An Ordinary Girl with a Million Dreams

Rabu, 19 Mei 2010

Conivnient High School chapter 5

Nick dan Lyla baru hendak meninggalkan ruang makan saat tiba-tiba ruang makan itu menjadi sepi. Murid buru-buru keluar dari ruang makan dan berlari ke suatu tempat. Nick langsung menghentikan salah satu murid cowok.

Murid cowok itu tadinya sempat mau marah namun saat ia melihat siapa yang menghentikannya cowok itu mengurungkan niatnya.

“Hei ada apa?” tanya Nick.

“Itu, di koridor gedung sayap kiri ada murid yang terbunuh! Pelakunya juga sudah ketahuan. Itu, murid baru cowok, itu.... siapa ya namanya... Di.. dy.. Dylan! Iya Dylan!”

Nick dan Lyla berpandangan kaget.

“Tidak... tidak mungkin!” ujar Lyla.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku mau lihat tempat kejadiannya,” sahut murid cowok itu langsung pergi.




Dylan duduk menunggu dengan bosan di ruangan kepala sekolah. Ia dijadikan tersangka atas pembunuhan yang terjadi barusan. Ia tak peduli, bahkan tak merasa harus repot panjang lebar menjelaskan pada orang dihadapannya. Justru ia menginginkan hal ini. Orang itu, kepala sekolah, yang sedari tadi hanya diam menyeruput tehnya, sudah memanggil polisi. Ketika polisi menangkapnya, ia pasti dibawa ke kantor pusat untuk di mintai penjelasan. Setelah itu ia akan diberi kesempatan menelepon, dan bukan Mom yang akan ia telepon—bisa-bisa Mom jatuh pingsan kalau disuruh ke kantor polisi—melainkan Seiji. Setelah mendapat jaminan dari Seiji, ia akan menginap di kantornya, atau rumah Seiji, dan pura-pura masih ada di penjara. Mom sampai kapanpun takkan berani datang ke kantor polisi, paling-paling hanya menyiapkan pengacara. Ketika segala tetek bengek urusan hukum sudah selesai disiapkan Mom dan Pengacaranya, ta-da! Ia sudah tiba di rumah dan tinggal mengatakan bahwa ia dikeluarkan dari sekolah. Mom takkan bisa memaksanya lagi. Rencana yang matang yang sudah Dylan siapkan dari tadi ketika ia melihat Mr. Jenkins berlari ketakutan darinya.

Dylan hanya memandangi Kepala Sekolah yang masih menyeruput teh-nya sedikit demi sedikit dan terus menerus menambahkan gula. Menyeruput lagi, menggelengkan kepala tampak kurang puas, dan kembali memasukkan bersendok-sendok gula. Dylan bahkan sampai bertaruh orang dihadapannya ini takkan hidup lama, pasti cepat mati karena diabetes.

Sementara ia tenang-tenang saja, di luar ruangan Kepala Sekolah terjadi keributan. Asisten Kepala Sekolah masuk dan menjelaskan.

“Sir, di luar ada dua orang murid yang memaksa masuk. Mereka mengatakan bahwa mereka yakin bukan Dylan McMillan lah pelakunya...”

Dylan menoleh ke arah si asisten heran. Siapa yang hendak merusak rencana besarku?
“Suruh kedua murid itu masuk,” suruh Kepala Sekolah.

Tak lama kemudian bertambah dua orang lagi di ruangan itu, dan mereka sangat Dylan kenal.

Lyla? Dan Nick? Buat apa mereka kesini?

“Maaf Kepala Sekolah, bukan dia pelakunya,” jelas Lyla. Ia terlihat ngos-ngosan, seperti habis terburu-buru.

Kepala Sekolah itu memandangi Lyla tajam, “Apa buktinya?”

Lyla terdiam sebentar. Ia memandangi Dylan yang membalasnya dengan tatapan mencela kemudian kembali menatap Kepala Sekolah, “Aku sudah mengenalnya sangat lama, Sir. Dia tak mungkin melakukan hal itu...”

Dylan hampir tak percaya dengan jawaban Lyla. Dasar bodoh! Hal itu mana bisa dijadikan bukti.

“Kalau begitu siapa pelakunya?” tanya Kepala Sekolah lagi.

“Pasti orang lain! Yang jelas bukan dia!” tegas Lyla.

Dylan geleng-geleng kepala. Kalau dirinya memang jadi pembunuh, dan membutuhkan saksi, ia takkan pernah mau menunjuk Lyla.

Kepala Sekolah itu memandangi Lyla lama, “Namamu siapa?”

“Lyla William...”

“Baiklah Miss. William, anda tahu apa yang menyebabkan pemuda ini jadi tersangka?”
Lyla membisu. Ia sendiri memang tak tahu kenapa tiba-tiba Dylan dijadikan tersangka.

“McMillan ini ada di TKP, dan sedang berada tepat disamping korban yang berlumuran darah dan perut sobek,” jelas Kepala Sekolah, “Dan dia sepertinya tak lari ketakutan atau terlihat terkejut seperti remaja normal lainnya bahkan menurut keterangan saksi—Mr. Jenkins—ia hendak menyentuh korban tersebut. Apakah itu tidak terdengar aneh?”

Lyla bingung, memang terdengar aneh. Amat sangat aneh. Kalau dirinya yang menemukan mayat tebujur kaku itu, dia pasti sudah gemetaran dan lari ketakutan. Tapi Dylan tidak.

“Tentu saja, Sir,” Nick menimpali. Ia satu-satunya orang di ruangan tersebut yang memahami tindakan Dylan, “Dylan bukan orang yang akan ketakutan karena melihat mayat karena dia...”

Nick hendak melanjutkan ucapannya namun dihentikan oleh pelototan mata Dylan.
“Kenapa Nick?” tanya Kepala Sekolah.

“Karena dia anggota FBI, Sir,” lanjut Nick tanpa memperdulikan tatapan Dylan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.

Untuk beberapa saat ruangan hening. Kepala Sekolah itu kembali menyeruput tehnya menganggu keheningan. Dylan memaki dalam hati.

Hhh... dasar bodoh...

“Nick...” Kepala Sekolah membuka suara, “Aku selalu mempercayaimu karena kau Ketua Murid yang cukup berprestasi. Namun, kau berharap aku mempercayai ceritamu yang satu ini? Bahwa anak remaja SMU yang sedang duduk di hadapanku ini adalah seorang anggota FBI?”

“Tapi, Sir, aku sungguh-sungguh!”

“Nick, jangan hilangkan kepercayaanku padamu. Kau sudah memberikan keterangan palsu untuk menyelamatkan seorang tersangka, kau juga bisa terjerat hukum.”

Nick beralih ke Dylan, “Hei jangan diam saja! Katakan kau buka pembunuhnya! Tunjukkan lencanamu!”

Dylan terus menggerutu dalam hati kesal, aku justru ingin mengatakan bahwa akulah pelakunya agar aku bisa segera pergi dari tempat ini. Namun jika aku melakukannya aku pasti akan kena masalah, dan takkan bisa lolos begitu saja dari Kantor Polisi, meskipun statusku adalah Anggota FBI dengan level yang lumayan tinggi. Dengan malas Dylan mengeluarkan lencananya dari dompet dan menunjukkannya pada Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah itu bahkan tak memandang lencananya lebih dari lima detik kemudian kembali menatap Nick dengan tatapan yang menyebalkan, “Nick, tadinya aku berharap kau takkan mengecewakanku. Tapi rupanya darah kriminal Ibumu sangat kental di tubuhmu sehingga kau membantu pemuda ini memalsukan lencana. Sayang sekali Nick, kau pun tampaknya harus ikut petugas polisi untuk dimintai keterangan. Aku sangat berharap, kau bisa lolos dari jeruji.”

Sepertinya kali ini Nick mulai marah. Tangannya mengepal erat begitu mendengar ibunya disebut. Dylan pun mulai gusar, ia tak suka jika ada orang lain terlibat masalahnya. Sementara Lyla hanya bingung mencerna apa yang terjadi. Dylan anggota FBI?

Asisten Kepala Sekolah masuk dan mengatakan para Polisi sudah tiba. Dan Kepala Sekolah diminta untuk menyambut kedatangan mereka.

Kepala Sekolah itu berdiri dari kursinya dan keluar dengan lagak menjengkelkan. Meninggalkan Dylan, Lyla, Nick di ruangan yang kemudian langsung dikunci setelah ia keluar.

“Katakan padaku kalau kau tak membunuh murid itu!” seru Nick.

“Aku tak membunuhnya,” jawab Dylan singkat.

“Kau bisa membuatku masuk penjara kalau kau ternyata membunuhnya. Kenapa kau tidak melawan heh? Bilang alasan apa, alibi apa...”

“Aku tak memintamu terlibat,” sahut Dylan ketus, “Dan aku juga tak memiliki alibi apapun. Jika aku jadi saksi itu, aku pasti terlihat jelas sebagai tersangka yang sedang ketangkap basah.”

“Jadi kau pembunuhnya?” tanya Lyla takut.

“Sudah kubilang bukan!” balas Dylan kesal.

“Lalu bagaimana denganku? Aku tak mau masuk penjara! Kau kan anggota FBI, kau pasti bisa meyakinkan polisi-polisi itu, dan menjaminku kan?” Nick makin terlihat panik.
“Sayangnya tidak semudah itu. Hanya anggota FBI yang selevel denganku atau di atasku lah yang mengenalku,” jelas Dylan.

Nick menghadap tembok dan membenamkan wajahnya disana sambil memukul-mukul kepalannya, “Sial... sial...”

Semua tenggelam dalam kefrustasian sampai terdengar suara pintu terbuka. Para polisi itu telah tiba.

“Kami sudah menahannya disini, tuan-tuan...” suara Kepala Sekolah itu ketika melangkah masuk ke ruangannya.

Dylan memandangi langit-langit ruangan kesal. Ia tak bisa menjalankan rencananya kalau ada pemuda tanggung yang harus ikut tertangkap bersamanya.

“Hei, Dylan!” tiba-tiba ada suara yang terasa familier di telinga Dylan.
Dylan menoleh. Seorang pemuda asia, jangkung, mengenakan T-Shirt putih ditutupi jaket bertuliskan FBI di belakangnya, datang menghampirinya dengan seringai lebar di wajahnya, “Seiji?”

“Aku tak menyangka kau bisa kena masalah di sekolah barumu...” ujar Seiji akrab langsung menepuk bahu Dylan.

“Sedang apa kau disini?!” bentak Dylan.

“Menyelamatkanmu, apa kau tak lihat?” jawab Seiji masih dengan senyuman lebar.
“Aku sedang melihat kau melalaikan tugasmu!” balas Dylan tajam.

“Tunggu... tunggu....” sela Kepala Sekolah kebingungan. Ia tadi mendatangkan polisi untuk menangkap tersangka, tapi polisi itu malah mengobrol akrab dengan tersangkanya? “Ada apa ini? Kalian saling mengenal?”

Seiji merangkul erat Dylan dan menatap Kepala Sekolah, “Tentu saja! Dia ini atasanku di FBI!”



“Hahahaha....” Nick terus saja tertawa sepanjang jalan koridor dari ruangan Kepala Sekolah. Ia bahkan langsung terpingkal-pingkal saat keluar dari ruangan.

“Hentikan tawamu itu Nick!” perintah Dylan.

“Sorry... sorry..., aku masih tak sanggup menahan tawa saat melihat ekspresi Kepala Sekolah saat dia tau kau benar-benar anggota FBI!” ujarnya sambil memegangi perut karena kebanyakan ketawa.

“Sudahlah, biar saja dia tertawa,” sahut Seiji, “Aku juga lucu waktu melihat tampangmu yang sebal itu.”

“Oh, thanks,” balas Dylan dongkol, “Bagaimana kau bisa kesini, hah? Kau sudah merusak rencanaku tau!”

“Rencana apa?” sergah Seiji, “Aku hanya bosan di kantor, juga malas pulang ke rumah. Yi Jae sedang di rumah orang tuanya, jadi rumah kosong. Lalu karena sepi kasus, aku mengecek line kasusnya polisi dan menemukan kasus di sekolahmu. Namamu juga disebut, pasti bakal menarik, jadi aku ikut saja.”

“Profesional sekali,” sindir Dylan, “Aku pasti sudah keluar dari sekolah ini dan kembali ke kantor kalau kau tak menggagalkannya.”

“Oh! Jadi itu rencananya?!” seru Seiji kaget.

“Ya, dan dengan begini berarti kau masih setahun lagi menjabat di FBI, selamat,” Dylan tak menghilangkan nada sarkatis dalam suaranya.

“Tapi masa kau sampai membunuh orang untuk rencanamu itu,” Seiji masih tak percaya.

“Tentu saja tidak!” bentak Dylan kesal dengan pikiran Seiji, “Itu benar-benar kebetulan tau! Aku hanya jadi saksi pertama, dan kebetulan jadi tersangka.”

“Ow...” Seiji manut-manut, “Tak heran sih dengan wajah kriminalmu itu...”

Dylan rasanya ingin meninju partnernya ini saking sebalnya. Tapi Seiji sudah beralih menatap Lyla yang sedari tadi terdiam dan hanya jalan di belakang mereka.

“Jadi dia ini tunanganmu yang ‘sering’ kamu ceritakan itu, Dylan,” ujar Seiji, “Manis juga.”

Dylan semakin gatal saja ingin meninju Seiji. Bisa-bisanya dia bilang kalau ia sering membicarakan Lyla. Benar-benar menjatuhkan harga diri.

“Annyonghaseyo...” sapa Seiji ke Lyla dengan bahasa korea.

“A... annyong...” balas Lyla gugup. Ia tak pernah bicara dengan anggota FBI seperti Seiji, dan sekarang ia tahu kenyataan bahwa Dylan juga anggota FBI.

“Darahmu korea ya?” tanya Seiji ramah.

Lyla mengangguk.

“Istriku juga orang Korea, tapi dia Korea tulen,” ujar Seiji sambil tersenyum, “Kuharap kau tahan dengan kelakuan Dylan.”

Dylan memelototi Seiji kesal. Sebelum Seiji semakin menggoda Lyla, ia segera menyuruh Lyla kembali ke kamarnya, “Kembalilah ke kamar.”

Lyla mengangguk. Ia dan Nick hendak kembali ke asrama, namun Dylan menghentikan Nick.

“Hei kamu punya tugas,” ujar Dylan.

“Tugas apa? Aku akan mengantarkan Lyla lebih dulu ke kamarnya, setelah itu baru menjalankan tugas darimu. Masa kau tega membiarkan dia berjalan sendirian di koridor sekolah malam-malam sementara ada pembunuh berkeliaran?” jawab Nick.

Aku lebih tak percaya kau! Batin Dylan, “Ya sudah. Setelah itu kau suruh beberapa murid lain yang bisa dipercaya, untuk berkeliling sekolah. Cari orang yang mencurigakan, sebelumnya suruh Mr. Jenkins menutup semua jalan keluar dari sekolah ini. Kau dan Murid lain kuminta mengkondisikan murid-murid untuk berada di asrama tanpa ada satupun yang berjalan di koridor, paham?”

Nick mengangguk paham. Ia dan Lyla kemudian berjalan lebih dulu ke asrama.
“Kau benar-benar mengkhawatirkan kasus ini ya?” tanya Seiji ketika Nick dan Lyla sudah hilang dari pandangan.

“Hmm, sudah terlanjur, jadi kita selesaikan saja kasus ini. Lagipula aku punya firasat buruk.”

“Firasat buruk?”

“Ya, aku seperti merasa sepertinya ini bakal ada kelanjutannya. Seperti kasus ini tak sampai disini saja.”



Di TKP sudah dikerubungi beberapa murid-murid dengan kepala penasaran. Mereka mengerubungi tempat itu seperti semut mengerubungi gula. Berbisik-bisik tentang apa yang terjadi, bahkan sedikit demi sedikit menyebut nama Dylan.

“Kau tahu kan, ternyata anak baru itu sanggup ya melakukan hal keji kayak gini...”
“Anak baru yang mana sih?”

“Itu lho, yang kemarin melabrak Nicole.”

“Ah masa? Wajahnya terlihat manis ah, tidak ada tampang pembunuh...”

“Hey, Mr. Jenkins sendiri yang cerita kalau dia melihat sendiri anak baru itu, siapa ya namanya, Dylan! Iya Dylan yang membunuh Terry.”

“Tapi kok bisa? Aku benar-benar tak sangka.”

“Makanya jangan melihat orang dari tampang luarnya saja. Meski wajahnya tampan begitu ternyata hatinya kejam. Waktu dia melabrak Nicole juga terlihat menyeramkan...”

“Aku melihatnya! Aku juga bergidik saat melihat matanya yang seram saat itu...”
“Tuh benar kan...”

Dylan yang sedari tadi sudah sampai di TKP cuma melipat wajahnya kesal mendengar semua perkataan itu. Seiji menepuk bahunya bermaksud menghibur, tapi takkan berhasil. Dylan langsung menerobos kerumunan.

“Apa-apaan ini?!” serunya, “Kenapa semua berkumpul disini! Cepat kembali ke asrama masing-masing!”

“Hey, terserah kami dong mau disini apa tidak, siapa kau menyuruh-nyuruh kami?!” balas seorang murid cowok. Namun saat dia melihat lagi siapa yang ada dihadapannya dia membelalakkan matanya, “Kau.... kau kan anak baru itu...!”

Dylan mendengus sebal, “Ya, ada masalah? Kau mau kucincang-cincang tubuhnya jadi lima belas bagian?”

Murid itu jelas-jelas tak menjawab. Dylan cuma membuang muka dan menuju ke tengah TKP. Seiji langsung meminta persetujuan Dylan untuk mengklarifikasi status Dylan.
“Terserah,” jawab Dylan dingin.

Seiji mengambil posisi yang paling strategis agar kelihatan semua murid yang mengumpul, lalu mulai angkat bicara dengan suara lantang, “Selamat Malam, saya Seiji Amano dari FBI, mohon perhatiannya.”

Semua kasak-kusuk begitu mendengar FBI disebutkan.

“Pertama-tama, saya ingin mengklarifikasi kasus ini. Kami menemukan bahwa bukan saudara Dylan McMillan-lah pelaku dari insiden ini...”

Bisik-bisik itu terdengar lebih ribut lagi dari sebelumnya.

“Karena itu, kami mohon kerja samanya dari kawan-kawan sekalian. Karena pembunuh sebenarnya masih berkeliaran, dimohon saudara-saudara segera kembali ke asrama masing-masing.”

Semua pun beranjak pergi dari tempat sambil meneruskan perbincangan, dan gosip. Namun sempat ada satu pertanyaan dari murid-murid itu yang tertangkap di telinga Dylan.

“Kalau begitu, buat apa anak baru itu ada di TKP?”

Dylan tak mempedulikan pertanyaan dari orang yang menurutnya tak tahu apa-apa itu. Ia berusaha memfokuskan diri ke kasus. Saat itu ada seorang polisi yang menegurnya saat ia mencoba memeriksa satu persatu barang bukti.

“Tenang saja, kalian jangan mengganggunya. Dia partnerku di kasus ini,” jelas Seiji, “Dia juga punya posisi di FBI. Aku membutuhkannya.”

Polisi itu sepertinya tak percaya, namun Seiji terlihat tampak serius ketika mulai berbicara dengan Dylan mengenai kasus.

“Kau mencari ini ya?” tanya Seiji yang menyodorkan sebuah kantong plastik bukti. Di dalamnya terdapat sebuah gumpalan kertas coklat, “Ini ada di mulut mayat.”

Setelah mengenakan sarung tangan, Dylan merogoh kantung itu untuk mengambil gumpalan kertas, “Kau sudah membacanya?”

Seiji menggeleng, “Belum.”

Dylan lalu membuka gumpalan kertas itu, dia yakin ada sesuatu yang tertulis di situ. Dan memang benar, ada sesuatu yang tertulis disitu. Namun sesuatu yang Dylan tak mengerti.

“Apa ini?”

Seiji melongok ke dalam kertas. Seperti sebuah sandi, namun dibandingkan Dylan, Seiji merasa sedikit mengenalinya, “Kurasa aku tahu itu..., itu tulisan hangul...”

“Hangul?”

“Iya, Hangul. Bahasa korea, bahasa tanah kelahiran istriku. Aku bisa membacanya sedikit..., masa kau tak tahu?”

“Aku tak tahu,” ujar Dylan masam.

Seiji terlihat tak percaya, “Kau tak tahu?! Kau paham berbagai macam bahasa, Arab, Latin, Ibrani, Mandarin, Prancis, Spanish, Japanese, Melayu, bahkan Tagalog... dan kau mengaku masih banyak lagi bahasa yang kau pahami namun kau tak bisa bahasa Korea?! Apa-apaan kau ini?!”

“Soalnya itu juga bahasa Lyla,” Dylan menjelaskan dengan suara pelan. Ia kelihatan malu, “Apapun yang Lyla bisa, meski itu cuma 1%, entah kenapa itu menjadi hal-hal yang tak bisa kukuasai.”

Seiji bingung harus menyahut dengan ucapan apa. Ia tak menyangka ada hal-hal yang tak bisa dikuasai makhluk jenius di hadapannya ini.

“Dari pada mempermasalahkan hal itu lebih baik kau segera terangkan padaku apa ini,” kata Dylan yang berusaha menekan rasa malunya, “Katanya kau mengerti bahasa ini kan? Cepat terangkan padaku!”

Seiji segera beralih ke kertas itu, “Ini tulisannya, Phitee Burowen....”

“Phitee Burowen? Apa artinya itu?”

“Ini nama orang, Dylan. Namun karena ditulis dengan hangul maka namanya dibaca berbeda...”

“Aku mengerti itu! Cepat katakan padaku, nama siapa ini?”

“Kalau bahasa Inggrisnya, ini berarti Peter Brown. Tertulis disini nama Peter Brown.”

Kemudian tiba-tiba terdengar suara berisik dari balik tikungan koridor. Seorang murid rupanya belum kembali ke kamarnya, ia keluar dari persembunyiannya panik.
“BUKAN AKU!” seru cowok itu, “BUKAN AKU PELAKUNYA!”

“Kaukah Peter Brown?” tanya Dylan tajam.

“TAPI BUKAN AKU PELAKUNYA! AKU TAK MEMBUNUHNYA! AKU TAK MEMBUNUH TERRY!”

“Seseorang tangkap dia!” seru seorang polisi. Dylan menyesalkan tindakan polisi itu, karena dengan begitu cowok terduga Peter Brown itu langsung kabur dari tempat, dan menghilang dari balik tikungan dengan panik dan pucat.

“Kejar dia cepat!” perintah Dylan.

Beberapa polisi langsung mengejar cowok itu. Mereka pun menghilang dari balik tikungan koridor.

“Kau pasti satu pikiran denganku,” desis Seiji kepada Dylan.

“Hm, aku memang merasa bukan Pemuda itu pembunuhnya. Wajahnya benar-benar kelihatan panik, namun bukan panik seperti pelaku yang tertangkap basah. Dia bahkan berani menghampiri kita untuk mengatakan bukan dialah pelakunya, seorang pelaku kejahatan takkan ada yang berani melakukan itu,” kata Dylan.

“Dan kertas gumpalan itu, aneh. Tak mungkin ada orang yang mau mati memasukkan kertas isi sandi nama pelaku ke mulutnya. Terlalu riskan dan pasti akan segera ketahuan si pelaku.”

“Ya, itu pasti perbuatan pelakunya sendiri. Tapi kurasa dia cukup pintar untuk tidak menjebak orang lain dengan gumpalan kertas di dalam mulut, tampaknya nama Peter Brown adalah suatu pesan. Pesan buat siapapun yang menemukan mayat itu, itu berarti aku. Aku khawatir nama itu seperti sebuah...”

“Peringatan?” Seiji menebak apa yang ada di pikiran Dylan.

“Ya, seperti sebuah ancaman, seolah-olah... Peter Brown adalah...,” Dylan menunjukkan wajah cemasnya, “Calon korban berikutnya.”



Tidak ada komentar: