An Ordinary Girl with a Million Dreams

Senin, 10 Mei 2010

Convinient High School chapter 1

Seorang gadis cilik duduk termangu di padang rumput halaman rumahnya. Ia menatap bulan dan teringat cerita seram yang di dongeng kan kakaknya.

“Jika bulan berubah warna menjadi merah darah berarti di suatu tempat sedang terjadi pembantaian, banyak orang yang meninggal di malam ketika bulan berwarna merah darah...”

“Benarkah? Berapa banyak?”

Sang kakak terlihat berpikir keras, “Mmmm... mungkin 100 orang...”

Gadis kecil itu membelalakkan matanya, “Seratusss?”
“Mungkin juga seribu... pokoknya banyak!”

“Kakak... jangan menceritakan cerita seram pada adekmu!” seru Ibu mereka berdua melihat perubahan warna wajah si gadis cilik.

Sang Kakak hanya tersenyum kecil.

Bayangan masa lalu dalam benak gadis kecil itu sirna, saat ia menatap rumahnya dari kejauhan. Api yang ganas sedang melahap rumahnya dan tak mau berhenti. Dari sana terdengar jeritan kesakitan. Tak hanya satu, banyak. Ia tahu, mungkin itu jeritan Ibunya, Ayahnya, Pamannya, Bibinya, Sepupu-sepupunya, pembantu-pembantunya yang juga tinggal bersama dengannya di rumah besar yang kini sedang diselimuti monster merah. Monster merah panas telah melahap mereka semua, dan tak melepas orang-orang yang ia sayangi itu sampai mereka menjadi abu. Tapi ia tahu tak ada jeritan kakaknya di sana, karena kakaknya sedang ada disampingnya sekarang. Terbaring kaku.

Tak lama terdengar suara sirine meraung-raung dari kejauhan. Gadis kecil itu kembali menatap bulan. Malam ini bulan berwarna merah darah.

₯₯₯

10 tahun kemudian....

Pemuda itu menghabiskan makanannya dengan lahap tanpa mempedulikan tatapan jengkel wanita paruh baya di seberang mejanya. Dia mulai beralih ke dessert.

Di meja terhidang berbagai jenis makanan mewah yang belum tentu bisa dicicipi seorang Ratu sekalipun namun tampaknya si wanita paruh baya itu tak berminat menikmatinya.

“Dylan, tak bisakah kau mendengarkan permintaan mom kali ini saja?” ujar wanita paruh baya itu.

Dylan menggeleng dengan santai.

“Kenapa?”

“Permintaan mom konyol,” ujarnya.

“Konyol? Mom cuma minta...”

“Mom, Foie Gras ini rasanya lezat sekali,” sela Dylan tiba-tiba. Jelas ia tak mau mendengar permintaan apapun yang keluar dari mulut ibunya, “Jangan sia-siakan kerja keras Alfred untuk menyiapkan makanan selezat ini untuk kita.”

Mom merengut. Tahu bahwa takkan segampang itu menaklukan anaknya yang keras kepala.

“Dan dessert Bird’s Nest Cream ini sangat lembut, mom akan menyukainya,” tambah Dylan mengisyaratkan ke dessert yang dia makan.

“Mom ga lapar,” jawab Mom ketus. Enak saja! Pikirnya, kau pikir bisa lolos lagi malam ini?

“Bohong. Mom pasti lapar,” bantah Dylan, “Alfred bilang kalau mom sudah tiga hari tidak menyentuh makanan, dan ini dinner pertama kita setelah seminggu mom sibuk di kantor.”

Mom menatap Alfred, Kepala Pelayan rumahnya yang tersenyum simpul di sudut ruangan, dengan sebal.

“Makanlah...” pinta Dylan.

“Tidak mau!” sergah Mom.

“Kenapa Mom bersikap kekanak-kanakkan seperti itu?” tanya Dylan mulai kesal.
“Kau tahu dengan pasti kenapa!”

Dylan yang sudah selesai dengan dessert-nya, mengusap mulutnya lalu berdiri, “Aku sudah selesai.”

“Dylan!” Mom hampir histeris.

Tapi Dylan hanya menatap Mom dengan dingin, dan beranjak pergi.

Mom tak membiarkan Dylan pergi, ia mengikuti anak semata wayangnya itu, “Apa kau lebih mementingkan ego-mu dibandingkan Mom? Begitu? Kau lebih senang melihat Mom mati kelaparan?”

“Mom takkan sampai seperti itu,” ujar Dylan dingin yang beranjak naik tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Kau benar-benar tak mau mendengarkan permintaan Mom??! Meskipun mungkin ini akan menjadi permintaan terakhir dari Mom....?”

Dylan terdiam di anak tangga.

Seperti mendapat rambu hijau, Mom mendekati anaknya, “Dylan... Mom mohon...”

“STOP IT!” bentak Dylan tiba-tiba. Ia berbalik memandang Mom dengan marah, “Aku mendengarnya! Semuanya, dari 10 tahun yang lalu, semua permintaan-permintaan itu... aku benar-benar muak, Mom! Mom pikir Dylan tidak tahu apa yang Mom pinta kali ini?!”

Mom terpaku. Baru kali ini dia melihat Dylan yang benar-benar marah.

“Mom mau Dylan menyusul dia kan? Mom mau Dylan pergi ke tempat dia berada sekarang? Memangnya dia buat masalah apalagi?”

Mom diam.

Dylan mulai terbakar emosi, “Gadis pungut itu! Apa yang dia mau kali ini? Dia membuat onar di sekolahan dan butuh penyelamat? Atau dia butuh pangeran tampan yang menemaninya ke acara prom nite? Wajar saja! Takkan ada lelaki yang mau berkencan dengan gadis menyebalkan, magnet masalah, keras kepala, dan pembawa sial seperti dia...”

“Jaga mulutmu Dylan McMillan! Lyla bukanlah gadis pembawa sial!” seru Mom.

“Then? Setidaknya dia jelas-jelas membawa sial buatku!”

“Kamu orang yang intelek Dylan, kamu tahu pasti kalau tak ada yang namanya kesialan di muka bumi ini!”

“Untuk yang satu ini aku percaya...” ujar Dylan lagi yang siap-siap mau kembali ke kamarnya.

“Setidaknya Mom juga lakukan ini buat kamu, My Dear...” lanjut Mom yang masih tak mau menyerah.

Dylan mendengus, “Buatku? Dari segi apa? Mom, banyak hal yang sudah Dylan korbankan buat dia. Tak ada satupun yang mendatangkan faedah buatku! Dia sudah merebut semuanya dari Dylan.”

“Mom mau kamu bersekolah agar bisa seperti anak normal lainnya!” jelas Mom, “Mom tidak mau melihat seumur hidupmu kamu hanya menghabiskannya di kamar, dan bergaul dengan orang-orang tak jelas. Mom tak mau kamu hanya terpaku di depan Komputer, dan tertawa sendirian dengan komputer..., Mom sering mendengarnya. Kamu tertawa sendirian, marah, dan ngobrol dengan komputer, Mom benar-benar khawatir.”

Dylan memutar bola matanya tak habis pikir. Ia hanya mengobrol dengan orang lain lewat Web-Cam dan Ibunya sudah menganggapnya sinting.

“...Mom ingin kamu sekolah seperti anak normal...”

“Mom...,” Dylan menatap Mom dalam-dalam, “Mom lupa? Dylan gak sekolah itu Mom yang minta. Sekarang tau-tau Mom ingin Dylan sekolah disaat Dylan sudah menginjak 18 tahun?”

“Semua Ibu ingin melihat anaknya lulus dari Sekolah Negeri...” ujar Mom beralasan.

“Kalau begitu carikan Sekolah Negeri di London. Ada banyak kan? Jadi Dylan tak perlu menyusul Lyla ke Carlisle segala.”

“Tapi kan, kalau sekolah bersama dengan Lyla kamu bisa sekalian menjaganya disana...”

Dylan tersenyum sinis, “Kalau begitu benar kan? Semuanya cuma tentang Lyla. Tentang gadis pungut itu.”

Mom berusaha mencegah Dylan yang sudah membalikkan punggung dan tak tahan lagi ingin ke kamar, “Dylan... dengarkan dulu...”

Dylan pura-pura tak mendengar dan meneruskan langkahnya. Saat ia hampir menuju puncak, terdengar suara jatuh dari belakangnya.

BUG!

Ia menoleh dan mendapati Mom jatuh dari anak tangga dengan posisi yang tak menguntungkan. Buru-buru ia turun lagi dan membantu Mom berdiri, “Kenapa Mom ceroboh begitu sih!?”

“Adu...duh..,” jerit Mom ketika Dylan mengangkat tubuhnya yang jatuh terduduk. Ia memegangi kakinya dan menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca, “Apa kau baru perhatian pada Mom kalau Mom sudah terjatuh seperti ini? Apa Mom perlu terluka dulu seperti inikah?”

“Jangan mendramatisir...” ujar Dylan, “Dari posisi Mom jatuh, Mom tidak kenapa-kenapa. Paling hanya terkilir ringan di pergelangan.”

Seketika raut wajah Mom berubah, dasar tega!

“Mom pasti bisa berdiri sendiri kan?” tanya Dylan melepaskan pegangannya, “Aku masih ada kerjaan di kamar Mom, biar aku panggilkan Alfred untuk mengantar Mom kembali ke kamar...”

“Mom tidak mau!”

Dylan mendesah pelan.

“Kamu benar-benar keterlaluan Dylan, Mom hanya ingin kamu menemani Lyla... paling hanya satu tahun saja, setelah itu kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau! Mom gak akan maksa lagi, asal kamu mau melakukan permintaan Mom kali ini...” ujar Mom sendu, “Dylan... Mom mohon... kamu mau ya menghabiskan satu tahun terakhir menemani Lyla di sekolahnya Mom mohon...”

“Sebenarnya apa sih yang menyebabkan Mom sampai ngotot kayak gini? Sudah 5 tahun berjalan sejak Lyla pergi ke asrama, dan Mom tenang-tenang saja. Apa yang menyebabkan Mom berubah pikiran. Lyla baik-baik aja disana kan, jadi buat apa Dylan menyusul?” selidik Dylan heran.

“Euh... itu..., Mom tidak bisa bilang...”

“Sudahlah,” ujar Dylan capai. Ia beranjak pergi, “Alfred pasti tadi mendengar suara jatuh Mom, jadi sebentar lagi pasti dia akan kemari.”

“Mom bermimpi buruk tentang Lyla!” seru Mom berniat menghentikan Dylan dan berhasil.

“Mimpi?” tanya Dylan, “Mom menyuruh Dylan menghabiskan waktu di kota terpencil di Inggris selama satu tahun hanya karena mimpi?!”

“Dylan... kau tak mengerti!” Mom menghampiri Dylan terlihat tertekan, “Mom mimpi Lyla berada satu ruangan dengan seorang pria... pria itu...”
“Pria apa?”

Kali ini terlihat jelas Mom menyembunyikan sesuatu. Keringat dingin mengalir di lehernya, “Bukan. Bukan siapa-siapa.”

Dylan memandangi ibunya curiga. Tapi dia tak ambil pusing, “Lalu? Kalau begitu bukan sesuatu masalah besar kan?”

“TIDAK!” seru Mom, “Lyla benar-benar dalam bahaya!”

“Mom? Mom dulu pernah menyuruh Alfred dan seluruh maid menaburi sekeliling rumah dengan garam hanya gara-gara Mom mimpi rumah kita kemasukan ular!” Dylan balas berseru tak percaya, “Mimpi Mom memang selalu begitu!”
“Kali ini berbeda Dylan! Mimpi ini benar-benar nyata! Mom khawatir terjadi apa-apa dengan Lyla!”

“Memangnya kapan Mom berhenti mengkhawatirkan Lyla?”

Mom seperti tak rela, bahkan ia hampir menangis, “Dylan... Mom mohon... sekali ini saja! Sekali lagi! Setelah ini Mom tidak akan meminta apapun dari kamu. Setelah ini kamu boleh melakukan apapun sesukamu! Terserah kamu! Mom berjanji!”

Dylan diam. Ia berpikir sebentar. Kemudian ia kembali menatap Mom tajam, “Janji? Karena Dylan tak akan melupakan perbincangan kita saat ini sampai kapanpun...”

Mom mengangguk pasti, “Janji!”

Melihat tak ada keraguan di mata ibunya Dylan melengos pergi sambil berbisik pelan, namun bisa didengar, “Baiklah. Akan Dylan pikirkan dulu.”

₯₯₯

“Sialan! Lepaskan aku! Cepat buka pintunya! Atau aku akan laporkan kalian pada Kepala Sekolah!”

Terdengar suara tawa tiga orang gadis. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah pintu tua namun terlihat cukup kuat untuk mengurung seorang gadis lagi di ruangan di balik pintu itu.

“Coba saja kalau kau bisa!” ujar salah seorang gadis itu, “Takkan ada yang tahu kau disini. Dan juga takkan ada yang mendengar teriakanmu!”

Gadis dibalik pintu masih terus berteriak, “Cepat buka, karena aku takkan memaafkanmu jika aku berhasil keluar nanti!”

“Hiiy... takut...” sahut gadis yang lain, tapi wajahnya terlihat senang.

“Silahkan, aku akan meladenimu. Tapi tampaknya kau akan lebih dulu mati beku! Hahaha!” balas gadis di yang paling tinggi di antara mereka. Dia tertawa puas, dan teman-temannya mengikuti.

Gadis yang terkurung merasa muak mendengar suara tawa mereka, namun ia semakin panik ketika suara tawa itu menjauh.

“HEY! KALIAN JANGAN PERGI! BUKA PINTU INI! JANGAN PERGI!” jeritnya. Ia berusaha mendobrak pintu dengan tubuhnya, namun sia-sia. Yang ada malah rasa ngilu menyerang bahunya yang ia gunakan untuk mendobrak pintu. Ia jatuh duduk bersandar ke pintu, air matanya menetes, “Buka... kumohon buka...”

Ia lalu memperhatikan sekeliling ruangan tempat ia dikurung. Sangat gelap... pikirnya. Apakah ini kamar mandi? Aku mendengar gemericik air. Tapi kenapa disini dingin sekali...?

Tanpa sengaja ia teringat masa lalunya yang hampir ia lupakan, dan sangat ingin ia lupakan. Tidak apa, lebih baik dingin... ujarnya dalam hati. Aku suka dingin, daripada panas. Aku sangat membenci panas. Panas itu membunuh. Dingin ini takkan membunuhku. Aku yakin.

Ia menerawang, Kakak... dimana kau sekarang? Kau bilang akan melindungiku... tempat ini dingin sekali. Aku sungguh ingin berada di pelukanmu... dimana kau...

Penglihatan gadis itu mulai kabur. Rasa dingin mulai melumpuhkannya. Ia pingsan.

Tidak ada komentar: