mulai samar, “Tidak. Kau belum membuka matamu... bukalah Lyla...”

Ketika bayangan Kevin benar-benar hilang Lyla menyadari matanya masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya dan melihat sesosok wajah tepat di depan matanya.

“Aaaaa!” Lyla terlonjak kaget. Buru-buru ia bangun dan merangsek mundur ke bagian belakang kasurnya, “Kamu...kamu kenapa bisa disini...?!”

“Kamu menggigau...” ujar Dylan santai lalu kembali ke tempat duduknya. Ia tadi memang memandangi wajah Lyla dari dekat, karena tadi Lyla terlihat berkeringat dan terus-menerus menggigau.

Lyla masih tak percaya dan menatap Dylan dengan tatapan yang aneh.

“Jangan melihatku terus seperti itu!” bentak Dylan kesal.

Lyla langsung yakin yang ada di hadapannya adalah Dylan saat mendengar Dylan mengomelinya. Ia lemas, jauh-jauh pergi ke Carlisle agar bisa menghindari Dylan sekarang orangnya malah ada disini.

“Jangan salah paham dulu!” kata Dylan ketus, “Aku disuruh Mom untuk menyusulmu kesini memastikan apakah kamu baik-baik saja disini. Ternyata tidak. Aku kecewa.”
Lyla cemberut dan memandang Dylan kesal. Ia baru sadar sesuatu, “Ini dimana? Aku di bangsal ya?”

“Kau terkena hipotermia, tak heran dengan sifatmu yang suka mencelakakan dirimu sendiri dan ceroboh...” jelas Dylan tanpa lupa menggerutu.

“Kacamata...,” ucap Lyla mencari-cari sesuatu di meja, “Dimana kacamataku?”

“Oh, benda jelek itu. Sudah kubuang,” sahut Dylan lagi.

Lyla membelalak, “Dibuang? Kemana?”

“Ya dibuang! Aku kan tak tahu kau pakai kacamata jadi kubuang saja benda itu karena kupikir benda itu sampah...”

“Ck! Sekarang bagaimana aku bisa melihat?! Kau ini bodoh ya?!” decak Lyla kesal dan panik.

“Kau yang bodoh!” balas Dylan yang sebal dibilang bodoh, “Coba, sekarang kau bisa melihat seperti itu dibilang tak bisa melihat!”

Lyla langsung menyadari pemandangannya tiba-tiba jelas. Ia langsung menyadari ada yang aneh pada matanya, contact lens?

“Aku mau bertanya, sejak kapan kau pake kacamata tebal seperti itu?” selidik Dylan.

“Itu... itu...” Lyla kelihatan kesusahan menjelaskan, “Saat kelas dua SMP. Mataku tiba-tiba buram.”

“Kenapa kau tak membeli kacamata murahan seperti itu? Kemanakan uang yang Mom kasih?” tanya Dylan sembari menatap Lyla tajam

Lyla bingung mau jawab apa. Saat itu Mom membekalinya terlalu banyak uang. Itu menarik perhatian Terry, anggota klub rugby, dan dia merebut uangnya semua. Tapi tak mungkin ia menceritakan itu pada Mom. Bisa-bisa Mom akan mendatangi kepala sekolah dan meminta Terry dikeluarkan. Hal itu jelas menambah akan memperburuk masalahnya, “Uang itu hilang.”

“Hilang?” Dylan masih menginterogasi Lyla, “Uang sebanyak 12.000 pound hilang begitu saja?”

“Bukan salahku!” bela Lyla, “Aku tidak ingin membawa uang sebanyak itu. Kau kan pintar, masa kau tak tahu uang itu hilang kemana?!”

“Sekarang aku mau tidur dulu,” ujar Dylan bangkit pura-pura tak habis melakukan sesuatu. Padahal dia yang memakaikan Lyla kontak lensa selama Lyla pingsan, “Istirahatlah yang banyak. Yang banyak sekali hingga kau tak sempat membuat masalah lagi dan membuatku repot.”

Kemudian Lyla melihat Dylan membangunkan seorang cowok yang tertidur di sofa. Itu Nick.

“Hei bangun!” perintah Dylan, “Kau ini kan Ketua Murid. Mana boleh kau tertidur disini dan bolos mengawasi murid-murid!”

Nick menggeliat, tak segera bangun. Lyla yang kenal sifat Dylan sudah menebak apa yang akan dilakukan Dylan.

Dylan mendekati kuping Nick, “BANGUUUUUN!!!!”

Nick terlonjak kaget. Sementara penghuni bangsal perawatan yang lain pada menggerutu dan bedecak kesal pada Dylan yang cuek dan seolah tak tahu tempat berteriak.

Lyla tersenyum, ia tahu Dylan adalah orang yang dikirim kakaknya untuknya. Tapi ia benar-benar tak ingin Dylan orang yang dikirimkan kakaknya untuknya.

₯₯₯

Sudah seminggu sejak penyekapan, kini Lyla sudah bisa sekolah lagi. Sejak tiga hari yang lalu Lyla menyadari bahwa ia akan terus sekelas dengan Dylan. Itu berarti masalah buatnya karena Dylan—yang duduk disampingnya—selalu tidur di kelas dan membuatnya ditegur guru-guru agar membangunkannya. Hal itu tidak gampang. Dylan tak pernah suka dibangunkan saat tidur, makanya ia jadi serba salah.

Lyla berjalan ke ruang makan dengan berbagai buku di tangannya. Ia sudah ketinggalan banyak sekali pelajaran dan pekerjaan kamar, jadi sebisa mungkin belajar dimanapun ia berada.

BRAK!!!

Tanpa sengaja Lyla menabrak seseorang bertubuh tegap. Buru-buru ia jongkok dan membereskan bukunya. Mati aku! Pikirnya.

“Maaf... maafkan saya. Saya sungguh tak sengaja!” pinta Lyla tak berani menatap orang yang ia tabrak.

“Lyla?”

Lyla mendongak merasa dipanggil. Rupanya orang yang ia tabrak adalah Nick.
Nick tersenyum dan membantu Lyla berdiri, “Kau tak apa-apa?”

Lyla menggeleng. Ia benar-benar ingin pergi. Kalau ada yang melihatnya berdua dengan Nick, cowok paling populer, bisa tambah runyam lagi masalahnya. Ia juga yakin Nicole belum memaafkannya atas insiden yang terakhir.

“Kau mau kemana?”

“Ruang makan,” ujar Lyla cepat dan gelisah. Menatap sekeliling berharap tak ada satupun dari geng Nicole yang suka menjahilinya sedang melihatnya.

“Kebetulan sekali!” seru Nick tampak senang, “Aku juga mau kesana. Bagaimana kalau kita kesana bareng?”

Lyla cuma termangu. Mampus!

Karena tak menjawab, Nick merasa Lyla setuju. Ia menggandeng tangan lyla seenaknya sehingga membuat Lyla hampir yakin kalau Nicoole and the genk takkan membiarkannya hidup lama besok.

Sesampainya di ruang makan, Lyla diperlakukan bak ratu oleh Nick. Nick bahkan menarik kursi buat Lyla, membuat Lyla merasa amat aneh.

“Kau tak perlu melakukan ini Nick,” ujar Lyla risih saat duduk di kursi yang disediakan Nick.

“Tidak aku mau. Sudah lama aku tak melakukan ini padamu Lyla,” balas Nick yang langsung duduk di hadapan Lyla.

Lyla tidak sanggup berkata apa-apa. Nick, Ketua Murid yang merupakan cowok paling populer di sekolah, kini kembali menjadi Nick yang dulu. Nick lima tahun lalu yang bersahabat dengannya. Lyla lebih mengkhawatirkan pandangan orang lain terhadapnya saat ini. Para cewek takkan mengizinkannya mengobrol dengan Nick walaupun hanya sepatah kata. Ini, dia bahkan satu meja bareng.

“Kacamatamu, kamu melepasnya?” tanya Nick yang tertidur saat Dylan memakaikan Lyla contact lens.

Lyla mengangguk tak bersuara. Ia memandang sekeliling berharap tak ada yang melihat ke arahnya sekarang dengan pandangan seram.

“Baguslah, kau lebih cantik seperti itu,” ujar Nick sambil memuji. Ia berharap bisa melihat semburat merah di pipi Lyla, tapi bahkan sepertinya Lyla tak mendengar pujian Nick barusan. Lyla terlihat tak nyaman dan mengkhawatirkan sesuatu. Nick memahami apa yang ditakutkan Lyla saat ini, sesuatu yang membuatnya terpaksa memutuskan tali persahabatannya dengan Lyla, “Kau tak usah takut mengobrol denganku, atau satu meja denganku. Aku sudah bukan cowok terpopuler lagi.”

Lyla menoleh ke Nick yang tersenyum manis. Bingung dengan perkataannya.

“Kepopularitasankku sudah direbut,” jelas Nick sambil menunjuk ke arah meja di sebelah selatan mereka duduk. Di situ cewek-cewek berebut duduk di samping seorang cowok, “Tuh, sama tunanganmu.”

Lyla melihat ke arah yang ditunjukkan Nick. Di situ ia melihat Dylan sedang dikerubungi para siswi. Wajahnya terlihat sangat masam, dan sebal. Tentu saja, Dylan paling benci diganggu saat makan. Lyla sampai geli melihat wajah Dylan yang cemberut itu.

“Kau menyukainya ya?” tanya Nick lagi.

“Hah?” Lyla kembali menatap Nick.

Nick memandangi Lyla lama, “Matamu berbinar-binar saat kau melihat dia. Aku tak pernah melihat matamu secemerlang itu sebelumnya...”

Lyla menunduk malu. Wajahnya langsung merah padam, “Ti... tidak...”

Nick hanya tersenyum tipis, semburat merah itu.... kenapa harus Dylan yang memilikinya? Seberapa lama kau dan dia saling mengenal? “Kau semakin manis kalau wajahmu memerah seperti itu...”

“Kau ini kenapa tiba-tiba jadi aneh Nick?” tanya Lyla yang heran dengan Nick yag sedari tadi memujinya terus.

Aku juga tak tahu, batin Nick dalam hati. Selama ini dia hanya bisa melihat Lyla dari jauh, dan ketika ia melihat Lyla tak pernah begitu dekat dengan cowok, Nick merasa tenang. Ia terus mengawasi Lyla dari jauh, hanya mengawasi, tak bisa mendekatinya lebih jauh lagi. Tapi kini datang cowok yang hampir sempurna, Dylan, dan ternyata dia adalah tunangan cewek yang hampir lima tahun ia cintai, jelas perasaannya tak bisa begitu tenang lagi. Ia merasa harus bertindak.

Tanpa sadar tangannya bergerak ke arah gelungan rambut Lyla, dan perlahan membuka ikat rambut Lyla, “Kau akan lebih cantik lagi dengan rambut digerai seperti ini...”

Setelah membuka gelungan rambut Lyla dan membuat rambut hitam Lyla jatuh ke bahunya, tangan Nick bergerak untuk menyisipkan rambut Lyla ke telingannya, menyingkirkan rambut Lyla helai demi helai dari wajahnya, hingga lama-lama tangannya mengelus pipi Lyla.

Dari mejanya, Dylan ternyata sedari tadi memperhatikan mereka berdua tanpa mereka menyadarinya. Emosinya menggelegak tanpa sebab. Ia marah dan menaruh piringnya dengan kasar lalu bangkit dari meja. Menyingkir dari pemandangan itu.

“Nick...” sergah Lyla yang merasa gusar dengan perlakuan Nick.

Nick yang baru sadar langsung menjauhkan tangannya, “Oh... maaf.”
Bodoh, bodoh! Rutuk Nick dalam hati. Kenapa ia bisa sampai kelewaan tadi ya?



Dylan menyusuri lorong sekolah yang sepi dengan hati yang panas. Ia merasa marah, dan begitu emosi saat melihat Lyla dan Nick yang begitu akrab. Mungkin karena ia tahu Lyla tidak pernah dekat dengan orang lain selain dirinya, begitu juga sebaliknya. Entah kenapa ia merasa dipermainkan, dikhianati. Ia tak tahu kenapa harus marah. Seolah-olah ada yang merebut miliknya yang sangat berharga. Kejeniusannya pun tak mampu menjelaskan isi hatinya saat ini.

Dylan berhenti, tapi tunggu dulu! Kenapa aku harus marah? Pikirnya. Aku tak punya perasaan apa-apa dengan Lyla, kenapa aku harus merasa terganggu? Buat apa? Tak ada apa-apa kan? Ini bukan masalah yang penting, jadi aku tak usah memusingkan masalah ini! Untuk sesaat ia merasa kembali tenang. Ia lalu kembali jalan lagi menuju kamarnya.

Namun sekelebat bayangan pemandangan Nick dan Lyla kembali muncul di kepalanya, dan juga ia tiba-tiba teringat perkataan Nick yang akan merebut Lyla darinya, hatinya panas lagi. Ingin marah tapi logikanya mengingatkan kalau ia tak punya perasaan khusus pada Lyla.

“Arrrghhh....!” Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Masa bodoh! Jangan pikirkan hal ini lagi! Perintahnya pada diri sendiri.

Ia meneruskan jalannya, namun ia terhenti lagi. Kali ini bukan masalah pertarungan batinnya. Ia mencium sesuatu. Bau anyir yang sudah sangat dikenalnya setiap kali ia kerja lapangan, ini... bau anyir darah!

Ia menyadari kalau lorong yang dilewatinya ternyata sepi orang. Instingnya mengarahkannya untuk berlari ke sumber bau anyir itu. Karena intuisinya yang tajam, ia tahu dengan pasti belok ke lorong yang mana untuk menemukan sumber tersebut.
Ketika ia sudah melewati tiga belokan, bau anyir itu semakin tajam. Ia lari lagi dan lorong yang dilewatinya semakin gelap dan sepi, kemudian berbelok ke kanan dan ia langsung menemukan pemandangan yang menyeramkan.

“Damn!” makinya.

Sesosok tubuh terbaring kaku. Dari perutnya keluar banyak darah dan hampir menggenangi seluruh lantai di lorong tersebut.

Dylan mendekatinya tanpa rasa takut sedikitpun. Ia penasaran dan melihat bahwa tubuh itu ternyata tubuh seorang murid laki-laki Convinient High School. Perutnya sobek lebar, seperti ditusuk oleh benda tajam yang panjang. Analisis Dylan sementara mungkin semacam samurai. Ia memperhatikan tubuh yang sudah mengeras itu dari bawah ke atas, dan mendapati sesuatu yang menarik perhatiaannya. Mulut mayat terkatup dan pipinya mengembung seperti sedang menyimpan sesuatu di dalamnya.
Dylan baru hendak mengambil apa yang ada di dalam mulut mayat itu sebelum sebuah sinar yang menusuk mengarah ke arahnya. Itu sinar senter.

“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya yang mengarahkan sinar tersebut. Mr. Jenkins, penjaga sekolah yang sedang berkeliling memeriksa lorong.

Saat sinar itu turun ke bawah, Mr. Jenkins baru melihat apa yang ada di hadapannya. Ia gemetar ketakutan dan menjatuhkan senternya.

“Oh... Tuhan!” desisnya langsung berlari meninggalkan lorong.

Dylan langsung tahu ia akan kena masalah yang lumayan berat.

Tidak ada komentar: