An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 10 Mei 2010

Convinient High School chapter 2

Sesosok gadis cilik terlihat kebingungan dengan keadaan sekitarnya. Asap mengepul, menyelimuti keseliling. Ia ketakutan karena tiba-tiba rumahnya dilalap api, sementara ia ada di tengah-tengahnya. Tanpa ia sadari di atasnya kusen atap yang rapuh karena terbakar sebentar lagi akan menimpanya.

BRAK!!!

Gadis cillik itu terlempar. Ada yang mendorongnya hingga jatuh. Itu kakaknya yang telah menyelamatkannya dari jatuhnya kusen.

“Kau tak apa-apa?” tanya kakaknya. Ia memeriksa seluruh tubuh adiknya khawatir, “Tak ada yang terluka kan, Lyla?”

Gadis cilik yang dipanggil Lyla itu lalu menunjukkan punggung tangannya dengan mata berkaca-kaca, “Tanganku perih kak. Tadi terkena api di kamar...”

Kakaknya meniup tangannya yang terluka dengan lembut, setelah itu mengusap air mata yang mulai mengalir ke pipi adik satu-satunya, “Ssst... jangan menangis... ada kakak disini... kakak akan melindungimu...”

“Kevin! Lyla!” seru seseorang dari balik kobaran api. Orang itu nekat menerobos demi menemui kedua kakak beradik yang terjebak di tengah-tengah ruangan.

“Ibu!” seru Lyla hendak menyusul orang yang berlari ke arahnya. Namun buru-buru ditahan Kevin, kakaknya.

Ibu mereka berdua datang dengan membawa dua ember air. Ia lalu melepas mantelnya ketika sudah berada di dekat Kevin dan Lyla.

“Pakai ini!” suruhnya. Ia memakaikan mantelnya ke Kevin.

“Bu...” Kevin tampaknya tahu apa yang akan dilakukan ibunya, “Bu... aku tak bisa. Tak mungkin, aku tak bisa pergi dari sini tanpa ibu. Aku juga akan melindungi ibu.”

“Pakai sajalah dan peluk adikmu!” suruh ibunya lagi, kali ini lebih tegas.

“Tidak... bagaimana bisa. Aku tak mau! Ibu saja yang pakai mantel ini bersama Lyla dan pergi dari sini!” seru Kevin berusaha melepaskan mantel yang dipakaikan ibunya, “Aku akan ke ruang tamu. Menolong ayah...”

“Jangan membantah!” bentak ibunya, “Kau harus pergi bersama Lyla, keluar dari tempat ini! Cari tempat aman dan tunggu kami! Kau mengerti?”

Kevin terdiam. Tangannya mengepal erat.

“KAU MENGERTI?!”

Kevin buru-buru mengangguk. Ia menunduk dalam-dalam. Hatinya berkecamuk, bagaimana bisa ia sebagai lelaki yang sudah cukup dewasa namun tak mampu melindungi ibunya sendiri. Kodratnya sebagai lelaki ingin melawan, namun ia sadar naluri seorang Ibu untuk melindungi anaknya lebih besar.

“Kakak, Ibu jangan berantem...” pinta Lyla yang mendengar nada tinggi dari kedua orang yang disayanginya, gadis kecil itu juga cukup tersentak melihat kakaknya yang keras hatinya menangis! “Kakak... kakak jangan nangis. Ibu gak maksud jahat kok ama kakak... Kakak jangan nangis.”

Kakaknya tak mengucapkan apa-apa. Ia malah jongkok dan langsung memeluk Lyla erat dan membenamkannya dalam mantel yang ia pakai.

BYUR!

Ibu mereka telah mengguyur Kevin dan Lyla dengan kedua ember air itu tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Baginya keselamatan kedua anaknya adalah hal paling utama. Dan mantel basah itu akan membuat anaknya selamat dari kobaran api.

“Sekarang pergilah,” pinta ibunya, “Jangan lewat pintu belakang, karena tempat itu sudah habis. Kamu harus lewat pintu utama. Saat melewati ruang tamu, jangan berhenti. Terus saja.”

“Ibu...” desah Kevin lirih terlihat enggan beranjak pergi. Ia sudah meletakkan Lyla dalam gendongannya.

“Pergilah sebelum mantel itu kering!” seru ibunya, “Dan kau harus jaga Lyla! Kau harus janji itu pada ibu! Sekarang cepat pergi!”

Kevin mendekap erat Lyla kemudian berlari meninggalkan
tempat ibunya yang berdiri dalam diam. Terus berlari dan berlari hingga sampai di ruang tamu.

Ia ingat ia tak boleh berhenti berlari tapi dirinya terpaku melihat seseorang menodongkan pistol ke arah ayahnya.

“Ayah!” seru Lyla yang melihat ayahnya.

Ayahnya dan kedua pria termasuk yang menodongkan pistol sontak menengok ke arah Kevin dan Lyla yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Kevin, Lyla! Apa yang kalian lakukan disini!? Cepat pergi!” seru ayahnya panik.

“Oh... jadi kalian anaknya Albert ya?” ujar pria penodong pistol itu sambil menyeringai, pistolnya perlahan mulai di arahkan ke Kevin, “Baguslah... aku memang menginginkan Albert merasakan lebih dulu bagaimana pedihnya kehilangan orang yang dicintai.”

“Tidak... kumohon jangan, bunuh saja aku Will! Jangan mereka!” pinta ayahnya Kevin dan Lyla memelas. Ia kembali menoleh ke Kevin, “Kau! Cepat pergi!”

Kevin tersadar dan ingin buru-buru berlari. Namun kakinya terasa membeku melihat pistol yang ditodongkan ke arah mereka.

“Will, hentikan!” seru salah seorang pria lagi di ruangan itu, “Perjanjian kita hanya membalas dendam pada Albert! Jangan menghilangkan nyawa orang yang bersalah!”

“Tidak... ini tidak adil... kau sudah membunuh satu-satunya orang yang kucintai seumur hidupku, Albert. Dengan begitu kau juga sudah membunuhku,” ujar pria penodong yang sudah menarik platuk pistol.

Kevin terdiam. Ia benar-benar mematung tak mampu bergerak. Ia memejamkan matanya.

DOR!

Kevin terkejut mendapati dirinya tak apa-apa. Ia melihat Lyla yang juga baik-baik saja dan menyadari bahwa bukan dirinya yang terkena tembakan itu. Tapi ayahnya.

“Ayah!” serunya, ia ingin menghampiri ayahnya yang sudah menjadi tameng dirinya.

“Aaarggh! Sial!!!” teriak pria penodong pistol kecewa berat, “Albert bodoh! Padahal aku ingin kau menyaksikan kematian orang yang kau cintai dulu!!!”

Kevin menatap pria penodong dengan marah, “Kau sudah membunuh ayahku!”

“Memang benar anak setan! Aku sudah mengirimnya ke neraka, dan sebentar lagi kau dan adikmu akan menyusul...” balas pria penodong pistol kembali mengarahkan lubang pistolnya ke arah Kevin.

“Will hentikan!” seru pria satunya lagi. Kali ini giliran dia yang menjadi tameng untuk Kevin, “Jangan membunuh mereka. Ini tak ada dalam perjanjian!”

“Minggir J! Kau menghalangiku!” bentak Will, si pria penodong pistol, “Kau tahu aku takkan segan-segan membunuhmu. Kau tak ada gunanya lagi buatku!”

Si pria yang menjadi pelindung Kevin dan Lyla tak bergeming. Ia berbisik pelan ke Kevin, “Dasar bodoh! Pergilah! Kau mau pengorbanan ayahmu untukmu sia-sia? Pergilah cepat!”

“MINGGIR J!” bentak Will.

Kevin menggunakan kesempatan itu untuk lari. Ia berlari sekencang-kencangnya, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

DOR!

Lagi-lagi terdengar bunyi tembakan. Namun Kevin tak mau melihat, sedangkan Lyla melihatnya. Dari balik bahu Kevin Lyla melihat pria yang tadi melindungi dirinya dan kakaknya sudah roboh. Dan kini pistol si pria penodong kembali mengarah tepat ke punggung Kevin!

₯₯₯

Tak lama setelah tiba di kamar, tempat pertama yang dituju Dylan adalah komputernya. Dia langsung menyalakan komputer yang dia taruh dalam keadaan standby dan langsung muncul kotak password. Tangannya langsung bergerak memasukkan password yang panjangnya 30 karakter!

Komputernya memang dipasang proteksi berlapis dikhawatirkan tangan jail Lyla atau Mom iseng mengotak-atik komputernya dan mengacaukan susunan data virus yang sedang dia kerjakan. Karena pekerjaan sampingannya adalah sebagai Hacker dan pencipta Virus Komputer. Namun kebanyakan virus yang dibuat bukan buat menginfeksi jaringan, melainkan sebagai koleksi pribadi.

Lalu pekerjaan utamanya adalah...

Dylan membuka inbox e-mail. Langsung muncul lagi kotak password. Namun kotak password ini berbeda, jika dalam 10 detik tidak dimasukkan password yang benar, seluruh isi e-mailnya akan terbakar. Dan kalau dia salah memasukkan password, akan ada alarm tak terlihat di kamarnya yang langsung terhubung ke Department tempat dia bekerja sekarang, dan tak lama kemudian satu unit SWAT akan datang ke kamarnya sekarang. Tapi itu tak pernah terjadi.

Memang kelihatannya sangat rumit, tapi Dylan sendiri yang memasangnya. Karena ia tak ingin ada yang tahu isi e-mail ‘top secret’ nya. Karena ia tak ingin Mom yang phobia polisi tahu kalau sebenarnya dia adalah anggota FBI.

Dylan sudah menjabat menjadi anggota FBI sejak lama, dan sejak dua tahun yang lalu dia mendapat kepercayaan menjabat sebagai Ketua Biro Investigasi merangkap Ketua Biro Cyber Crime. Itu semua berkat kejeniusannya yang diturunkan dari Ayahnya, Johnny McMillan.


Saat inbox e-mail berhasil dia buka, ia tersentak melihat banyaknya e-mail yang masuk. Ia lalu membuka e-mail yang paling pertama datang:
Sir, senator Amerika Serikat, Senator Greg Cliff terbunuh sore ini sekitar jam 05.00 petang. Presiden meminta kasus ini dibereskan sebelum tercium wartawan karena Senator Greg merupakan salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat pada Pemilu lusa di Amerika. Dikhawatirkan dugaan pembunuhan mengarah ke Presiden. Kami berusaha semampunya menahan wartawan, tapi kami butuh secepatnya kedatangan anda disini!
Derek Gibson
Wakil Ketua I Biro Penyelidikan


Dylan mendesah. Apa sih kerja mereka selama ini?! Rutuknya kesal dalam hati. Pasti anak buahnya sekarang sangat panik. Tanpa perlu dibaca lagi, semua e-mail baru di inboxnya pasti dari Derek semua. Siaal! Ini semua gara-gara Mom, harusnya aku sudah membaca e-mail ini dari tadi.

Dia melirik ke arah jam dinding. Jam 08.00 malam. Tak mungkin mereka sanggup melokalisir TKP dalam 2 jam kedepan, sementara ke Amerika butuh waktu 3 jam paling cepat. Hal yang paling mungkin naik jet, hanya memakan waktu 1 jam. Tapi, Mom pasti takkan mengijinkanku menggunakan jet pribadi miliknya lagi! Aarrgghh... kenapa mesti sekarang sih kasus ini tiba!!!

Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Dylan buru-buru menyembunyikan tampilan e-mail nya dan menggantinya dengan susunan data virus.

“Masuk...” ujar Dylan ketika ia merasa sudah aman, “Aku tak mengunci pintu.”

Pintu terbuka dan yang pertama terlihat adalah kepalanya Mom yang menyembul masuk lebih dulu memastikan anaknya sedang tidak ngambek berat. Setelah dipastikan tak ada sesuatu yang pecah di kamar Dylan, Mom masuk.

“Dylan, Mom bawa Spaghetti Minestrone kesukaanmu...” kata Mom sambil duduk di kasur Dylan.

“Taruh itu di meja Mom, nanti mengotori spray ku!” sahut Dylan yang tak mengalihkan pandangannya dari komputer.

“Iya... iya, Mom membawakan ini untukmu lho!” balas Mom meletakkan piring spaghetti ke meja kecil di samping kasur Dylan, ia memandang anaknya, “Dylan...”

“Hmm...?” tanya Dylan pura-pura sibuk.

“Bagaimana? Kau setuju berangkat ke Carlisle?”

Soal itu aku bahkan belum sempat memikirkannya! Gumam Dylan dalam hati. Ia langsung berpikir, apa Mom akan mengizinkanku menggunakan jet ya? “Mom...”

“Ya sayang?” sahut Mom kelihatan ceria. Ia berharap mendapatkan jawaban bagus dari anaknya.

“Apa Dylan boleh pinjam jet untuk satu malam ini saja?”

Raut muka Mom berubah, “Jet? Buat apa?”

“Dylan ada keperluan yang sangat mendesak di Washington...”

“Washington?” tanya Mom kelihatan tidak senang, “Baru minggu lalu kamu pulang dari China Dylan, dengan alasan yang sama. Sekarang mau pergi lagi.”

Itu kan waktu kasus penyelundupan manusia... tentu saja sangat mendesak juga, pikir Dylan.

“Mom takkan mengizinkannya!” seru Mom, “Kau pasti ingin kabur kan?!”

“Tidak Mom...” Dylan mendesah.

“Waktu kau pergi ke Paris bulan lalu, kau bilang hanya 3 hari! Tapi ternyata 3 Minggu lebih kau disana. Mom takkan percaya lagi denganmu...”

Kasus ancaman bom Eiffel, Dylan masih mengingatnya dengan tajam, Tentu saja! Mom tidak tahu betapa susahnya menemukan bom itu! Ternyata bom ditanam dibawah menara Eiffel, dan butuh waktu lama buat mendapat izin menggali, belum waktu menggalinya... ffiuh...

“Jadi kamu tak boleh kemana-mana!” perintah Mom, “Mom sudah menghubungi Kepala Sekolahnya Lyla, kamu akan berangkat ke sana besok lusa!”

Dylan membelalak kaget, “Besok lusa?!”

Mom tersenyum menang, “Iya! Kalau Mom tunda-tunda lagi kau pasti punya banyak alasan buat menghindar! Tidak! Besok lusa kamu berangkat! Hari ini, kamu mesti di rumah!”

“Ta...tapi...”

“Sudah ya! Kamu harus tidur yang cepat my dear, besok kamu harus mulai siap-siap...” ujar Mom bangkit dari kasur.

Dylan melongo. Cepat-cepat ia muter otak... Hff.. apa boleh buat, “Mom!”

“Apa?” tanya Mom yang sudah tiba di pintu.

“Dylan setuju pergi besok lusa, tapi Dylan boleh pinjam jet nya?”

“Kan Mom sudah bilang Mom takkan meng..”

“Bukan buat Dylan,” potong Dylan cepat-cepat, “Urusan Dylan kali ini sangat mendesak jadi Dylan akan kirim orang buat menggantikan Dylan disana. Dylan minta izin terbang Mom buat teman Dylan.”

Mom terlihat berpikir.

“Orangnya bisa dipercaya kok! Lagipula dia gak bisa nerbangin pesawat, jadi Mom tenang saja, dia gak bakal mencuri pesawat Mom,” tambah Dylan lagi buat meyakinkan.

“Ya sudah... terserah kamu saja! Yang pentig Mom lihat kamu gak keluar rumah selama dua hari ini.”

“Ya, ya,” balas Dylan kesal. Ah... anggota FBI yang payah sekali aku ini... pikir Dylan hati, bahkan aku masih nurut diperintah sama ibu sendiri.

Ketika Mom hendak keluar, ia mendengar Dylan menggumam.

“Apa sih hutang kita ke dia, sampai-sampai aku harus berkorban banyak begini! Merepotkan..”

Banyak sayang, batin Mom, banyak sekali, “Dylan...”

“Ya...” sahut Dylan enggan.

“Mungkin ini bakal bikin kamu sedikit bersemangat sekolah disana, Convinient High School, tempat Lyla sekolah, adalah tempat ayahmu dulu juga bersekolah...”

Dylan menengok ke arah Mom, “Dad?”

Mom mengangguk ia lalu keluar dan menutup pintu, “Good Night, honey...”

Dad? Renung Dylan, Dad yang selama ini menghilang. Jika aku kesana mungkin aku akan mendapatkan petunjuk lagi tentang keberadaan Dad selama ini...

Tiba-tiba Dylan teringat akan e-mail nya yang terlantar. Buru-buru ia menulis e-mail balasan:


Derek, jangan tempatkan banyak unit disana karena akan tercium oleh pers. Sebaiknya suruh penghuni rumah melakukan kegiatan sebagaimana biasanya supaya tidak ada kecurigaan dari pers. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa datang kesana. Tapi aku akan kirimkan orang yang akan menggantikanku. Selama aku tidak ada, kalian harus menuruti semua yang dikatakannya, seperti kalian menurutiku.
Dylan McMillan



Dylan menghela nafas, dia paling benci menjadi tidak profesional tapi dia terpaksa. Bagaimanapun juga meski dia Ketua Biro Investigasi FBI yang malah sering disuruh melaksanakan tugas biro-biro yang lain, tetap saja dia hanya pemuda 18 tahun yang dibebani amanah terlalu berat. Kadang ingin sekali dia memberitahu Mom tentang pekerjaannya, tapi Mom phobia polisi. Bahkan menghadapi Polisi lalu lintas saja Mom gemetaran, bayangkan kalau dia tahu selama ini dia satu rumah dengan anggota FBI.

Masih ada satu hal lagi yang harus dia kerjakan. Dia tersenyum. Tangannya menulis suatu kombinasi kode dan lalu menekan tombol enter.

“Send...!” desisnya pelan. Dia lalu menghitung pelan dalam hati. Lima... empat... tiga... dua... satu...

Tiba-tiba muncul kotak chat, tertulis:

Seiji : Webcam cepat!!!!!

Dia tersenyum puas. Ia langsung mengaktifkan webcam, dan muncul wajah seorang pemuda jepang di layar komputernya.

“KAU APAKAN KOMPUTERKU!!!” teriak pemuda itu kelihatan marah.

Dylan masih tersenyum, “Hai, Seiji-chan! Aku lihat di jaringan kau sedang online. Mengganggu sedikit tak masalah kan...”

Pemuda jepang yang dipanggil Seiji itu hanya mendengus, “Katakan saja apa maumu, dan cepat kembalikan seluruh file-fileku yang kamu habisi oleh virus.”

“Tenang saja. Seluruh filemu ada padaku, aku sengaja merancang virus pengcopy file, hebat kan?”

“Apanya, virusmu berhasil ditangkap oleh firewall milikku, meski dataku jadi hilang semua,” sergah Seiji.

“Memang belum 100% jadi, aku merancangnya untuk mengcopy data dalam waktu 0.01 micro mili detik, kemudian terkirim langsung ke aku, dan menghilang seperti hantu,” ujar Dylan seperti biasanya berubah menjadi semangat ketika membicarakan tentang virus buatannya.

“Kau ciptakan buat siapa virusmu itu?”

“CIA,” jawab Dylan enteng.

“CIA!?” seru Seiji kaget, “Anak kecil seperti kamu buat apa main-main dengan CIA?! Kau bisa membuat FBI jatuh dalam masalah besar tau! Jangan sia-siakan kepercayaanku padamu!”

“Soalnya aku kesal tau!” balas Dylan, “Kau jangan pura-pura tak tahu kalau CIA sering sekali mengambil alih kerja kita dalam beberapa kasus, dan setiap kali mereka mengerjakan kasusnya seperti selesai padahal sebenarnya buntu ditengah jalan dan menggantung tak jelas. Masyarakat selama ini dibodohi. Pimpinan juga dibodohi.”

“Aku tahu. Tapi kita tak bisa sembarangan bertindak, ada kekuatan besar menaungi mereka. Sampai kita tahu pasti apa itu, dan kita tau resikonya, tahan dulu tindakan kita.”

“Yah... tenang sajalah, lagipula selama setahun ini aku juga tak bisa menyelesaikan virus ghost itu,” ujar Dylan sambil mendesah pelan.

“Kenapa? IQ mu menurun drastis?” tanya Seiji ngasal.

“Bukan!” jawab Dylan kesal, “Ini semua gara-gara Lyla.”

“Lyla tunanganmu? Kenapa dia? Jangan bilang kalau dia anggota CIA!” seru Seiji ngaco.

“Ya bukanlah!” balas Dylan, kemudian berpikir, “Apa mungkin iya, ya? Siapa tahu dia anggota CIA yang dikirim untuk mengacaukan tugasku. Asal-usulnya kan tidak jelas, mungkin dia menggunakan hipnotis khusus agar Mom terpikat dan memungutnya lalu membawanya ke rumah ini.”

“Hey, itu mustahil. Kenapa jadi kau yang berpikiran kacau? Katamu Lyla dipungut orang tuamu sejak 10 tahun yang lalu. Berarti saat itu usianya masih 7 tahun, tak mungkin semuda itu sudah direkrut jadi anggota CIA. Kau ini ternyata bodoh ya?” sahut Seiji.

“Kan aku hanya bilang ‘mungkin’. Aku hanya bikin analisis palsu, soalnya dia membuatku stres berat!”

Seiji geleng-geleng kepala, “Lalu sebenarnya permasalahanmu apa?”

“Apa kau menggantikanku selama setahun. Menjabat kembali?” tanya Dylan tiba-tiba.

“Hei, kau ini!” seru Seiji.

“Ya, Mom minta aku menyusul Lyla ke Convinient High School besok lusa, sementara aku ada kasus mendadak. Kau kan tadi mau membantuku...” jelas Dylan.

“Aku tidak bilang mau membantumu!” sergah Seiji, “Aku cuma tanya permasalahanmu! Jangan mengartikan lain!”

“Sore tadi Senator Amerika Serikat yang akan mengikuti Pemilu terbunuh. Presiden memaksa FBI untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya sebelum ketahuan pers,” Dylan menerangkan tanpa peduli perkataan Seiji, “Bagaimana? Kau tertarik?”

Seiji menggeleng, “Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan istriku. Kau tahu, dia sedang hamil sekarang.”

“Hah? Heo Yi Jae hamil?” Dylan teralihkan, “Berapa bulan?”

“Baru 3 bulan,” cengir Seiji.

“Jadi kau mau membantuku?” Dylan langsung mengembalikan topik.

Seiji menghela nafas, “Kau ini keras kepala sekali! Aku tak mungkin melakukan itu. Aku sudah berjanji pada Yi Jae untuk tak berhubungan lagi dengan Yakuza ataupun FBI. Mengertilah aku sedikit...! Bahkan kalau istriku tahu, Dylan temanku ini ternyata anggota FBI, aku bisa mati!”

“Jadilah lelaki!” ledek Dylan, “Jangan mau diatur sama istrimu itu terus, dan jangan jadi suami takut istri. Bahkan kau mundur dari FBI karena takut pada istrimu, menyedihkan.”

“Bukan takut, tapi sangat mencintai! Aku tak bisa membahayakan dia lagi. Kamu jangan memaksaku. Kembalikan saja file-ku dan tidurlah! Bocah sepertimu tidak pantas tidur larut,” Seiji balas menyindir.

Dylan tidak menyerah, “Kau memaksaku melakukan cara itu ya?”

“Apa?” tanya Seiji khawatir. Pemuda yang dihadapannya biar bagaimanapun punya otoritas melebihi dirinya saat ini.

“Kau pasti lebih tahu dari aku kalau aku punya kuasa,” ujar Dylan, tepat seperti apa yang dikhawatirkan Seiji, “Dalam hitungan detik aku bisa menelepon kantor pusat dan meminta mereka mengirimkan satu unit SWAT ke rumahmu. Dalam beberapa jam, SWAT akan tiba di rumahmu dan menangkapmu atas tuduhan terlibat dengan Yakuza, lagi, dalam kasus tranksasi Narkoba antar benua. Di hadapan istrimu. Aku menamainya ‘Operasi Menyeret Anak ke Sekolah.’”

Seiji pucat pasi. Di belakangnya terdengar salam khas Muslim untuk masuk rumah. Itu pasti istrinya. Dia semakin terjepit dan takkan sempat mengelak.

“Bagaimana? Akan kujalankan ‘Operasi Menyeret Anak ke Sekolah’ tepat saat kau mematikan sambungan,” tambah Dylan kali ini dengan menggunakan Bahasa Jepang untuk memainkan psikologi Seiji.

“Ok! Ok! Ok!” seru Seiji kesal dan buru-buru, ia takut perbincangannya didengar istrinya. Ia menggerutu, “Memang harusnya aku tak mempercayai jabatanku ke anak 15 tahun sepertimu.”

“Aku sudah 18 tahun!”

“Hanya 1 tahun ingat? Jangan lewat. Aku tak mau Yi Jae tahu aku berhubungan lagi dengan FBI.”

“Iya boss, 1 tahun, aku juga berusaha secepatnya menyelesaikan urusanku di sekolah Lyla. Aku takkan mau lama-lama disana.”

“Bye,” ujar Seiji hendak mematikan webcam nya namun teringat sesuatu, “Hey, kembalikan file-fileku juga!”

“Iya tenang saja, Bye.”

Webcam mati, kini wajah Seiji menghilang dari layar dan Dylan sendiri lagi. Ia menghela nafas. Merepotkan! Gerutunya dalam hati, namun mau tak mau ia penasaran juga, Lyla... seperti apa dia sekarang?

Tidak ada komentar: