An Ordinary Girl with a Million Dreams

Jumat, 28 Mei 2010

Convinient High School chapter 7


Dylan menghampiri Lyla yang meringkuk kedinginan di pojok. Ia hampir saja melupakan keberadaan gadis itu karena sibuk memeriksa mayat Peter Brown yang membeku di dalam es. Ia bahkan hampir melupakan rasa dingin.
Ia lalu duduk di samping Lyla, kemudian menyentuh tangan gadis itu. Dingin sekali, gumamnya dalam hati.
“Hei, jangan tertidur,” ujar Dylan cemas saat melihat Lyla mau memejamkan matanya, “Jangan di tempat ini, kau bisa mati.”
Lyla tak menjawab. Ia semakin meringkuk dan menenggelamkan diri di blazer Dylan yang ia kenakan.
Dylan yang mengerti penderitaan Lyla langsung merangkul gadis itu erat. Setidaknya tubuhnya masih lebih hangat dibandingkan Lyla.
Lyla yang merasa lebih hangat semakin mendekatkan diri ke Dylan.
“Kau harus makan sesuatu,” ujar Dylan yang merogoh kantung blazernya. Ia mengeluarkan sebatang cokelat kemudian menyodorkannya pada Lyla, “Makan ini.”
Lyla menggeleng lemah, “Tidak. Tenggorokanku sakit.”
“Jangan manja, makan!”
Lyla cuma mengatupkan mulutnya.
Dylan menggerutu ia lalu menggigit cokelat itu dan melumerkannya di dalam mulut, kemudian menatap Lyla dan mengancamnya, “Kau mau kusuapi dengan mulut?”
Lyla menggeleng lagi cepat. Ia langsung mengambil cokelat itu dari tangan Dylan dan mulai memakannya.
“Nah, kau mulai baikan sekarang,” ujar Dylan yang melihat wajah Lyla yang memerah.
Lyla tak bisa menanggapi apa-apa. Ia tersenyum kecil, aku sudah mendapatkan kencan yang aneh.
“““
“Apa kau yakin arahnya ke arah sini?” tanya Seiji saat berlari mengikuti Nick ke arah dapur utama.
“Aku tidak yakin, tapi ini satu-satunya tempat dimana semua orang bisa mati beku jika dikurung di dalam sana,” jawab Nick. Ia semakin panik.
“Tempat apa?”
“Kulkas,” ujar Nick ketika melangkah masuk ke dapur utama. Ia langsung mencari-cari kulkas tempat persediaan utama.
“Kulkas?!”
Nick tak menjawab lagi. Ia segera beralih ke pintu besi yang baru saja dilihatnya. Ia sebenarnya merasa tak yakin apakah Lyla benar-benar ada di dalam tempat itu. Namun pada akhirnya ia berteriak juga memanggil Lyla.
“Lyla! Apa kau di dalam?!”
“Nick! Kami di dalam!” balas Lyla, “Tolong bukakan pintunya!”
Nick terperanjat kaget. Ia segera berusaha membuka pintu besi itu. Tidak bisa terbuka. Pintunya dikunci.
“Tidak bisa dibuka!” teriak Seiji yang berusaha memutar gagang pintu besi, sia-sia, “Pintunya dikunci!”
“Tadi tidak terkunci!” Dylan berseru dari dalam pintu besi, “Kenapa kalian lama sekali?!”
“Dylan kau di dalam juga?” tanya Seiji kaget.
“Iya, panggilkan seseorang untuk membuka pintu ini!” ujar Dylan, “Juga panggilkan Ahli Forensik dari kepolisian!”
“Buat apa?”
“Aku telah menemukan Peter Brown!”
“““
Setelah keluar dari kulkas raksasa, Dylan langsung membawa Lyla ke bangsal perawatan. Setelah itu ia segera ke kulkas itu lagi melihat proses pengangkutan mayat Peter Brown keluar.
Seiji mengomandoi ahli forensik untuk mencairkan esnya dengan hati-hati agar tak ada barang bukti yang rusak. Mereka ingin tahu apa penyebab kematian Peter Brown, selain membeku dalam es tentunya.
Ketika mayat Peter Brown berhasil dikeluarkan, Seiji perlahan mengangkat kepala Peter Brown.
“Memar, Peter Brown sepertinya dipukul dari belakang,” ujar Seiji kepada Dylan, ia lalu menunjuk kedua kaki mayat yang terikat, “Kemudian mengikat kakinya tapi sepertinya ada yang aneh.”
“Apa?”
“Kalau dia hanya dipukul sampai pingsan kenapa kalau dia sadar tidak segera keluar saja dari bak air itu?”
Dylan berpikir sebentar. Ia lalu menghampiri bak tempat Peter Brown ditemukan dan melihat air yang masih tersisa. Ia mencoleknya, menciumnya sebentar, kemudian menjilatnya. Setelah itu menatap Seiji, “Air ini asin. Garam membuat proses pembekuannya menjadi lebih cepat.”
“Kalau begitu kita harus mencurigai murid, atau guru yang memiliki garam dalam jumlah besar,” simpul Seiji.
Dylan setuju. Ia lalu mencari sesuatu lagi, “Apa kali ini ada?”
“Maksudmu kertas nama itu?” tanya Seiji.
Dylan mengangguk.
“Ya, ada. Di kantungnya,” ujar Seiji menyerahkan kertas itu pada Dylan.
“Buat apa kau menyerahkannya padaku?” sengit Dylan kesal, mengembalikan kertas itu, “Kau kan tahu aku tak bisa membaca sandinya!”
“Bukan sandi, tapi hangul!” balas Seiji, kemudian mengeluarkan kertas itu dari plastik bukti dan membacanya, “Ini...”
Dylan melihat wajah Seiji yang berubah serius, “Siapa?”
“Nicole Jhonshon...”
“““
Dylan meminta Seiji memberitahukannya lebih dulu kepada Nick. Seiji melaksanakannya meski dengan menggerutu. Kenapa tidak Dylan saja?! Kenapa mesti aku?!
Nick yang menerima berita itu terlihat lebih shock dari perkiraan Dylan dan Seiji. Ia bahkan menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia juga bertanya pada Dylan berkali-kali apa benar Nicole yang jadi target berikutnya?
“Kemungkinannya begitu, kita harus waspada,” jawab Dylan, “Nicole harus diberitahu karena kewaspadaan itu lebih baik daripada segala macam bentuk penjagaan diri.”
Dan kini Dylan dan Seiji melihat Nick memberitahukan Nicole soal itu.
Nicole juga terlihat shock, ia menangis dan Nick memeluknya. Dylan melihatnya dari jauh.
“Bagaimana? Apa aku harus mencari hubungan dari kedua korban dengan Nicole?” tanya Seiji.
“Ya, sebaiknya kau cepat menemukannya, mungkin kita akan menemukan sesuatu...” ujar Dylan sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
Seiji melihat wajah Dylan yang memucat, “Ada apa? Kau sakit?”
“Tidak,” Dylan membantah, ia beranjak pergi, “Aku harus memeriksa stock dapur dan melihat apakah dapur kehilangan garam...”
Dylan tiba-tiba limbung saat jalan. Seiji langsung menangkapnya.
“Kau demam!” seru Seiji saat memegang Dylan.
“Aku tak apa-apa, pasti akan hilang dengan sedikit tidur,” bantah Dylan berusaha mengelak, tapi tak ada gunanya melawan Seiji yang master judo.
Seiji sudah memegangnya erat dan memapahnya, “Jangan memaksakan diri. Kau speertinya harus dirawat. Bukan cuma Lyla saja yang terkurung di dalam kulkas, tapi kau juga. Gak usah sok jagoan. Kau masih manusia. Ayo! Kita ke bangsal! Sekalian kau kan bisa menemani kekasihmu di sana!”
“Dasar bodoh...” maki Dylan lemah. Ia mau tak mau harus istirahat dulu. Argh, padahal aku baru saja menemui kasus lagi!
“““
Sebulan beranjak setelah kasus Peter Brown. Tak terjadi apa-apa. Sepertinya si pembunuh itu sedang istirahat atau merencanakan cara untuk membunuh Nicole. Karena Nicole kini dijaga ketat oleh polisi. Kamarnya dijaga oleh polisi, kemanapun dia pergi selalu di jaga oleh polisi. Nick juga selalu menjaganya kemana-mana. Ia tak membiarkan seorang pun menyentuh Nicole.
Sejumlah besar garam memang menghilang dari dapur, tapi tak ada yang tahu siapa yang mengambilnya. Dylan menggerutu, kenapa si pelaku tidak memesan garam saja sih! Kan jadi lebih mudah untuk diselidiki siapa yang memesan dan bagaimana garam itu bisa keluar masuk sekolah.
Lagi-lagi tak ditemukan bukti yang cukup untuk menjebak pelaku. Tapi Dylan tahu satu hal dari pengakuan Nicole yang mengatakan hanya menutup pintu kulkas, tidak menguncinya. Dan Nicole juga bilang tak tahu kalau Dylan menyusul Lyla masuk ke dalam kulkas, jadi berarti ada orang lain yang melihat mereka. Ada orang lain yang memang berniat membunuh mereka berdua karena tak ingin mayat Peter Brown ditemukan. Berarti, orang itulah yang membunuh Peter Brown, juga Terry Landstorm.
Dylan jadi gemas, pelakunya di dekat mereka saat itu namun ia tak menyadarinya sama sekali malah terkunci di kulkas.
Seiji juga tak bisa lama-lama di Convinient High School, ia harus kembali ke kantor FBI memeriksa apa ada kasus penting yang membutuhkannya. Selain itu ia juga harus kembali ke Seoul karena pasti aneh kalau ia ‘kerja dinas’ sangat lama, dan istrinya tak menyadarinya.
Tapi ia berjanji akan segera kembali begitu mendapati tak ada kasus yang sangat penting di FBI. Ia bahkan berjanji membawakan perangkat Internet lengkap buat Dylan yang sepertinya ingin menyelidiki sesuatu.
Sebenarnya sesuatu itu ia dapatkan ketika saat keluar Convinient High School bersama Lyla untuk belanja kebutuhan. Biasanya hanya boleh dilakukan siswa Convinient High School setiap sebulan sekali.
“““
“Hey, kau bisa cepat sedikit tidak sih!” seru Dylan saat berbelanja bersama Lyla di departement store di Carlisle.
“Tunggu...” ujar Lyla yang terdiam di depan counter alat-alat mandi, “Aku sedang memilih sikat gigi...”
Dylan yang kesal menunggu Lyla lalu mengambil salah satu sikat gigi berwarna pink yang tergantung di rak, “Sudah kan! Ayo!”
“Eh, kok warna pink?” tanya Lyla heran.
“Kenapa?” tanya Dylan makin tak sabar, “Bukannya semua cewek suka warna pink?”
“Tapi itu kubelikan buatmu,” kata Lyla, “Sikat gigimu sudah bercabang bulunya.”
Dylan memandangi sikat gigi warna pink di tangannya, ugh..., “Ya sudah! Apa aja!”
Lyla lalu mengambil sikat gigi warna biru kemudian mengganti sikat gigi warna pink.
Dylan yang merasa urusannnya sudah beres langsung berjalan ke kasir sambil mendorong troli. Lyla mengikuti dari belakang.
Saat sudah tiba di kasir dan harus mengantri dengan ibu-ibu Lyla tiba-tiba bilang ada sesuatu lagi yang harus dibeli.
“Bukannya urusanmu sudah selesai? Mau beli apa sih?!” tanya Dylan jengkel.
Lyla merengut, masa aku bilang mau beli tampon?
Melihat Lyla melipat wajahnya sedemikian rupa, Dylan akhirnya mengalah, “Ya, ya, ya, sana cepat!”
Lyla tersenyum kemudian berlari ke arah counter apotik. Biasanya tempat itu yang menjual pembalut.
Dylan yang menunggu di kasir, bersama-sama ibu-ibu yang menggosip langsung memasang telinga ketika tiba-tiba ibu-ibu itu menyebut Convinient High School.
“Kudengar di sekolah itu terjadi pembunuhan lagi ya?”
Lagi?
“Ya, kali ini polisi bahkan turun tangan. Bahkan katanya ada FBI juga lho!”
“Ada FBI juga?!”
“Ya, sepertinya kali ini kasusnya serius. Mungkin sekolah itu juga akan ditutup.”
“Biar saja! Biar Kepala Sekolah itu tau rasa. Dulu di sekolah itu terjadi pembunuhan dan dia mendiamkannya. Sepertinya sekolah itu dikutuk.”
Dulu terjadi pembunuhan?
“Ah ya?! Kasus 27 tahun yang lalu itu kan? Ah, malangnya gadis itu. Orang tua nya juga tak bisa menuntut apa-apa.”
27 tahun lalu? Gadis?
Dylan lalu mencatat setiap informasi yang diperolehnya dari Ibu-ibu itu di otaknya.
“““
Saat ini bisa dibilang, sepi kasus. Seiji yang kesal sudah capek-capek kembali ke kantor pusat pun akhirnya memilih pulang sebentar ke Korea, menemui istrinya. Tapi baru niat, karena saat itu tiba-tiba SMS datang ke hapenya, dari istrinya.

Seiji, maaf katanya kau mau pulang hari ini? Aku sedang tidak di rumah. Omma memaksaku untuk menetap di rumahnya sampai saat aku melahirkan. Tradisi katanya. Jadi kalau kau pulang dan lapar, di kulkas sudah ada makanan dingin, tinggal dihangatkan saja. Kalau kau mau menyusul ke rumah Omma jangan lupa hubungi aku dulu.

Seiji merengut membacanya. Kalau begini dia tak ada pilihan lain selain membantu Dylan di Convinient High School. Okeh, back to school!
Tapi tubuhnya rasanya capek semua. Ia memutuskan untuk tidur sebentar di kantornya Dylan.
Saat baru mau tidur tiba-tiba pintunya di ketuk. Ia langsung memasang tubuh siaga. Otaknya berjalan cepat, tak ada yang tahu kalau sekarang kantor ini ada penghuninya. Dylan juga sudah memberitahunya kalau semua orang mengira dirinya sedang cuti panjang, jadi buat apa orang itu mengetuk pintu?
“““
Sejak menyebar berita bahwa sasaran pembunuh itu hanya murid populer, anak-anak populer langsung berlomba-lomba meminta maaf pada anak-anak yang tidak populer. Mereka takut setelah Nicole, nama mereka yang akan jadi tertulis berikutnya.
Termasuk Gaby dan Sharon, mereka meminta maaf pada Lyla. Lyla dengan tulus memaafkan mereka meski pada akhirnya Gwen mengomeli mereka berdua.
Dylan yang lagi bersemedi di ruang arsip sekolah memeriksa dan menghafal nama-nama murid, guru, dan para staf sekolah dikejutkan oleh kedatangan Seiji yang begitu cepat bersama seseorang.
“Kamu mungkin belum mengenalnya,” jelas Seiji, mengenalkan temannya, “Namanya Rifki Mahatir, dia Anggota Elit Divisi Mata-mata FBI. Selama ini hanya kerja lapangan jadi kau belum pernah menemuinya.”
“Hai,” ujar Dylan dingin terhadap Rifki, ia langsung beralih ke Seiji, “Tak ada kasus baru atau apa?”
“Tak ada, tapi aku membawa peralatan internet yang kau butuhkan,” kata Seiji, “Aku akan memasangnya di kantormu, kalian ngobrol dulu ya?”
Seiji langsung meninggalkan Dylan berdua dengan Rifki sambil tersenyum geli. Gunung es ketemu gunung es, apa jadinya?
“Jadi ada perlu apa kesini?” tanya Dylan tanpa meninggalkan kesan dinginnya. Ia bahkan tak menoleh pada Rifki dan sibuk memeriksa arsip murid-murid lagi.
“Liburan,” jawab Rifki singkat. Sama sekali tak kalah dingin.
“Jadi begini caranya kau liburan?” tanya Dylan.
“Ya, aku sedang mencari kasus yang takkan membuang nyawa. Kuharap aku akan menemuinya disini.”
“Kurasa aku tak bisa memberimu tugas disini.”
“Begitu? Tapi aku bukan bekerja dibawahmu. Aku bekerja dibawah Seiji. Kau kan sedang ‘tidak bertugas’. Aku tak menerima perintahmu.”
Dylan cuma tersenyum tipis. Seiji sedang membuatnya menemui orang yang sangat mirip dengan dirinya sendiri.

Tidak ada komentar: