An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 10 Mei 2010

Convinient High School chapter 3

Dua hari kemudian...

Dylan mengendurkan dasinya, risih. Heran, di zaman modern seperti ini masih saja ada sekolah yang menyuruh siswanya mengenakan seragam, gerutunya dalam hati.

Seragam Convinient High School untuk murid laki-laki adalah pakaian kasual, kemeja putih, ditutupi sweater tipis abu-abu tanpa lengan, dasi, dan jas. Sedangkan ceweknya, sama, hanya saja mereka menggenakan androk dan kaus kaki hitam, dasi mereka diganti pita.

Belum sekolahnya. Alasan yang paling membuat Dylan anti sekolah di Convinient High School adalah: meskipun Convinient High School adalah sekolah asrama terbaik di eropa, namun sekolah ini juga sekolah paling klasik—Dylan menyebutnya kuno—di seantero Eropa. Konsepnya, sekolah ini dulu adalah puri peristirahatan Ratu Inggris di Carlisle, tapi dengan cerita yang panjang tempat ini berpindah tangan dan dirombak menjadi sebuah sekolah tua. Sekolah tua dengan daya listrik yang sedikit, jaringan yang tidak jelas sehingga meskipun Dylan berusaha membawa modem dan laptop sakunya sekedar melanjutkan pekerjaan dari jauh jadinya mustahil karena begitu dayanya bertambah, listrik satu sekolah akan mati.

Belum lagi yang menyebalkan adalah tatapan mata seluruh murid cewek di sekolah ini begitu Dylan lewat, seolah-olah Dylan satu-satunya cowok yang pernah mereka temui. Tapi bukan Dylan namanya kalau ia tak cuek.

Dylan berhenti di depan sebuah pintu. Ia baca papan nama yang tertempel di sana, Math Class? Aneh, Mom bilang kalau Dylan akan mengambil kelas yang sama dengan Lyla, tapi Math Class? Lyla bukan tipe orang yang suka berurusan dengan Matematika dan angka, gumam Dylan dalam hati. Ia lalu tersadar, sial! Kenapa sejak tiba disini yang kupikirkan hanya Lyla?

Ia lalu langsung mengetuk pintu dan tak lama terdengar suara.

“Kau pasti murid baru itu. Masuk!” ujar suara itu

Dylan membuka pintu dan masuk. Setibanya di dalam dia dihadapkan dengan pemandangan yang menarik.

Murid-murid di kelas itu seolah-olah terbagi dua dengan sendirinya. Sebagian murid yang berada di depan bertubuh sedang sampai kecil, mengenakan kacamata tebal dengan kulit pucat berbintik-bintik atau mata sipit sibuk menekuni buku tebal di meja mereka masing-masing dan sebagian murid yang berada di belakang dengan postur tubuh yang ideal, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang membaca majalah, bergosip, membetulkan make up, bermesraan, atau iseng mengerjai murid yang duduk didepan dengan melemparkan benda semacam karet penghapus dan lainnya. Dan Dylan heran mengapa mereka pasrah sekali dikerjai seperti itu.

“Anak-anak,” seru pria setengah baya yang terlihat lebih tua dari usia aslinya. Namun tampaknya murid-muridnya sama sekali tak mempedulikannya kecuali murid yang berada di depan yang sudah terpana melihat Dylan. Tak mau kehilangan image-nya di depan muridnya yang baru, pria itu mengeraskan suaranya lagi, “Ehm! ANAK-ANAK!”
Akhirnya semua menoleh ke depan dengan malas. Namun wajah mereka berubah saat melihat Dylan yang berdiri dengan cuek dan santai didepan kelas, apalagi yang cewek.
“Silahkan perkenalkan namamu di depan kelas Nak..” ujar si guru.

Dylan mendesah, merasa menjadi anak kecil lagi. Anggota FBI yang lagi
dipermainkan... keluhnya dalam hati, “Dylan McMillan.”

“Pindahan dari sekolah mana kamu nak?” tanya si guru.

“Tidak dari mana-mana,” jawab Dylan malas, “Aku tak pernah sekolah sebelumnya.”

Seisi sekolah terkejut. Untuk masuk ke Convinient High School, jika tidak kaya raya, maka kamu harus punya otak jenius. Dylan masuk lewat jalur yang pertama, dia kaya, dan Mom berhasil menyuap Kepala Sekolah agar dia bisa masuk ke sekolah.
Si guru terlihat kecewa, ia merasa akan ada murid lagi yang kerjanya duduk di belakang, sibuk dengan urusannya sendiri dan tak mempedulikan pelajaran karena sama sekali tak mengerti yang diterangkan. Ia lalu berniat menguji Dylan, “Jadi kamu Home Schooling?”

Tujuh tahun aku belajar bersama Dad, sisanya dengan Alfred selama tiga tahun, lalu otodidak lewat buku-buku Dad, “Bisa dikatakan begitu.”

“Kamu sudah mempelajari matematika sampai mana?” tanya si guru lagi.

Dylan memandangi si guru dengan tatapan aneh? Dia bercanda ya? Aku sudah menyelesaikan matematika tingkat lanjut sejak lima tahun yang lalu. Seharusnya aku yang balik bertanya dia sudah menguasai mata pelajarannya sendiri sampai mana.

Karena tak mendapat jawaban dari Dylan si guru beralih ke papan tulis dengan beberapa angka-angka yang dipotong dengan titik, grafik, dan huruf-huruf, “Bagaimana dengan ini? Apa kau mengerti sesuatu?”

Dylan terdiam menatap papan tulis. Seisi kelas tampaknya tegang, soalnya yang di papan tulis bukanlah pelajaran yang mereka pelajari saat ini, melainkan penelitian yang sedang dikerjakan oleh gurunya dan baru hendak dihapus.

Karena Dylan tak segera menjawab, sang guru langsung tersenyum remeh, “Jadi kurasa kau harus mengulang beberapa pelajaran...”

“Ini Algoritma Dijstrak bukan?” tanya Dylan dengan tatapan yang dalam ke arah si guru, “Algoritma dengan prinsip greedy yang memecahkan masalah lintasan terpendek untuk sebuah graf berarah dengan bobot sisi yang tidak negatif.”

Kali ini malah si guru yang terdiam.

“Algoritma yang merupakan salah satu varian bentuk algoritma populer dalam pemecahan persoalan yang terkait dengan masalah optimasi. Ada beberapa kasus pencarian lintasan terpendek yang diselesaikan dengan Algoritma Dijstrak, yaitu: a pair shortest path, all pairs shortest path, single-source shortest path, dan intermediate shortest path,” lanjut Dylan lagi, “Namun tampaknya anda melakukan kesalahan dalam Kompleksitas Waktu Algoritma, atau juga Running Timenya.”

“A...apa?”

Dylan menghampiri papan tulis dan menunjuk ke arah rumus yang tertulis, “Algoritma Dijkstra’ menggunakan waktu sebesar O(V*logV + E) dimana V dan E adalah banyaknya sisi dan titik. Anda salah disini, kompleksitas Algoritma Dijkstra adalah O(n2) bukan O(n3). Sehingga, untuk mencari semua pasangan semua pasangan total waktu asimptotik komputasinya adalah T(n) = n.O (n2) = O(n3).”

Seluruh isi kelas terdiam karena tercengang untuk waktu yang lama. Dylan menatap gurunya yang masih termangu dengan santai.

“Begitukan?” dia balas bertanya, “Tapi kalau aku salah, itu karena aku sudah tak mempelajarinya sejak lima tahun yang lalu. Mungkin ada yang kelewat dan terlupa, tapi karena algoritma adalah mengenai komputerisasi, aku menjamin aku takkan lupa satupun.”

Si guru tepuk tangan sambil tersenyum senang, yang lain mengikuti.
“Sekarang aku boleh duduk?” tanya Dylan.

“Silahkan, kau boleh ambil bangku mana saja! Ada dua bangku kosong di depan, pilihlah satu!” ujar gurunya masih dengan pandangan takjub ke muridnya yang baru, “Oh ya, kau boleh memanggilku Mr. Thompson. Aku guru kelas ini.”

Dylan tak peduli. Ia menatap kelas, dan merasa aneh, Lyla tak ada disini! Ujarnya dalam hati. Pelan-pelan ia melangkah ke bangkunya sambil matanya berputar mencari Lyla. Saat duduk ia sempat melihat ke salah seorang gadis asia yang duduk di ujung, memastikan apa itu Lyla. Gadis itu tersipu saat Dylan memandangnya cukup lama, namun sepertinya dia bukan Lyla. Lyla tidak punya tahi lalat di hidung, dan aku yakin lima tahun takkan merubah Lyla sampai begitu banyak. Tak mungkin dia Lyla. Dylan memalingkan wajahnya lagi, dan mulai merasa khawatir, gadis itu! Kemana dia? Apa aku salah kelas? Apa dia sakit? Ah, paling begitu! Kursi kosong sampingku pasti punya dia dan dia tak masuk kelas, aku tinggal memeriksanya di bangsal perawatan, beres!

Dylan menatap ke depan kelas berusaha menghilangkan perasaan khawatirnya.

Mr. Thompson menghapus papan tulis, “Baik. Mari kita melanjutkan pelajaran kita mengenai Teori Angka Bernoulli...”

Dylan yang malas mengulang pelajarannya saat ia masih berusia 7 tahun memilih tidur. Lagipula ia yakin Mr. Thompson takkan berani membangunkannya kecuali ia mau Dylan mengoreksinya lagi dalam masalah rumus Bernoulli.

₯₯₯

“Menurutku seluruh saksi memberikan keterangan yang benar...” ujar Seiji saat di TKP. Ia sengaja mendatangkan seluruh saksi yang ada di gedung apartment Senator Cliff saat kejadian ke TKP, “Kecuali satu orang...”

Semua saksi saling toleh-menoleh berusaha menebak siapa yang berbohong.

“Jadi siapa sebenarnya Sir?” tanya salah satu anggota FBI yang berada di TKP.

Seiji tersenyum senang, lagaknya bagai orang yang baru memenangkan lotere. Ia menatap satu persatu saksi dengan tajam sambil mondar-mandir padahal tak perlu ia lakukan. Seluruh saksi kini jadi makin gelisah, takut dirinya ditunjuk.

“Tuan Cleaning Service, anda dinaikkan statusnya dari saksi menjadi tersangka!” seru Seiji.

“A... apa?” sergah Petugas Cleaning Service kaget, “Mengapa aku? Aku sama sekali tidak berbohong!”

“Anda mengatakan anda tak mendengar suara apapun dari dalam apartment saat kejadian berlangsung, dan anda masuk begitu saja tak mendapati apa-apa di dalam juga masih tak mendengar suara apapun. Anda tak tahu korban sedang bergulat dengan pelaku di ruangan kaspel mini, dan karena itu ruangan pribadi Senator Cliff anda tak berani masuk dan hanya membersihkan ruangan tamu dan kamar saja. Betul begitu pengakuan anda?”

Petugas Cleaning Service mengangguk.

“Jadi kesimpulannya jika anda tak mendengar suara apapun, berarti pintu ini tertutup karena pintu kaspel mini ini kedap suara...” jelas Seiji, “Tapi...”
Semua cemas menunggu kelanjutan kata ‘tapi’ dari Seiji.

“Tahukah anda jika kita membuka pintu ruangan ini, dan berdiri di tengah-tengahnya kita bisa merasakan ada angin yang berhembus dari serambi dekat ruangan kaspel mini, masuk ke dalam kaspel?”

“Lalu hubungannya apa dengan kesaksianku?” tanya Petugas Cleaning Service itu mulai frustasi, “Mengapa aku dituduh sebagai tersangka!?”

“Lilin,” lanjut Seiji mengambil lilin yang biasa digunakan buat berdo’a orang Kristen dari dalam ruangan kaspel, “Lilin-lilin ini sudah mengatakan padaku bahwa anda telah berbohong.”

“Lilin? Bagaimana bisa lilin mengatakan padamu bahwa aku pelakunya?!” seru Petugas Cleaning Service kesal.

Seiji merengut, “Lilin-lilin tak mengatakan anda pelakunya, mereka hanya mengatakan anda berbohong. Anda sendiri yang mengatakan anda pelakunya dengan kebohongan itu.”
“Cepat katakan saja kebohongan yang kau maksud!” ujar saksi yang lain, “Kami ada urusan lain, jadi cepat kau katakan saja dan tangkap dia!”

“Sabar nyonya,” balas Seiji. Ia lalu mengangkat lilin itu kehadapan seluruh saksi, “Lihat, lilin ini masih panjang, dan dari waktu hitung lelehnya lilin ini baru dipasang kemarin sore, tepat saat pembunuhan terjadi. Jika kalian tak percaya aku bisa mengeceknya di lab. Kalian bisa melihat lelehannya....”

Seiji memutar lilin itu ke arah timur, “Tadi lilin ini menghadap kesini. Lelehannya menunjukkan bahwa ada angin berhembus masuk ke dalam kaspel dalam waktu yang cukup lama. Lelehannya jatuh ke sebelah selatan, berarti api menjilat lilin sebelah selatan karena ada angin yang bertiup dari arah utara. Jika dilihat dari lelehannya, dan suhu lelehannya mengeras, aku sudah memeriksanya, lelehan ini jatuh saat kejadian perkara. Jika ada angin yang menghembus masuk ke kaspel mini yang kedap suara, berarti itu pasti datang dari serambi sebelah utara ruangan kaspel mini. Dan itu juga membuktikan kalau pintu tak tertutup saat Kejadian Perkara. Jika pintu tak tertutup, berarti siapapun bisa mendengar suara jeritan Senator Cliff dari dalam apartment, dan tak mungkin ada orang yang masuk bisa tak melihat pergulatan tersebut...”

Petugas Cleaning Service mulai terlihat tersudut, “Aku memang tak melihatnya dan tak mendengar apapun. Aku tak memang tak mendekati kaspel dan tak melihat apapun disana, karenanya aku tak melihat korban terbunuh.”

“Jadi anda membuat alasan palsu lain?” sindir Seiji tajam, “Untuk seorang Cleaning Service anda tak mungkin tak mendekati kaspel mini atau sekedar melewatinya, karena anda tahu sendiri kaspel dekat dengan serambi yang terbuat dari kaca. Seorang Cleaning Service diwajibkan membersihkan semua kaca jendela ataupun pintu di apartment ini. Belum lagi di daerah sekitar sini tak terdapat debu, berarti daerah sekitar sini sudah sering dibersihkan. Jika anda sengaja tak membersihkan daerah sekitar kaspel ini pada kejadian perkara, sehingga anda tak mendengar sesuatupun atau melihat apapun, anda pasti punya ‘alasan khusus’. Katakan alasan apa itu?”

“Itu untuk membuat alibi,” ujar petugas Cleaning Service sambil menundukkan wajahnya akhirnya mengaku, “Agar tak ada yang tahu aku membunuhnya di hadapan Jesus. Aku tak ingin orang seperti dia mencalonkan diri menjadi presiden. Tak ada yang menyuruhku, aku melakukannya atas dasar keinginan sendiri, bukan atas suruhan orang berkuasa manapun. Dia orang terkutuk! Minggu lalu saat aku membersihkan ruang tamu tanpa sengaja aku mendengar perbincangannya di telepon dengan seseorang. Dia menelepon seorang bos Mafia dan mengatakan jika dia terpilih maka dia akan menutupi penyelundupan sejumlah besar obat-obatan terlarang ke negara kita!”

Semua orang terkejut.

Petugas Cleaning Service itu lalu memegang kepalanya sendiri sambil menangis, “Dia manusia brengsek! Dia mau memasukkan barang-barang haram yang telah membunuh putraku ke negara ini. Ia mau membunuh lebih banyak orang lagi! Aku tak bisa membiarkannya. Aku tak mau ada pria yang kehilangannya anaknya lagi gara-gara benda haram itu. Makanya aku membunuhnya. Aku sengaja membunuhnya di kaspelnya sendiri yang tak pernah ia pakai, agar ia bisa membuat pengakuan dosa lebih dulu. Lilin-lilin itu, aku sendiri yang memasangnya, supaya ia bisa berdo’a.... supaya aku juga bisa berdo’a memohon ampun atas perbuatan terkutuk yang baru saja aku lakukan....”

Seiji menghela nafas berat. Kasus ini selesai tepat sebelum pers menerobos masuk dan menuduh kandidat lain yang berada dibalik kasus pembunuhan Senator Cliff. Ia lalu menengok ke arah jam dinding dan melotot kaget.

“JAM 2!!!!” serunya.

Semua orang ikut kaget.

“Ada apa, Sir?” tanya salah seorang anak buahnya.

Seiji menatapnya dengan pucat, “Aku sendiri belum shalat! Aish...”

“Shalat?” tanya petugas cleaning service yang kini tangannya telah terborgol.
Seiji tersenyum ramah, “Ya. Shalat, buatku berdo’a harus dilakukan setiap saat setiap waktu. Sehingga diri kita selalu terjaga dari perbuatan buruk.”

₯₯₯

Bel berbunyi, dan Dylan langsung terbangun dari tidurnya. Ia mendapati tubuhnya pegal semua karena tidur di kelas. Ia teringat akan ke bangsal perawatan untuk memeriksa keadaan Lyla.

Namun saat ia akan berdiri tiba-tiba ada seorang cewek menghalangi jalannya.

“Minggir,” ujar Dylan dingin tanpa melihat sedikitpun ke arah cewek itu.

Cewek itu sedikit cemberut dicueki oleh Dylan sedemikian rupa, tapi ia berusaha terus tersenyum manis, “Hai, namaku Nicole.”

Dylan menatap cewek didepannya dengan aneh, apa maunya cewek ini? Benar-benar membuang waktu.

“Aku ketua kelas ini,” kata Nicole tak beranjak sedikitpun, “Kau bisa kuantar keliling sekolah ini.”

“Tak perlu,” jawab Dylan ketus lalu melewati Nicole begitu saja.

Tapi Nicole tampaknya tak menyerah, ia lagi-lagi menghalangi jalan Dylan.

Sebenarnya kalau Dylan mau memperhatikan, Nicole adalah gadis yang amat cantik. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut pirang lurus selengan. Cowok normal manapun pasti akan hanyut dalam rayuannya. Sayangnya Dylan bukan cowok normal.
“Bagaimana kalau kau pindah tempat duduk ke sampingku saja?” tawar Nicole, “Tempat duduk di depan hanya untuk para pecundang.”

“Jadi kau menyebutku pecundang?” Dylan balas menyerang Nicole dengan dingin. Nicole sempat bergidik sesaat.

“Tidak. Aku hanya memberimu kesempatan untuk memilih, kau mau duduk denganku, atau duduk disamping pecundang payah itu...”

Dylan langsung menangkap maksud Nicole. Ia yang Ketua Biro Investigasi terlatih mengartikan makna dalam setiap perkataan, dan ia langsung mengerti ‘pecundang payah’ yang dimaksud Nicole pasti Lyla. Dylan duduk di pinggir. Kursi kosong di kelas cuma satu yaitu di disampingnya. Dan satu-satunya murid yang tak masuk kelas cuma Lyla.

“Yah... tapi terserah kamu saja!” ujar Nicole pura-pura hendak meninggalkan Lyla, “Toh si Pecundang Keras Kepala itu juga takkan bisa datang kesini lagi kok...”

Dylan langsung menahan Nicole dengan memegang lengannya.

Nicole tersenyum menang saat Dylan memegang pergelangannya erat, “Jadi kau sudah berubah pikiran...”

“Dimana Lyla?” tanya Dylan tanpa basa-basi lagi.

Nicole terkejut dan menyadari genggaman Dylan semakin keras dan mulai terasa menyakitkan, “Ba... bagaimana kau bisa..”

“Katakan saja dimana Lyla?! Mengapa kau bilang dia takkan bisa ke sini lagi?!” perintah Dylan semakin mengeraskan cengkramannya.

“Aa..a... lepaskan aku! Ini sakit tau! Aaaw!” teriak Nicole berusaha melepaskan diri. Ia tak berani menatap Dylan karena Dylan sudah menatapnya dengan tajam.
“DIMANA LYLA?!” bentak Dylan marah pada Nicole.

Kini seisi kelas mendapat tontonan baru. Putri mereka, Nicole, gadis terpopuler dan paling berkuasa di sekolah sedang di bentak oleh murid baru.

“Aaa..a! LEPASKAN!” balas Nicole, “Aku tak tahu! AAW!”

“JANGAN BOHONG! CEPAT KATAKAN SEKARANG ATAU KAU AKAN MENYESAL!”

“AKU TIDAK TAHU!” Nicole masih berusaha berbohong.

Dylan menatap Nicole dingin dan tajam menusuk, “Jangan mempermainkan aku atau kubuat tanganmu yang putih mulus ini patah!”

Nicole melihat Dylan dengan wajah pucat. Ia beralih ke teman-teman cowoknya yang masih mematung di ruangan, “Kenapa kalian diam saja! Cepat bantu aku!”

Saat cowok-cowok itu hendak membantu Nicole, Dylan balas menatap mereka.

“Dengar! Jika kalian berkomplot dengan perempuan ini untuk mencelakai Lyla, aku benar-benar bisa menuntut kalian!” serunya, “Aku sungguh-sungguh!”

Mereka pun kembali mematung lagi. Mereka tahu pasti Nicole telah mengerjai Lyla dengan sangat parah makanya jika sampai mereka membantunya, mereka pasti bisa ikut kena masalah.

“Lebih baik katakan dimana Lyla sekarang!” kecam Dylan pada Nicole semakin mengeraskan cengkeramannya sampai-sampai Nicole merasa tangannya benar-benar akan remuk.

“AARGH!!! LEPASKAN TANGANKU!”

BRUG!

Tiba-tiba ada yang mendorong Dylan ke belakang dengan keras. Cengkeramannya pun terlepas.

“Jangan kasar sama cewek!” seru cowok yang tadi mendorongnya.

“Nick!” seru Nicole saat melihat cowok yang menyelamatkannya dan langsung menyembunyikan diri di belakang cowok itu.

Dylan menatap Nick dengan marah yang semakin membara, “Aku tak peduli siapa kau, tapi jangan halangi aku!”

“Aku juga tak peduli siapa kau, tapi sampai kapanpun kau tak boleh mengkasari murid-murid disini, termasuk Nicole, karena dia adikku!”

Dylan menatap Nick benar-benar murka. Nick sampai bergidik melihat tatapan Dylan, seolah Dylan akan melahapnya hidup-hidup.

“Kalau dia adikmu, suruh dia bicara! Tanyakan padanya dimana Lyla!”

Nick menoleh pada Nicole dengan tatapan malas, “Nicole, apa lagi yang sudah kau lakukan pada Lyla?”

Nicole semakin tersudut, “Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Nick! Apa kau tak percaya padaku?”

“Nicole, kumohon jangan main-main...” pinta Nick, “Sudah kukatakan tolong jangan ganggu Lyla!”

“Kenapa kau menuduhku?!” teriak Nicole histeris, ia mulai terpojok, “Aku tak melakukan apa-apa pada dia!”

“Ingat!” Dylan menekan suaranya, “Aku bisa menuntutmu! Jika terjadi apa-apa pada Lyla, aku bisa membuatmu membayarnya lewat hukum. Bahkan jika kau hanya menyentuh sehelai rambutnya kupastikan kau akan menyesal!”

Nicole pucat.

Seorang cewek yang duduk di ujung hendak buka suara, “Sebenarnya Lyla ada di...”
“DIAM KAU GABY!” bentak Nicole hendak membungkam mulut temannya.

Gaby, cewek itu, langsung tutup mulut.

“Nicole...” desah Nick lelah.

Dylan heran, bisa-bisanya satu kelas takut pada seorang remaja perempuan yang masih ABG. Ia sadar Nicole tipe cewek yang bisa melakukan apapun yang di luar batas kewajaran, ia berusaha mendesak Nicole lagi, “Kau tahu dimana Nicole. Kau tahu namun kau menyembunyikannya, berarti kau melakukan sesuatu padanya. Jangan sampai aku menemukannya sendiri, karena tak lama kemudian aku akan membawamu ke kantor polisi....”

Dylan lalu memandangi Gaby.

“Beserta komplotanmu!”

“Kau bercanda?” tanya Nick.

Dylan memandangi Nick dalam, “Kau lihat aku sedang bercanda sekarang?”

“Tidak! Kau takkan menemukannya!” seru Nicole, “Aku takkan mengatakan apapun dan kau takkan pernah menemukannya.”

“Kau berniat membunuhnya?!” Dylan balas membentak, “Kau sudah melakukan pelanggaran hukum! Jangan pikir karena kau dibawah umur kau akan mendapat keringanan! Aku akan memastikan bahwa kau akan mendapat hukuman yang berat!”

“Tunggu!”

Semua menoleh ke arah sumber suara. Seorang murid bertubuh kecil, dengan kacamata minus tebal, rambut merah kriting dan kulit berbintik.

“Se...sepertinya a..aku tahu dimana Ly...lyla...” ujarnya pelan.

Nick menghampiri murid tersebut, “Kau tahu dimana Lyla, Larry?”

Larry mengangguk pelan sekali. Tubuhnya gemetaran hebat, “A...aku melihat ni... Nicole dan teman-te...temannya mendorong Lyla ke sebuah ruangan di gedung sebelah... ti... tiga hari yang lalu...”

“Tiga hari lalu?!” seru Dylan kaget. Ia menatap Nicole penuh amarah, kemudian memalingkan mukanya, “Siaaaaal!”

Ia lalu menarik Larry bangun dari kursinya sampai hampir saja Larry terjungkal.

“Antarkan aku cepat!”

“Tunggu!” tahan Nick.

Dylan menatap Nick kesal, “Apa lagi?!”

“Aku ikut,” ujar Nick, “Aku Ketua Murid, aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada semua murid-murid disini...”

“Terserah kau saja,” ucap Dylan ketus dan langsung pergi meninggalkan kelas dengan Larry yang terseret-seret mengikuti dari belakang, juga Nick yang menyusul sambil menggumamkan sesuatu.

“Apalagi jika itu berurusan dengan Lyla...”

Di kelas Nicole mengepalkan erat menatap kepergian Dylan, Larry, dan Nick. Awas kau Lyla! Gemuruhnya dalam hati, aku selalu mendapatkan apa yang kumau!

Tidak ada komentar: