An Ordinary Girl with a Million Dreams

Jumat, 28 Mei 2010

About Convinient High School


Maaf ya kalau sebelumnya aku gak langsung posting lanjutan Convinient High School. Postingan kali ini sekedar refreshing dari mengerjakan novel (-novelan) Convinient High School.
Ada beberapa yang bertanya apakah ini cerita dari film, atau cerita buatan sendiri? Maka aku jawab, yap! Ini cerita buatanku sendiri. Sebenarnya aku berharap ini cuma cerita dari film, hingga aku tinggal menuliskan ulang kisahnya dan bahkan bisa menyisipkan gambar dari adegan per adegan namun sayangnya bukan. Ini kisah murni dari pikiranku sendiri, muncul begitu aja di kepala dan gatal ingin menulisnya.
Convinient High School sudah kubuat sejak dua tahun lalu. Dan belum selesai. Ada aja kendalanya. Pertama masih kutulis di sebuah buku (rajin banget ya?) tapi buku itu disita oleh guru gara-gara sampulnya gambar Monokurobo (di sekolahku ada peraturan tidak memiliki aksesoris yang bergambar babi atau anjing). Dan cukup lama disitanya. Karena down, aku jadi tak menulisnya ulang lagi. Karena sewaktu disita, buku itu sudah penuh dengan cerita Convinient High School dan ceritanya belum selesai.
Setelah lama dan aku hampir melupakan kasus penyitaan bukuku, guruku datang ke kelas dengan bukuku itu (oh masih ada!) namun sampulnya udah dirobek. Ia berkata sambil tersenyum,
“Cerita kamu bagus, Din. Kamu ada bakat. Lanjutin ya!”
Aku cuma bisa membalas senyumnya dan menerima buku itu lagi dengan terharu. Dalam hati aku cuma bisa bilang, Maaf bu. Saya tidak pengen lagi melanjutkannya. Udah bete.
Tapi ternyata kata hatiku itu salah. Setahun kemudian ketika aku melihat adikku dengan semangatnya menulis cerita sampai menghabiskan 4 lembar buku SIDU ukuran 58 lembar! Untuk satu ceritanya, dan ceritanya mendapat banyak apresiasi dari teman-temannya, aku jadi panas hati. Pengen rasanya bikin cerita lagi, dan yang terbayang hanya Convinient High School karena sebenarnya cerita Convinient High School itu ada sangkut pautnya dengan cerita yang dibuat adikku. Nanti aku beritahu bagaimana sangkut pautnya.
Dengan semangat aku menulis lagi kisah Convinient High School, tapi kali ini tidak di buku, kapok aku! Aku menulisnya ulang dengan mengetiknya di komputer tua milik orang tua—bayangkan masih ada aja komputer pentium 3 di zaman ini!—dan bagaikan air terjun, aku menulisnya dengan lancar. Ide-ide di kepala mengalir deras seolah tak bisa dibendung oleh tempurung kepalaku. Aku menulisnya cepat. Sehari bisa sampai sepuluh halaman.
Namun yang namanya batu kerikil penghalang kesuksesan, ternyata ukurannya cukup gede dan membuatku shock juga. Saat aku sudah mencapai lebih dari 90 lembar, dan Convinient High School sudah mulai mencapai konfliks yang utama dengan beberapa rahasia terungkap, komputer tua itu rusaaaaaaaaaakkkk!!! Aaaaaarggggghhh......
Sudah berbagai upaya dicoba, namun komputer itu tak lagi mau menyala dan memberikan sedikit aja kemurahan hatinya (mungkin ngambek karena diajak kerja rodi bareng). Hiks... hiks... aku cuma bisa tertunduk terpuruk. Kali ini kegagalan menghampiriku dua kali, dan membuatku benar-benar kehabisan minyak untuk menyalakan lagi api semangat yang sempat membara.
Setahun berjalan lagi. Tahun ini. Aku benar-benar masih menyimpan Convinient High School di hati dan bertekad akan menyelesaikan kisah itu suatu saat. Suatu saat, tapi gak tahu kapan. Apalagi dengan status anak sekolahan yang bakal menghadapi UAN dan segala macam tetek bengeknya.
Di tengah-tengah keinginan hati yang emang masih niat banget pengen nyelesain Convinient High School, ada lagi yang akhirnya memanas-manasi aku untuk menulis Convinient High School. Siapa itu????
Thanks to Kak Putri, Mba Nana, dan Mba Tirza! Aku tanpa sengaja menemukan blog mereka dan melihat betapa banyak yang setia mengikuti perkembangan blog mereka. Pengen sekali seperti mereka, karena darah menulisku sudah kental banget di tubuh. Aku sangat suka jika ada orang yang membaca tulisanku dan memberikan apresiasi walaupun itu cuma sedikit. Kak Put, Mba Nana, dan Mba Tirza mendapatkan itu.
Aku jadi teringat dua tahun lalu saat Convinient High School masih kutulis di buku Monokurobo dan meminta teman-teman sekelasku membacanya. Aku masih ingat betapa dengan serunya mereka membaca ceritaku, mengantri, dan membicarakannya langsung denganku, si penulisnya sendiri. Karena ceritaku belum selesai dan mereka sudah sangat penasaran, mereka membujukku agar menceritakan kelanjutannya dan memberitahu siapa pembunuhnya. Ohoho... no way! Tak boleh ada yang tahu siapa pembunuh asli di Convinient High School kecuali aku dan adikku (karena cuma dia tempat aku bertanya kalau kesulitan menulis, lagipula aku sedikit berutang budi dengan Convinient High School yang memiliki sangkut paut dengan ceritanya).
Tapi aku masih terbayang rasa senang saat berada di tengah-tengah mereka dan ikut membicarakan kisahku sendiri!
Sekarang kita udah pisah-pisah, menuju tempat kuliah masing-masing. Padahal aku sudah janji akan menyelesaikan cerita itu pada mereka. Soalnya udah 2 tahun gak selesai juga. Dan cara yang terpikirkan cuma menulis blog. Dengan begitu mereka juga bisa membaca ceritaku dari tempatnya masing-masing.
Aku juga sangat berterima kasih pada Kak Put, Mba Nana, dan Mba Tirza yang sudah ‘menyiram bensin’ ke tubuhku dan membuatku semangat untuk menulis blog seperti mereka. Really, really thanks to them!
Oh ya, aku akan menceritakan bagaimana sangkut pautnya Convinient High School dengan cerita adikku.
Convinient High School sendiri bisa dibilang sebenarnya, pada dasarnya, aslinya, kisah serial. Yak! Kisah serial, dan Convinient High School adalah serial ke 5.
Lalu apa serial ke 1, 2, 3 dan ke 4nya?
Aku sudah cerita kan, setahun lalu adikku membuat panas hati dengan menyelesaikan 4 buku SIDU untuk ceritanya yang cuma satu. Ya, benar seperti yang ada di pikiran kalian, aslinya bukan satu cerita. Tapi 4 buku itu isinya kisah serial per buku. Berbagai cerita yang masih terkait satu sama lain dengan tokoh yang sama.
Serial pertama judulnya Love in I.A.S High School. Kisah detektif-detektifan juga, kayak Convinient High School.
Serial kedua judulnya Airen, dengan tokoh yang sama dan lanjutan cerita sebelumnya namun kali ini terfokus ke kisah asmara.
Serial ketiga judulnya Otority, ada satu tokoh utama yang tidak main (tokoh ini juga ada di Convinient High School) dan kisah ini yang paling dapat pujian dari teman-temannya meski semua teman-temannya bertanya dimanakah si tokoh utama di cerita ini?
Serial keempat judulnya Soru, dan kisah inilah tokoh yang mengkaitkannya Convinient High School muncul. Si tokoh utama dari serial pertama dan kedua yang tidak muncul di serial ketiga dan berganti nama di serial ini. Siapakah diaaaaa??? Dia adalah Seiji Amano!
Yak! Seiji Amano, detektif jepang iseng, jail dan suka mengerjai Dylan ini adalah tokoh bentukan adikku. Aku ingin juga mengerjakan kisah lanjutannya, namun dengan tokoh-tokohku sendiri sebagai tokoh utama. Aku menyebutnya serial ke 5. Karena adikku sudah keburu menyelesaikan buku ke 4 dan dan jika aku tak segera menyelesaikan Convinient High School, mau gak mau dia akan menyelaku lagi karena dia sudah memiliki ide untuk cerita ke 6. Aku juga, sebenarnya sudah memiliki ide untuk cerita ke 7 makanya kalau Convinient High School gak segera ditulis, maka tidak akan bisa ditulis lagi untuk selamanya.
Jadi, dengan Seiji Amano, aku menulis cerita ini.
Intinya, Seiji Amano bukanlah sekedar tokoh biasa di Convinient High School, dia pun memiliki kisahnya sendiri yang berliku di buku-buku sebelumnya. Namun, kalian tak perlu membaca serial sebelumnya untuk mengerti cerita Convinient High School, karena Convinient High School bisa dibilang hanya masa istirahat Seiji Amano untuk nantinya bertemu dengan masalahnya sendiri lagi di serial ke 6.

3 komentar:

iis_chan_himura mengatakan...

wah yuki jd tambah penasaran dg cerita serial yg dbwt adikmu.

lebaai mengatakan...

kakak beradik emang hobi dan bakat nulis ya? hebat hebat hebat!!!

Mufidatul Ilmi mengatakan...

maaf baru komen.. baru punya kesempatan untuk komen..
sudah dari lama suka sama cerita CHS, tapi sekarang buka lagi ternyata belum ada lanjutan ceritanya...
dari kecil memang suka sama misteri dan detektif, bahkan sekarangpun masih menyimpan mimpi menjadi seorang detektif.. kenapa gak dibukukan saja cerita dari serial 1 sampai terakhir ??? pasti banyak pembaca yang mendukung kok, karena kepuasan seorang pembaca adalah ketika bacaan favoritnya bisa dibawa kemana mana dan bisa dibaca berulang-ulang dimanapun,, sedangkan kalau di internet, berarti butuh koneksi. jadi sebagai salah satu pengagum dan pembaca setia mu, tolong dipertimbangkan untuk dibukukan ya.. ilmi tunggu kabarnya segera. semangat menulis :)