An Ordinary Girl with a Million Dreams

Jumat, 28 Mei 2010

Convinient High School chapter 6


Sejak kejadian itu Dylan dan Seiji pun bahu membahu mengusut kasus itu bersama-sama. Mereka menyelidiki latar belakang korban dan menemukan, bahwa korban, Terry Landstorm adalah salah satu murid Convinient High School yang dianggap populer dan suka menggencet anak-anak lain. Jika pelakunya adalah murid juga, maka motif yang paling mungkin adalah dendam. Sayangnya, tak ada satupun petunjuk yang bisa memberi sedikit keterangan kira-kira siapa pelakunya. Lorong itu sepi, dan jarang dilewati murid makanya tak ada yang bisa memberikan kesaksian atau sekedar memberi tahu apakah ada orang yang mencurigakan lewat disekitar TKP sebelum kejadian tersebut. Waktu kejadiannya juga saat jam makan siang, hingga kemungkinan kalau ada satu murid yang menghilang, takkan ada yang menyadarinya, kecuali satu hal yang Dylan dapatkan dari Lyla.
“Kalau murid populer, pasti seluruh orang akan memperhatikan kemana dia pergi. Kau kan murid populer, berarti kau pasti dilihatin, diikutin, diintip, wajarlah! Jangan merasa kesal, nikmati kepopuleranmu. Kau beruntung tau!” ujar Lyla ketika Dylan menggerutu saat makan siangnya lagi-lagi diganggu.
Dylan langsung menarik kesimpulan berarti ada kemungkinan pelakunya bukanlah murid yang terlalu populer. Menurut kesaksian beberapa murid, mereka memang merasa kehilangan Terry saat jam makan siang. Namun tak ada yang menyadari kemana hilangnya Terry, dan juga tak tahu siapa yang bersamanya saat itu. Tapi tetap saja, keberadaan Terry yang hilang terasa. Kalau korban keberadaannya saat itu terasa hilang, namun pelaku tidak, kemungkinan pelakunya adalah murid Convinient High School yang hawa keberadaannya tipis, atau tidak populer. Namun Dylan takkan terlalu menggunakan analisisnya ini, karena hanya sedikit persentasi kebenarannya. Terlalu menebak-nebak, ujarnya saat ditanya Seiji soal kepastian kemungkinan yang dia buat.
Seiji pun terpaksa tinggal sementara di Convinient High School membantu Dylan. Karena biasanya dia bisa menyelesaikan kasus dengan cepat, namun kali ini tidak. Pelakunya begitu bersih dan rapih saat melakukan pembunuhan. Selain kertas itu, Seiji juga sama seperti Dylan, tak menemukan apa-apa. Peter Brown juga sampai sekarang masih belum ketemu. Entah kenapa sejak saat itu, ia juga ikut menghilang.
Dylan yang frustasi karena merasa buntu di tengah jalan memutuskan untuk sedikit ‘refreshing’ ke perpustakaan. Ia ingat niat awalnya ke Convinient High School. Mencari tahu tentang ayahnya. Namun karena tak tahu letak perpustakaan, Dylan mengajak Lyla.
“Hey cepat!” seru Dylan dari luar kamar Lyla. Ia dari tadi menunggu Lyla.
Lyla berusaha cepat, ia ingin tampak rapi saat bersama Dylan.
“Udah cantik kok,” puji Gwen Chang, teman sekamarnya. Gwen bisa dibilang, satu-satunya teman yang Lyla punya sejak Nick dulu memutuskan melepas tali persahabatannya dengan Lyla.
Lyla mengangguk penuh rasa terima kasih pada Gwen. Ia dan Gwen keluar dari kamar menemui Dylan.
Dylan sekilas melihat Lyla yang berbeda saat itu. Lyla mengenakan sweater hijau muda dengan rok putih yang menggantung di lutut. Tampak manis saat ia mengenakan bando dengan warna senada. Namun ekspresi Dylan tak berubah sama sekali.
“Ayo cepat pergi,” ujar Dylan cuek.
Lyla merengut, ia ingat kalau Dylan bukan tipe orang yang menilai orang lain berdasarkan penampilan, melainkan berdasarkan isi otak. Lyla sadar ia tak masuk kualifikasi.
Saat Dylan hendak pergi, Gwen menahannya dengan memegangi lengannya, “Hey tunggu!”
“Apa?” tanya Dylan ketus. Ia menyingkirkan tangan Gwen kasar.
Gwen terlihat tak peduli dengan sikap Dylan, “Apa kau biasa tak menghargai orang lain seperti itu?”
“Maumu apa?” tanya Dylan malas.
Lyla berusaha menahan omongan Gwen, namun Gwen bersikeras memberikan omelan pada Dylan.
“Memangnya kau tak sadar, Lyla sudah berusaha tampil baik untukmu! Apa tak ada sesuatu yang ingin kau ucapkan padanya?”
Dylan lalu melihat Lyla yang tertunduk malu, ia memang menyadari Lyla tampil beda dan manis, “Buat apa kau rapih seperti itu?”
Lyla melongo. Gwen makin kesal.
“Kau ini minta dihajar ya!” seru Gwen.
“Aku kan cuma memintamu mengantarkanku ke perpustakaan, mengapa kau berdandan rapih seperti itu? Aneh...”
Lyla baru tahu kalau Dylan cuma mengajaknya ke perpustakaan. Ia langsung merasa malu pada dirinya sendiri dan merutuk dalam hati. Aduh... bodoh-bodoh-bodoh! Bisa-bisanya aku berpikir macam-macam. Ia baru tahu Dylan tak berubah sama sekali meski sudah lima tahun berjalan.
•••
“Dylan tunggu bentar,” pinta Lyla saat berusaha mengikuti kecepatan langkah kaki Dylan. Sia-sia.
“Habis ini belok kanan, kiri?” tanya Dylan saat mendekati persimpangan koridor.
“Kiri...” ujar Lyla.
Dylan langsung belok tanpa memperdulikan Lyla yang semakin kelelahan mengejarnya.
Lyla hampir berlari untuk mengejar, “Dylan, pelankan sedikit kak... Hmp!”
Seseorang membekap mulut Lyla dan menariknya. Dylan yang terus berjalan tak menyadarinya.
Di tengah perjalanan Dylan bertemu dengan Nick dan Seiji. Seiji melambaikan tangannya begitu melihat Dylan.
“Hai,” sapanya, “Aku mencarimu kemana-mana.”
“Ada apa?” tanya Dylan.
“Seusai permintaanmu aku memeriksa hubungan Terry Landstorm dengan Peter Brown dan hanya menemukan bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa kecuali pertemanan. Terry merupakan salah satu murid yang populer di bidang olahraga Rugby dan Peter populer di bidang Tennis,” jelas Seiji.
“Kau belum menemukan Peter?”
Seiji menggeleng sambil mendesah lemah, “Tidak. Para polisi juga sudah menggeledah semua tempat namun Peter belum ditemukan.”
“Kau mau kemana?” tanya Nick pada Dylan.
“Aku mau ke Perpustakaan.”
“Sendiri?”
“Tidak, aku bersama Lyla.”
“Lyla?” Nick terlihat semangat ia melongok ke belakang Dylan, “Mana dia?”
“Dia ada di belakang...” Dylan menoleh dan melihat lorong di belakangnya sepi, “Tadi dia ada di belakang.”
“Tapi mana?” tanya Nick lagi karena tak menemukan Lyla.
Dylan penasaran dan berjalan ke belokan yang ia lewati sebelumnya, “Kemana perginya anak itu.”
“Apa jangan-jangan...” Nick langsung berasumsi. Ia memandang Dylan lama.
“Sial...” desis Dylan pelan.
“““
Lyla didorong oleh Nicole ke tembok dan disudutkan di sana. Ia melihat Gaby dan Sharon, dua komplotan Nicole tersenyum mengejek ke arahnya.
“Kau merasa dirimu hebat heh?” tanya Nicole tajam, “Setelah kau melepas kacamata konyolmu itu kau merasa cantik iya?”
“Apa maumu Nicole?” tanya Lyla dingin.
“Aku mau melenyapkanmu,” ujar Nicole dengan nada yang pelan namun menusuk, “Kau bukan siapa-siapa. Kau hanyalah kutu tidak berguna yang mengganggu pemandanganku.”
“Aku bukan kutu tidak berguna!” bentak Lyla. Ia ingin pergi namun tangan Nicole mencengkramnya erat dan semakin menyudutkannya ke dinding.
“Ya, ya! Terserah apa katamu, tapi aku tak ingin melihatmu di dekat Dylan lagi! Kau bahkan tak istimewa sama sekali, jadi kenapa dia harus mau dekat-dekat denganmu. Kau juga sudah mempengaruhi Nick, cewek murahan. Kau bukan siapa-siapa! Kau hanyalah cewek asia cupu, dan pecundang bodoh!”
“Sebaiknya kau jaga mulutmu Nicole, atau aku...”
“Atau apa?!” seru Nicole keras seperti orang gila. Kini ia jadi terlihat seperti wanita cantik yang amat jahat, “Kau bisa apa hah?!”
“...Kau akan menyesal...” desis Lyla. Matanya menatap Nicole penuh kebencian.
Sedangkan mata Nicole merah karena marah. Ia menarik Lyla dengan kasar ke depan sebuah pintu besi besar, di dapur. Gaby dan Sharon membantunya jika Lyla berusaha memberontak.
“Kau hebat sekali bisa lolos dari ruangan dingin waktu itu,” ujar Nicole sinis. Ia membuka pintu besi itu. Langsung hawa yang super dingin terasa, “Namun kujamin kau takkan lolos dari kebekuan yang satu ini.”
Lyla yang menyadari tempat itu langsung berusaha berontak. Namun usahanya sia-sia saja karena Gaby dan Sharon sudah menahannya dan mendorongnya masuk ke dalam ruangan itu.
Begitu Lyla sudah berada di dalam ruangan berpintu besi itu Nicole langsung menutup pintunya dan meninggalkan Lyla di dalam.
“CARAMU GAK KREATIF!!!” seru Lyla dari dalam ruangan. Ia langsung menggigil.
“Diam kau!” bentak Nicole, “Aku sudah memutuskan akan menghukummu dengan rasa dingin maka aku akan melakukannya! Lagi, lagi, lagi!”
“Kau tak bisa menjatuhkanku dengan cara seperti ini!”
“Oh ya? Liat saja!” balas Nicole kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Lyla.
“““
Lyla mengelilingi ruangan yang isinya es semua itu. Ia tahu tempat ini, kulkas utama dapur Convinient High School. Ia heran darimana Nicole tahu kombinasi kode buat membuka pintu kulkas persediaan, hanya saja ia tak terlalu memperdulikan itu. Nicole bisa melakukan apa saja.
Ia bertanya-tanya kenapa mesti sekarang Nicole balas dendam kepadanya, kenapa tidak dari dulu saja karena cukup lama Nicole membiarkannya ‘bebas’. Namun saat menyadari alasannya ia memaki dalam hati.
Nicole sudah merencanakannya dari lama. Sekarang adalah hari dimana seluruh koki sekolah libur dan takkan ada yang memeriksa kulkas untuk waktu yang cukup panjang. Takkan ada yang menyadari keberadaannya di kulkas itu.
Hawa dingin semakin menusuk kulitnya. Serasa beribu-ribu jarum menusuknya bersamaan dan terus menerus. Ia lalu teringat Dylan dan bertanya dalam hati apakah Dylan menyadari kehilangan dirinya?
Ia lalu menggeleng cepat, tidak! Aku tak mau merepotkan dia lagi. Jangan dia yang menyelamatkanku! Dia pasti akan mengomel habis-habisan.
Maka Lyla memutuskan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia berkeliling di dalam kulkas menggerakkan badan agar badannya tetap hangat. Dan ia lalu berlari-kari kecil sambil mencari pintu keluar.
Matanya saat itu tertuju pada sebuah bak seukuran bak kamar mandi yang ada di kulkas itu dan tersembunyi dibalik daging-daging yang menggantung. Tubuhnya seolah tertarik untuk mendekat. Saat cukup dekat ia melihat bak itu berisi air yang membeku. Namun matanya menemukan sesuatu lagi dibalik air beku itu. Itu....
“AAAAAAAaaaaaaaaa......!!!”
“““
“AAAAAAaaaaaaaaa......!!!”
Dylan tersentak. Ia baru saja akan mencari Lyla di gedung sayap kanan dan suara teriakan itu mengagetkannya. Hatinya mencelos, itu suara Lyla!
Tanpa pikir panjang lagi ia langsung berlari ke arah sumber suara. Hatinya diliput kecemasan. Suara Lyla yang sekarang tinggal sayup-sayup di telinganya membuatnya panik. Ia mengandalkan suara teriakan itu untuk menemukan Lyla.
Jangan berhenti berteriak Lyla, batinnya, jangan berhenti.
Suara itu menuntunnya ke arah dapur utama sekolah. Namun saat ia melangkah masuk suara itu berhenti.
“Lyla!”panggil Dylan. Ia berkeliling dapur yang sepi orang itu.
Namun tak ada yang menyahut.
“Lyla!!” panggil Dylan sekali lagi.
“Dylan....!”
Dylan tersentak. Seseorang memanggilnya dan itu pasti Lyla. Suaranya terdengar dari jarak yang cukup dekat.
“Lyla! Katakan kau dimana!” seru Dylan semakin mempercepat langkahnya mengelilingi dapur utama.
“A... aaaku... aaaku takut! Ce...cepat kemari! Aku takut di...disini!” balas suara itu.
“Katakan saja kau dimana!” teriak Dylan yang masih berusaha mencari sumber suara.
“Pin... pintu besi!”
Mata Dylan langsung mencari pintu besi yang dimaksud Lyla. Dengan cepat ia melihat ada satu pintu besi sebelah utara dapur. Buru-buru ia menghampiri pintu itu. Ia terbelalak menyadari ruangan apa yang ada dibalik pintu kulkas itu. i...ini kulkas?
“Lyla kau ada di dalam?!” teriak Dylan. Dalam hati ia berharap jawabannya ‘tidak’.
“Dy...dylan! Aku sa..sangat takut! Kumohon...cepat.. ke..kemari!” balas suara Lyla.
Dylan terkejut, Lyla benar-benar terkurung di dalam kulkas.
Ia memperhatikan pintu besi di hadapannya, tidak terkunci? “Lyla apa kau bisa keluar?”
“Tak bisa dibuka dari dalam...!”
Dylan langsung membuka pintu besi itu dan mendapati dugaannya benar, tempat ini adalah kulkas raksasa.
Begitu masuk ia melihat Lyla yang memojok gemetaran di sudut kulkas. Dylan segera melepas blazernya dan menyelimutkannya pada Lyla.
Saat itu, ada orang lain yang melihat mereka. Orang itu mengintip dari balik pintu besi dengan penuh kebencian. Ia lalu menutup pintu besi itu, dan mengunci Dylan dan Lyla di dalam.
“““
Nick dan Seiji tadinya berpencar mencari Lyla. Namun karena hasil pencarian mereka sama-sama nihil mereka pun bertemu lagi dan memutuskan mencarinya bersama-sama.
Saat di tengah perjalanan mereka bertemu Nicole dan komplotannya. Saat Nicole menyebut nama Lyla, Nick segera mengajak Seiji untuk bersembunyi. Seiji yang paham langsung bersembunyi dibelokan lorong sekolah dengan posisi yang strategis.
“Nicole apa kita tak kelewatan?” tanya Gaby. Ia terlihat cemas.
Nicole memasang wajah sebalnya, “Dia pantas menerima lebih dari yang ini, jadi jangan berpikir kalau kita sudah kelewatan memberinya pelajaran!”
“Tapi Nicole, kalau Lyla mati karena beku bagaimana?” Sharon juga mulai khawatir dan takut, “Kita pasti kena hukum.”
“Kan aku tak mengunci pintunya!” bentak Nicole yang kesal, “Kalian ini kenapa sih?! Kalau Lyla bodoh itu sadar, dia bisa keluar dari ruangan itu dengan mudah...”
“Ni...nicole,” Gaby kelihatan ketakutan mengatakan sesuatu, “Pintu itu tak bisa di buka dari dalam...”
Nicole langsung merasa takut. Namun ia berusaha menyembunyikannya, “Ya udah! Kalau kalian memihak si cewek pecundang itu dan ketakutan setengah mati, tinggal nanti malam kalian buka aja lagi pintunya beres kan?!”
Gaby dan Sharon tak berani menjawab. Mereka hanya manut saja dan mengikuti Nicole.
Ketika Nicole dan komplotannya pergi, Nick dan Seiji keluar dari persembunyian mereka. Seiji sebenarnya hendak menghampiri Nicole dan menanyainya namun ditahan oleh Nick.
“Percayalah, kau takkan mendapatkan apa-apa darinya. Dylan saja sudah kapok,” jelas Nick.
“Kenapa?”
“Karena dia adik kembarku! Aku tahu dengan pasti sifatnya, Dylan saja tak berhasil menginterogasinya dulu, kau mau mencoba juga?”
Seiji cuma terdiam. Dylan yang mengerikan dan selalu bisa membuat semua orang menuruti keinginannya dan menjawab pertanyaannya dikalahkan oleh seorang gadis SMA. Kurasa kalau aku menginterogasi gadis itu pun hanya membuang waktu saja.
“Jadi sekarang kita tahu, Lyla menghilang itu pasti kerjaan Nicole, tapi pertanyaannya dimana Lyla sekarang?”
Seiji memutar otak, “Tadi mereka menyebut mati karena beku. Pasti tempat yang dingin. Apakah ada tempat yang bersuhu dingin di sekolah ini?”
“Aha!” seru Nick seolah mendapatkan harta karun berharga, “Dulu Lyla disekap di tempat yang cukup dingin. Pasti Lyla disekap disana lagi...”
“Tidak,” bantah Seiji, “Jika aku jadi adikmu dan tak ingin ada orang yang menyelamatkan Lyla, aku takkan begitu bodoh sehingga menyekap Lyla di tempat yang sama dua kali.”
“Lalu dimana?” tanya Nick kecewa.
“Pasti ditempat yang jauh lebih dingin, cukup dingin untuk membuat orang mati beku,” jelas Seiji.
Nick lalu teringat pertanyaan Dylan pada Larry saat menyelamatkan Lyla dulu. Ia ingat Dylan menanyakan ruangan apa saja yang ada di sebelah utara. Dan Larry menyebut...
“Jangan-jangan...” perasaan Nick langsung tak enak.
“““
Dylan menendang pintu kulkas dari dalam dengan kesal, “Sial! Tidak bisa terbuka! Kenapa tiba-tiba bisa tertutup begini sih?!”
“Dylan...” panggil Lyla pelan, ia masih meringkuk gemetaran, “Da...daripada kau pikirkan itu, aa..ada sesuatu yang harus kau li...hat...”
Dylan menoleh dan melihat tangan Lyla menunjuk ke suatu tempat di dalam ruangan. Di tempat itu ada sebuah bak besar. Ia lalu mendekati bak itu.
Isinya air yang membeku, tapi tidak! Tidak hanya air yang membeku saja! Ada sesuatu di balik air itu, itu.... itu Peter Brown!

Tidak ada komentar: